Minimarket di Kabupaten Bandung tak Lagi Jual Miras

SOREANG – Pemerintah Kabupaten Bandung terus mengawasi keberadaan minuman keras di sejumlah minimarket. Hal itu menyusul adanya larangan peredaran minuman keras di minimarket dari Kementerian Perdagangan.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Bandung, Popi Hopipah mengatakan, pada hari Rabu (15/4) pihaknya sudah mendapat surat pemberitahuan dari Kemendag tentang pelarangan penjualan minuman keras. Menindaklanjuti surat tersebut Popi akan segera membentuk tim pemantau.
“Takutnya masih ada minimarket atau toko yang jual minuman keras. Kita juga sudah minta bantuan ke camat untuk ikut mengawasi. Kalau untuk supermarket sudah tidak ada. Tinggal di minimarket saja yang belum diperiksa,” ujar Popi, Kamis (16/4/2015).
Popi mengungkapkan, sebelum adanya pelarangan dari Kemendag, Kabupaten Bandung juga sudah memiliki Perda nomor 9 tahun 2010 tentang Larangan Minuman Keras. Penjualan minuman keras hanya boleh dilakukan di hotel atau restoran. Itu pun harus dengan seizin dari Diskoperindag.
“Kalau mau jual miras di atas lima persen harus ajukan dulu izinnya. Itu pun minumannya hanya boleh diminum di situ. Tidak boleh dibawa keluar. Tapi sampai sekarang belum ada yang ajukan,” katanya.
Jika di hotel atau restoran masih ada yang menjual tanpa memiliki izin, lanjut Popi, pihaknya akan memberikan sanksi. Dalam Perda tersebut dijelaskan sanksi yang diberikan yakni kurungan paling lama enam bulan atau denda setinggi-tingginya Rp 50 juta.
Larangan menjual minuman keras tersebut ternyata sudah ditaati sejumlah minimarket di Kabupaten Bandung. Pihak minimarket mengaku sudah mendapat surat edaran agar tak menjual minuman keras.
“Dari awal tahun kita sudah enggak jual bir dan minuman keras lainnya. Tahun kemarin kita memang masih jual bir. Tapi setelah tahu aturan itu sekarang dihentikan,” ujar Eka Priyani (26), salah seorang pegawai minimarket di Jalan Cipatik-Soreang.
Menurut dia, pelarangan penjualan minuman keras tak terlalu berdampak terhadap pendapatan minimarket. Soalnya, para konsumennya di Soreang sangat jarang membeli minuman keras. Pemasukan dari minuman keras pun hanya 5 persen dari pemasukan keseluruhan.
“Bukan pemasukan yang utama. Jadi pelarangan itu enggak berpengaruh. Warga juga mendukung karena kita tidak jualan bir lagi,” katanya. (sp/pikiranrakyat)