Biksu Radikal Ashin Wirathu Samakan Dirinya Dengan Tokoh James Bond 007

YANGON – Nama Ashin Wirathu mendadak populer lagi setelah muncul ribuan pengungsi etnis Rohingya di Aceh. Biksu radikal tersebut selama ini disebut menjadi otak pengusiran dan pembersihan etnis Rohingya dari Myanmar. Tidak salah, majalah Time sampai menjulukinya sebagai Buddha Bin Laden.
Sikapnya yang keras terlihat dari berbagai pernyataannya yang terus menyerang kaum Muslim Rohingya yang menjadi minoritas di Myanmar. “Banyak Muslim menghancurkan negara kami, rakyat kami, dan agama Buddha,” cetus Wirathu.
Dalam wawancara dengan Los Angeles Times pada Ahad (24/5/2015), Wirathu merasa julukan Osama Bin Laden dari Burma kurang tepat. Dia malah mengidentifikasi dirinya yang memiliki kesamaan dengan tokoh mata-mata fiksi paling terkenal di dunia, yaitu James Bond.

“James Bond adalah seorang nasionalis,” katanya sambil berkedip dan tersenyum seraya mengingat film agen 007 tersebut. “Ia melakukannya untuk negaranya.”
Biksu berusia 46 tahun tersebut seolah menggambarkan dirinya yang bersikap keras terhadap etnis Rohingya sebagai upaya untuk melindungi negara. Dia dengan tegas membela Myanmar dari musuh utamanya yang diidentifikasi sebagai kaum Muslim.

Gara-gara sikap itu, kaum Rohingya harus eksodus dari negaranya dengan menggunakan perahu nelayan yang penuh sesak menuju Thailand dan Malaysia, serta terdampar hingga di Indonesia.

Dalam pidato dan tulisan yang diunggah di Facebook miliknya, Ashin telah memperingatkan kelompoknya akan sebuah ‘jihad’ guna melawan mayoritas Buddha. Dia juga menyebarkan desas-desus secara sistematis bahwa orang Muslim telah memperkosa perempuan Buddha.

Tidak hanya itu, ia menyerukan boikot bisnis milik pengusaha Muslim. Penganut ajaran Buddha yang baik, menurut dia, tidak harus berinteraksi sosial dengan umat Islam, yang dilabelinya sebagai ‘ular’ dan ‘anjing gila’.
Upaya Ashin memerangi etnis Rohingya tidak hanya sampai di situ. Dia merupakan ujung tombak dalam diskriminasi agama di Myanmar, yang mendorong sekitar 1 juta etnis minoritas Muslim tersebut semakin dalam tekanan.

Kelompok hak asasi manusia internasional mengatakan, Ashin dan gerakan radikal yang dipimpinnya, 969, sukses memicu kerusuhan sektarian yang menewaskan puluhan orang sejak 2012. Sekitar 100 ribu orang Rohingya telah dipaksa menghuni kamp yang kondisinya memprihatinkan dengan kekurangan gizi di negara bagian barat Rakhine. Keadaan semakin memburuk setelah bantuan dari luar berhenti karena pemerintah mengusir kelompok bantuan asing pada tahun 2014.
Wirathu memainkan peran sentral dengan pidato kebenciannya dan Islamofobia yang diciptakan, mengingat bahwa Rohingya dikelilingi oleh komunitas bermusuhan yang dapat melecut menjadi kekerasan dengan sangat cepat,” kata Direktur Inisiatif Kejahatan Internasional Negara di Queen Mary University, London yang juga penulis laporan tentang Myanmar. (sp/republika)