Maklumat PP Muhammadiyah tentang Awal Ramadhan dan Idul Fitri 1436 H

Majelis Tarjih Muhammadiyah dikenal
sebagai lembaga yang sangat kental dengan sikap konsisten pemakaian
dalil-dali al-Qur`an dan hadits-hadits shahihah/al- maqbuulah, tapi
khusus dalam penentuan awal bulan Ramadhan dan awal Syawal dan Zulhijjah
sejak tahun 2000 merajih hadits shahih yaitu hadits “Shumu
li rujyatihi waaf tiruli rukyatihi” riwayat Imam Buhari dan Muslim
dan memilih pemecahan secara ilmu pengetahuan. 

Padahal dalam model (manhaj)
istinbatnya Majlis berlandaskan pada pendekatan bayani, burhani dan
irfani secara berurutan (kronologis), dari sikapnya itu seolah-olah
Majelis langsung memakai pendekatan burhani secara sharih tanpa
memperhatikan pendekatan bayani, padahal ada hadits shaheh yang
berfungsi sebagai bayan dalam menetukan/mengawali puasa. Tidak pelak
lagi kritik yang lebih tajam mengarah pada Majelis Tarjih, bahwa Majelis
Tarjih Muhammadiyah mulai melangkahkan kakinya masuk pada ranah
“ingkarus-sunnah”.

Dalam
menyikapi kritik ini, Majelis tidak bergeming tapi mampu menyipaki
dengan arif sehingga semua pihak dapat menghormati dengan baik.

Majlis Tarjih
berpendapat bahwa masalah penentu awal bulan qomariyah, khususnya dalam
mengawali bulan Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah adalah masalah taaquli,
bukan ta‟abudi, artinya hal itu termasuk otoritas akal manusia bukan
otoritas Tuhan, bukan otoritas kerasulan dan kenabian yang oleh nabi
diserahkan kepada manusia hadits “antum a’lamu biumuri dunyakum”

Bagi
Tarjih Muhammadiyah paling jauh, hadits-hadits shaheh tentang “shuumu
lirukyatihi… tersebut berfungsi sebagai irsyaad, karena jika ditilik
dari sejarah yang melingkupi (sababul-wurudl) hadits-hadits tersebut
marupakan reaksi basuariyah Rasulullah terhadap laporan sahabat yang
telah melihat hilal, kemudian nabi membenarkan kebiasaan masyarakat
menandai datangnya bulan baru tersebut dengan melihat hilal karena saat
itu belum ada ilmu hisab. Seperti halnya penggunaan arloji sebagai
produk iptek sebagai penentuan sudah atau belum masuk waktu shalat,
sekalipun secara tegas dalam al-Qur`an Surat al Isra` ayat 78
diperintahkan :

4 Artinya : “Dirikanlah shalat sesudah matahari berkulminasi”.

Demikian
juga perintah Khalifah Utsman bin Affan kepada tim (empat orang) untuk
merperbanyak naskah Al-Qur`an sebanyak 5 (lima) naskah/mushkhaf dengan
tulis tangan dan didokumentasikannya guna mentashih yang berada/beredar
di mastarakat, sekarang orang menulis dengan komputer yang lebih
menjamin akurasinya

  • Muhammadiyah berpendapat bahwa penentuan tanggal 1 Ramadhan dan 1
    Syawal adalah domain ilmu pengetahuan, yang nabi telah serahkan
    urusan itu kepada manusia sebagaimana sabdanya “antum a‟lamu bi umuri
    dunyakum”;
  • Hadits shahih “shuumu lirukyatihi wa afthiruu li rukyatihi” walaupun
    menggunakan shighat amar (perintah) dimaksudkan lil-irsyaad (berfungsi
    petunjuk) bahwa nabi membenarkan yang dipahami masyarakat pada saat itu
    bahwa melihat hilal sebagai tanda pergantian bulan dari bulan lama
    kepada bulan baru, karena saat itu belum mengetahui ilmu hisab. Hadits
    “kunna ummatun ummiyatun laa naktubu wala nahsibu, wasy syahru haa kadza
    wa haa kadza, fain ghumma alaikum faqduruulah”;
  • Tarjih Muhammadiyah meyakini kebenaran hisab haqiqi (kontemporer)
    sebagaimana yakinnya terhadap jadwal-imsakiyah sebagai produk ilmu
    hisab; dengan acuan Ijtima’ sebagai batas kulminasi awal dan akhir bulan
    qomariyah dengan criteria yang diistilahkan “wujudul hilal” sebagai
    penetapan awal bulan- bulan qomariyah.


PP Muhammadiyah telah mengeluarkan keputusan tentang penetapan 1 Ramadhan 1436 H dan 1 Syawal 1436 H.

Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah bahwa 1 Ramadhan 1436 H bertepatan
dengan hari kamis, 18 Juni 2015 M dan Idul Fitri 1 Syawal 1436 H bertepatan
dengan hari Jum’at , 17 Juli 2015 M.