Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Gelar Refleksi Peringati Hari Kartini


YOGYA – Menyambut peringatan hari Kartini yang jatuh tanggal 21 April, Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) menggelar refleksi senja dengan tema ‘Sudut Pandang Emansipasi’ pada Senin (20/4/2015) di aula gedung PP Muhammadiyah,Jl. KHA Dahlan Yogyakarta. Refleksi diikuti puluhan kader Nasyiatul Aisyiyah dengan mengenakan kebaya dan juga memakai kacamata yang dibagikan kepada peserta sesaat sebelum dimulai acara.

Ketua Umum PPNA, Norma Sari, S.H., M.Hum. mengatakan kebaya dimaksudkan sebagai simbol bahwa adat/budaya tidak menghalangi perempuan untuk berjuang dalam mencapai emansipasi. Sedangkan kacamata sebagai simbol untuk memberikan sudut pandang baru tentang emansipasi perempuan. Kacamata membuat pandangan tegap dan utuh sehingga dapat lebih jernih memaknai apa yang terjadi dengan hari Kartini.

Menurut Norma, kader Nasyiah hendaknya kembali memaknai minad-dzulumati ilannur, potongan ayat Al Qur’an yang bermakna dari gelap menjadi cahaya, yang menjadi landasan sebenarnya gerakan Kartini. Sudah seabad lebih Ibu Kartini memperjuangkan emansipasi, mengusahakan pendidikan dan pengajaran bagi perempuan. Kartini adalah seorang reformis pemikiran yang telah membagikan ide-idenya, mengkritisi permasalahan sosial, agama, dan budaya.

Zaman telah berubah, tetapi subordinasi terhadap perempuan masih terjadi dengan jamak di berbagai lini, baik di bidang agama, politik, hukum, hingga budaya pop. Sekarang eranya globalisasi, era keterbukaan informasi dimana terjadi information overloaded sehingga perempuan perlu belajar literasi informasi agar terampil dalam menggunakan sumber informasi. Dengan demikian perempuan dapat semakin peka dan kritis terhadap segala permasalahan sosial yang terjadi. Ini menjadi sebuah tantangan bagi perempuan.

Kaum wanita harus semakin cerdas, termasuk menyikapi trend budaya pop maupun berbagai jeratan manis dunia kapitalis dan hedonis. Selama ini tidak sedikit iklan dan penjualan produk yang menyertakan perempuan sebagai ‘pendamping produk’. Bukan barang baru bagi kita mendapati tubuh perempuan dijadikan komoditi. Kapitalisme telah menjelma sebagai perayu bagi para perempuan untuk menjadi penampil tubuh, sekaligus dicerca sedemikian rupa oleh sistem yang sama saat menjual penutup tubuh. 
Pop Culture ini akhirnya menjadi musuh bersama, baik bagi penutup aurat maupun ‘pembuka aurat’ tanpa disadari. Dengan berpegang pada spirit emansipasi yang digagas Kartini, kaum wanita harus memulai kerja – kerjanya manggeser stigma dan paradigma patriarkhi di negeri ini.

Norma mengatakan pada refleksi perjuangan Kartini ini, kader Nasyiah harus sadar bahwa Kartini telah mengawali perjuangan mencapai kesetaraan. Kader Nasyiah hendaknya bisa melakukan konstektualisasi perjuangan Kartini agar Nasyiatul Aisyiyah dapat menjadi elemen bangsa yang tangguh dan konsisten berjuang untuk peradaban bangsa yang ramah perempuan, sesuai tagline Nasyiah ramah perempuan dan anak.(sangpencerah.id)