Rasionalitas Islam dan Mistisme Budaya Jawa


Saya tinggal di sebuah desa terpencil di lereng gunung Slamet. Saya teringat sewaktu kecil, masyarakat sekitar masih kental dengan budaya jawa. Menjelang panen tembakau, masyarakat akan melakukan “upacara” yang disebut dengan kenduri. Setiap keluarga yang sudah hamper panen, maka ia akan selametan, mengundang para tetangga untuk makan bersama dengan tumpeng lengkap dengan ayamnya. Kemudian, potongan tumpeng tadi dengan ditambahi sesajen khusus yang terdiri dari ketan item, ketan putih, kepala ayam, klepon dan juwadah pasar lainnya akan dibawa ke lading dan ditaruh pas di tengah-tengah ladang. Kemudian mereka akan memetik seikat daun tembakau untuk digantungkan di atas pintu rumah. Konon, ini dapat menjadikan panen tembakau menjadi baik.

Ketika hendak membangun rumah, mereka melaksanakan selamatan, lalu mereka akan menanam pohon pisang tepat di tengah-tengah rumah mereka. Disekitar pohon dihiasi dengan berbagai makanan sebagai sesaji. Konon agar rumah dapat berdiri kokoh dan lepas dari bala dan musibah.

Ketika bulan Suro, masyarakat akan melaksanakan acara wayangan selama tiga hari tiga malam. Mereka juga akan menyembelih sapi untuk dijadikan persembahan bagi leluhur. Kepala sapi dan kaki-kakinya akan ditanam di peremnpatan jalan, sementara itu, atasnya akan ditaruh sesajen. Konon ini juga dapat menyelamatkan kampung dari bala. Mereka juga melakukan pesta “nyadran”; makan bersama satu kampung di makam leluhur. Konon ini sebagai wujud penghormatan dengan para leluhur.

Sementara itu, dalam melaksanakan berbagai aktivitas sehari-hari, mereka berpedoman dengan kitab primbon. Apapun agenda yang direncanakan harus dikalkulasikan secara matematis lewat primbon. Pernikahan, khitanan, bercocok tanam, bahkan membangun rumah, hingga kemana rumah harus menghadap, juga dirujuk dari kitab primbon. Kitab ini memang “kitab suci” mereka, karena diamalkan dalam semua aktivitas kehidupan. Sementara Quran cukup jadi bacaan layaknya Koran saja.

Katakanlah secara kalkulasi primbon, awal cocok tanam jatuh pada jam 12 malam, meski badai hujan petir, mereka tetap akan ke ladang dan mulai menanam. Jika punya putri, lantas ada pemuda yang hendak melamar, meski secara pribadi, pelamar adalah selaki yang salih, tampan, keluarga bangsawan pula, namun jika kalkulasi tidak cocok, maka ia akan ditolak. Keluarga putri akan menanyakan, “Kamu anak nomor berapa, dari berapa bersaudara, laki-lakinya berapa, perempuan berapa, asalnya dari mana, rumah menghadap ke mana? Lantas mereka akan kembali membuka “kitab suci primbon”, untuk dikalkulasi secara matematis. Jika tidak cocok, maka tertolaklah pria tampan tadi.

Saya jadi tanda tanya, sedemikiankah rumitnya kehidupan mereka? Bukankah mereka seorang muslim? Namun mengapa rujukan kehidupan mereka bukan Quran Sunnah, namun justru kitab primbon?

Begitulah penganut kejawen berprilaku. Jika yang mengamalkan rpimbon adalah mereka yang tidak tau Islam, barangkali masih “sedikit” dapat dimaklumi. Anehnya, kadang mereka lulusan pesantren. Saya jadi bertanya-tanya, sesungguhnya ada apa? Sedemikian kuatkah “doktrin” kejawen sehingga dapat menyingkirkan keberislaman seseorang? Sedemikian kuatkah pengaruh nenek moyang sehingga mereka takut menyalahi? “Takut jika tidak melakukan tradisi yang sudah puluhan tahun berlaku, lantas benar-benar terjadi bencana. Naasnya lagi, tiap kali terjadi musibah, selalu dikaitkan dengan primbon, entah karena lupa dengan slametan, lupa menaruh sesajen dan lain sebagainya. Sikap mereka ini persis dengan firman Allah, “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. ( az-Zukhruf: 23)

Jika kita mau menilik ajaran Islam, sebetulnya agama ini sangat rasional, simpel dan berlaku bagi siapapun dan kapanpun. Dalam urusan dunia, bisnis, bercocok tanam, bekerja dan lain sebagainya, Islam hanya memerintahkan untuk bersikap profesional. Nabi pernah bersabda, “Jika kalian melakukan suatu perbuatan, maka kerjakanlah secara profesional”. Rasul  juga bersabda, “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian”.

perintah Rasul tersebut sangat jelas, bahwa dalam setiap perbuatan dunia, kita kerjakan dengan sungguh-sungguh dan professional. Jika hendak membangun rumah, buiar tidak roboh, maka bangun secara professional. Tidak dengan memberikan sesaji kepada leluhur. Jika hendak bercocok tanam, bercocok tanam secara professional, lihat kualitas tanah, tanaman yang cocok, pasaran yang ssedang bergairah dan lain sebagainya. Slametan dan kenduri sama sekali tidak mempengaruhi terhadap kualitas tanaman. Jika mencari jodoh, pilih orang saleh, sukur-sukur dia tampan, dari keluarga bak-baik dan mapan secara finansial. Hari nikahnya kapan saja, disesuaikan dengan kondisi, waktu dan tempat pelaku. Semuanya serba simple dan rasional. Selain itu, kaedah terpenting dalam mencari nafkah adalah sesuai dengan tuntunan syariat dengan memperhatikan halal atau halal sumber penghidupan.

bencana alam, sesungguhnya datang dari Allah. Jika Allah berkehendak, apapun bisa terjadi. Tugas manusia adalah mencari berbagai sarana agar bencana dapat dihindarkan. Selain karena faktor alam, memang bencana terkadang akibat dari ulah manusia, seperti banjir, polusi, tanah longsor dan lain sebagainya. Firman Allah, Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar ) ( Q.S.Ar-Ruum : 41). Dengan kata lain, bahwa tidak ada hubungan sama sekali antara bencana alam dengan kelalaian manusia memberikan sesajen kepada alam.



Jika demikian simpelnya ajaran Islam, lantas mengapa harus mengikuti tradisi jawa yang demikian rumit? Artinya, suatu perbuatan yang bisa dipermudah dan simple, mengapa harus diperumit?


Kita mempunyai kitab suci al-Quran dan sunnah nabi. Dua pusaka itu yang sejatinya menjadi penuntun bagi kita dan menjadi obor yang akan menunjukkan jalan yang benar kepada kita, bukan primbon. Jika amal perbuatan kita kembalikan kepada keduanya, niscaya akan selamatlah hidup kita. Selamat di dunia, sukses dalam berinteraksi dengan sesame dan juga selamat diakhirat dengan mendapatkan rahmat-Nya dan masuk ke dalam surganya.


Saya bersyukur, bahwa dengan peningkatan pendidikan, perilaku masyarakat jadi berubah. Generasi tua memang masih kental dengan mistisme, sementara generasi muda yang sudah melek pendidikan, semakin rasional. Hal-hal mistis yang dulu menjadi bagian dari tradisi masyarakat, semakin susut. Tugas selanjutnya adalah menuntun masyarakat agar merujuk semua persoalan kepada kitab suci al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad.

Oleh : Ustadz Wahyudi Abdurrahim