Salah Satu Alasan BNPT, Dilarang Menyebut Kata “Kafir” Kepada Non-Muslim

Pada acara Kabar Indonesia Pagi TVOne minggu lalu ada diskusi tentang pemblokiran situs media Islam. Pak Irfan Idris
(BNPT)  menyampaikan kalau dalam paham radikalisme, syarat kriterianya
mengajarkan paham takfiri, mengkafir-kafirkan, membahas jihad secara
sempit. Irfan mengakui, situs-situs Islam yang diblokir pemerintah itu
memang melawan pemikiran ISIS dan tidak sedikit dari website-website itu
yang ikut membenci organisasi radikal tersebut. Akan tetapi, di antara
halaman web cenderung mengharamkan demokrasi dan mengkafirkan
pemerintah. 
Beliau mengutarakan kalau ada aduan masyarakat untuk
memblokir situs tertentu. Beliau juga terlalu melebar menjelaskan.
Masalah khilafiyah dibawa-bawa, situs yang diblokir juga menghakimi
kelompok lain, membid’ahkan kelompok tertentu, anti tahlilan. Ustadz
Budi membantahnya langsung, masalah khilafiyah sudah ada sejak sebelum
Indonesia merdeka. Jangan melebar dari kasus ISIS ke khilafiyah.
Salah satu sikap radikal yang berbahaya adalah menyebut orang yang beragama selain Islam dengan Kafir. Demikian kata salah satu pejabat Kemenkominfo saat kami mendatangi mereka untuk meminta penjelasan…Jadi, inginnya mereka, gak boleh ada kata kafir untuk non muslim. Nah..jadi semakin jelas. Tulis ustadz Budi Marta (Pimred GemaIslam.com) pada akun facebooknya. (sangpencerah)