KETIKA AMAL USAHA ITU BERBISIK, “Sesungguhnya Kami Hanya Fitnah (cobaan) Bagimu !

Ustadz Fathurrahman Kamal,Lc,MA
Sahabat Mulia, 
Sembari rehat di tengah rutinitas menunaikan amanah Prodi siang hari ini, sahabatmu yang dlo’if ini mengajak panjenengan menyimak sekaligus menimba ilmu dari Telaga Hikmah Ibnu Athaillah rahimahullah, semoga bermanfaat !. Amin amin amin
ماَ أَرَادَتْ هِــمَّةُ ساَلِكٍ أَنْ تَقِفَ عِنْدَ ماَ كُشِفَ لَهاَ – إِلَّا وَناَدَتـْــهُ هَوَاتِفُ الحَقِيْقَةِ : الَّذِي تُطْلُبُ أَماَمَكَ ، وَلاَ تــَبَرَّجَتْ لَهُ ظَوَاهِرُ المُـــكَوِّناَتِ – إِلاَّ وَناَدَتْهُ حَقَائِقُهَا : إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ
Tidaklah himmah seorang salik (yang melakukan perjalanan ruhiyah kepada Allah) berhenti ketika berbagai tabir ter-singkap lebar di hadapannya kecuali getaran hakekat menyeru kepadanya, “Yang kau cari (masih jauh) di depan mu!”. Pun pula ketika berbagai pesona alam tampak menggodanya, hakekat (yang tersimpan) dalam pesona-pesona itu akan berseru :” “Sesungguhnya kami hanya fitnah (cobaan) bagimu, sebab itu janganlah kamu kafir!”. (QS Al-Baqarah : 102)
Para ilmuwan dan pemikir menjelaskan bahwa segala apa yang dilakukan oleh manusia dalam hidupnya berupa aktivitas ilmiah, sosial, politik, ekonomi, budaya dan seterusnya sesungguhnya merupakan ekspresi autentik dari pandangan hidupnya yang berbasis di atas keyakinan ketuhanan. Mereka mangatakan, keimanan terhadap eksistensi Tuhan merupakan sesuatu yang bersifat mutlak ada dalam kehidup-an umat manusia; dengan demikian mereka dapat menyadari bahwa hidup ini memang memiliki tujuan dan bermakna.
Penjelasan ini meniscayakan pemaham-an bahwa etika dan moralitas kemanu-siaan bukan sekedar bersifat kesepakat-an manusiawi yang dihasilkan berdasar kan pendekatan-pendekatan rasional; tetapi lebih jauh dari itu, etika dan moralitas tidak lain dari konsekwensi logis dari keimanan kepada Allah . Dalam istilah lain, inilah yang kita sebut sebagai “pandangan hidup”, “world-view” atau “al-tashawwur” dalam bahasa Arab.
Dalam perspektif Islam, Abu al-A’la al-Maududi membantu kita memahami makna pandangan hidup tersebut. Katanya, pandangan hidup Islam (Islami nazariat) dapat dijelaskan sebagai pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (syahadat) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan kita di dunia. Sebab shahadat adalah pernyataan moral yang mendo-rong kita untuk melaksanakannya dalam kehidupan ini secara menyeluruh.
Syed Naquib Al-Attas menjelaskannya sebagai pandangan kita tentang makna al-wujud secara menyeluruh. Realitas dalam hakekat wujud baik yang dapat diindera (al-musyahadat) maupun yang tersembunyi (al-maghibat). Keduanya bagi kita yang mukmin sama-sama real dan nyata, baik secara inderawi maupun secara imani. Batas inilah yang tak mampu ditembus dan dicapai oleh kaum sekularis.
Sahabat mulia,
Pada hari Sabtu yang lalu (19 April 2014, Pkl. 10.00 sd 11.45) saya diberi amanah oleh teman-teman di Lembaga Pengkaji-an dan Pengembangan Studi Islam (LPSI) UAD untuk menyampaikan satu materi AIK mengenai “Tujuh Falsafah Ajaran KH Ahmad Dahlan” untuk mahasiswa Program Profesi Apoteker.
Falsafah pertama yang saya sampaikan ialah ajaran KH Ahmad Dahlan kepada murid-muridnya seratus tahun yang lalu :“Kita, manusia ini, hidup di dunia hanya sekali, untuk bertaruh : sesudah mati, akan mendapat kebahagiaankah atau kesengsaraankah?”.
Pada bagian lain beliau menggugah kesadaran mereka (termasuk kita generasi hari ini), “Bahkan kamu masih terpengaruh kehidupan dunia, masih memilih kehidupan dunia, belum bisa menghadap kepada Allah SWT, belum memilih Allah, dengan bukti masih cinta kepada harta benda, tidak suka mempergunakan harta benda untuk digunakan di jalan Allah. Kamu tidak menghargai anak yatim, tidak memberi makan kepada fakir miskin, masih membedakan antara orang kaya dan miskin. Apakah hasil dari dzikir kepada Allah?, apakah manfaatnya shalat?, apakah pengakuan sucimu?, terbukti bahwa kamu masih sangat kerap dengan kebiasaan dan cinta kepada harta benda.”
Ada lagi “puisi kematian” yang menggerakkan jiwa raga beliau untuk berbuat dan beramal, sehingga melahirkan karya monumental yang menjadi bagian dari saksi peradaban Islam di bumi Nusantara ini.
Tulisnya di atas secarik kertas, “Hai Dahlan, Sungguh bahaya yang menyusahkan itu lebih besar dan perkara-perkara yang mengejutkan ada di hadapanmu, dan pasti kau akan menemui kenyataan yang demikian itu, entah dengan selamat ataupun dengan kebinasaan. Hai Dahlan, bayangkanlah hanya dirimu sendiri berhadapan dengan Allah, sementara di depanmu ada maut yang menanti, ditampakkan segala urusan, penghitungan atas segala amal, juga ada surga dan ada neraka. Dan renungkanlah apa-apa yang mendekati-mu dari sesuatu yang ada di hadapanmu, yaitu maut, dan tinggalkanlah dari dirimu selain itu.”
Lakon kehidupan KH Ahmad Dahlan di atas menjadi potret hidup yang menghi-dupkan dan menggerakkan dari pandang an hidup beliau yang tak hendak berhenti dan tak dapat dihentikan oleh penampak an dunia yang spektakuler dan menggiur kan dalam menempuh jalan menuju Allah.
Petuah semakna juga saya peroleh dari Guru besar kami, Pendiri Pondok Modern Gontor, KH Imam Zarkasyi, yang selalu menginjeksi kimia spiritualnya kepada para santri, “Hidup sekali hidup lah yang berarti. Berani hidup, tak takut mati. Takut mati jangan hidup. Takut hidup mati saja!.”
Dalam perspektif hikmah Ibnu Athoillah, fakta kehidupan di atas mengajarkan kita makna keteguhan dalam menempuh jalan ke hadlirat Allah SWT dan sikap yakin terhadap apa yang berada di sisiNya, sehingga tidak mudah tertipu dan merasa‘ujub dengan berbagai pencapaian istimewa dalam perjuangan ini. Sikap “ingin dilihat dan dipuji”, baik dari dalam diri sendiri (‘ujub) dan dari pandangan orang lain (riya’), keduanya merupakan penghambat utama dan aral besar yang melintang di atas jalan spiritual menuju “penglihatan” dan “keridlaan” Allah .
Bagi seorang Salik (penempuh jalan ruhiyah menuju Allah ) yang tujuannya tak lain dari membuka segala tabir yang menutupi rahasia-rahasia keagungan Ilahiyah; seringkali terjebak pada suasana “batin” seolah-olah ia telah berhasil mencapai “mukasyafah” -terbukanya segala tabir rahasia Ilahiyah- yang hendak dicapainya. Bahkan ia cenderung lepas kontrol dan menganggap “pencapaian semu” tersebut sebagai “tujuan utama” dan “akhir ma’rifat-nya” kepada Allah.
Tentu, seorang Salik sejati takkan pernah terpedaya, karena “hakekat” sejati (realitas hakiki, meskipun keberadaannya tak terindera oleh kasat mata) akan segera mengirimkan sinyal melalui getaran jiwanya, “yang kau cari (masih jauh) di depanmu!. Jangan tertipu, teruslah berjalan !.”
Selain ujian internal tersebut, seorang Salik akan mengalami godaaan nyata dari pesona-pesona keindahan dunia yang spektakuler. Dalam QS Al-Kahfi : 7, Allah menegaskan, “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”
Pada ayat ke-46 dinyatakanNya, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.
Dalam QS Al-Hadid/57:20 Allah berfirman, “Ketahuilah, bahwa sesungguh nya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
Ketika berinteraksi dengan segala godaan pesona dan keindahan spekta-kuler duniawi tersebut, seorang Salik sejati hendaknya menyimak seruan hakekat pesona dan keindahan duniawi tersebut, seolah-olah mereka berkata, “Sesungguhnya kami hanya fitnah ( cobaan) bagimu, sebab itu janganlah kamu tertipu!. Jangan tertipu dan terpedaya membuatmu berhenti dari perjalanan spiritual yang apada akhirnya justeru menghijabmu dari ma’rifat kepada Allah.Palingkan pandanganmu dari pesona-pesona ini; jangan kau menoleh; teruslah konsisten pada jalan ruhiyah yang sedang kau tempuh.”
Jika himmah (kekuatan yang menggerak kan seorang salik untuk terus berjalan menuju Allah) seorang Salik benar dan autentik, tidak berpura-pura dan tidak pula kampuflase, ia akan terus berjalan dan takkan gedhe rumongso bahwa ia telah berhasil mencapai segala tujuan hidupnya; ia akan terus istiqamah menuju tujuan sejatinya : Allah, dan bahkan pesona spektakuler dunia tak ngaruh sedikitpun, apalagi sampai membuatnya disorientasi.
Sebagai ikhitar menata dan menjaga stamina spiritual kita dalam menempuh perjalanan kepada Allah (suluk) sebagai-mana ucapan nabiyullah Ibrahim dalam QS.Al-Shaffat/37:99, : “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabb-ku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku,” mari kita renungkan pesan-pesan Syaikh Abu Hasan Al-Syusturi, seorang tokoh Shufi (l. 610 H dan w. 668 H) berikut ini :
“Dan janganlah kau menengok sesuatu yang terus berubah, Karena segala sesuatu selain Allah itu bersifat berubah-ubah, maka jadikanlah dzikrullah sebagai benteng pertahanan mu. Setiap maqam (posisi atau tingkatan spiritual) yang berhasil kau raih, jangan lah kau terpedaya karena ia dapat menjadi tabir yang justeru dapat menghalangimu dari Allah. Bersungguh lah dalam menempuh perjalanan suci ini dan mohonlah pertolongan kepadaNya. Meskipun segala tingkatan tampak jelas di hadapanmu, buatlah pembatas yang dapat menjaga dirimu. Katakan kepada Allah : Sungguh tiada yang kucari selain Dzat-Mu ya Allah, tiada gambar yang tampak dan tiada ujung harapanpun yang kuraih selain dariMu”.
Tampak dalam petuah tersebut, kita diajar untuk meletakkan Allah di atas segala apapun. Senada dengan wejang-an Al-Syusturi di atas, Syaikh Abu Hasan Al-Syadzili (l. 571 H dan w. 656 H). Kata beliau, jika kita menginginkan kemuliaan yang diraih oleh para kekasih Allah (awlia’) sepatutnya kita dapat menolak manusia seluruhnya, kecuali orang-orang yang tulus menunjukkan kita jalan menuju Allah dengan petunjuk yang benar, amal-amal yang kokoh yang tak kurang suatu apapun dari tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Semestinya kita memainkan peran di dunia sebagai hamba Allah, dan bukan penghamba dunia!
Sahabat mulia,
Dalam konteks ini kita wajib berikhtiar untuk berpaling dari godaan dunia yang memperdaya, bahkan kitapun dituntut untuk menunjukkan perlawanan kepada siapapun yang menjadi musuhNya.
Sepatutnya kita menyadari bahwa warna dasar tabiat kemanusiaan kita teramat jauh dari keterangan di atas. Bahkan sifat dan tabiat dasar inilah yang justeru menjadi hijab atau terselubungnya segala rahasia dan hikmah Ilahiyah yang hendak kita raih dalam perjalanan spiritual ini. Tidak perlu risau dan galau, mari kita mohon kepada Allah agar Ia menjauhkan kita dari tabiat keburukan ini, lalu berikhtiar merapat kepada Sifat-Sifat Ilahiyah yang dapat kita transformasikan ke dalam bangunan kemanusiaan kita.
Dengan begitu, barangkali kita mencapai maqam di mana, seolah-olah, Allah menyeru kita : “Tunduklah terhadap hukum-hukumKu, tinggalkan segala sikap membangkang kepadaKu, istiqamah-lah dengan kehendakKu dengan membuang jauh segala kehendak rendah dirimu. Inilah sejatinya rububiyah (kemahakuasaan) yang melindungi ‘ubudiyah (kehambaan yang tak berdaya); jadilah kamu bagai seorang hamba sahaya yang dikuasai tuannya yang tak sanggup melakukan apa-apa; jika kau merasa sok berkuasa, maka Aku campakkan dirimu kepada kekuasanmu itu; sungguh Aku Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Inilah posisi dan keadaannya yang sepantasnya secara mendalam kita hayati dengan akal spiritual kita, bukan sekedar pemahaman kognitif yang seringkali melalaikan kita dari tujuan dan hakekat hidup yang sebenar-benarnya.
Lalu, dalam konteks kehidupan kekinian saat ini, apa makna dan ajaran yang dapat kita refleksikan, baik pada tataran individu maupun pada ranah publik dan kebangsaan kita yang semakin luntur dan mengalami korosi akut?.
Mari kita cermati pencapaian-pencapai an kita di Persyarikatan Muhammadiyah, yang penulis nukil dari muhammadi-yah.or.id (21 april 2014) berikut ini : TK/TPQ (4.623), Sekolah Dasar (SD)/MI (2.604), Sekolah Menengah Pertama (SMP)/MTs (1.772), Sekolah Menengah Atas (SMA)/SMK/MA (1.143), Pondok Pesantren (67), Perguruan Tinggi (172), Rumah Sakit, Rumah Bersalin, BKIA, BP, dll (457), Panti Asuhan, Santunan, Asuhan Keluarga, dll. (318), Panti jompo (54), Rehabilitasi Cacat (82), Sekolah Luar Biasa/SLB (71), Masjid (6.118), Musholla (5.080), dan tanah seluas 20.945.504 M².
Siapa yang tidak “silau” dengan karunia Allah yang diamanhkanNya di atas pundak para pengurus Persyarikatan Muhammadiyah?.
Dalam perspektif pembacaan diri (muhasabah) pada lakon kehidupan KH Ahmad Dahlan, apakah tujuan kita ber-Muhammadiyah sekedar meraih capaian-capaian infrastruktur dan peningkatan aset serta penambahan modalitas bisnis apa adanya?
Apa makna semua itu dalam konteks wejangan pendiri Persyarikatan ini, “Kita, manusia ini, hidup di dunia hanya sekali, untuk bertaruh : sesudah mati, akan mendapat kebahagiaankah atau kesengsaraankah?”.
Adakah jawaban kita sesuai dengan apa yang ada dalam relung jiwa beliau yang terdalam? Mana di antara dua kata terakhir pada wejangan tersebut yang lebih dekat dan pantas bagi realitas “kemuhammadiyahan” diri kita sendiri hari ini?
Apakah pencapaian-pencapaian tersebut memang menjadi tujuan yang kita pertaruhkan dalam hidup ini? Ataukah sekedar instrumental dan alat perjuangan kita dalam menegakkan kalimat : Lâ ilâha illa-Llâh?
Pernahkah kita menyimak dengan indera pendengaran dan mata batin spiritual kita, di mana semua pencapaian spektakuler itu berbisik halus, ”Wahai para pemimpin, anggota pimpinan, warga dan segenap simpatisan Muhammadiyah : tujuan hakiki kalian masih jauh di depan sana! Sesungguh nya kami hanya fitnah (cobaan) bagi kalian, sebab itu janganlah kalian tertipu!. Jangan tertipu dan terpedaya lalu membuat kalian berhenti dari perjalanan spiritual yang pada akhirnya menghijab kalian dari ma’rifat kepada Allah. Palingkan pandangan kalian dari pesona-pesona kami; jangan kalian menoleh; teruslah konsisten pada jalan ruhiyah yang sedang kalian tempuh!.
Sahabat mulia,
Inilah keteladanan yang secara nyata terbaca terang dalam cakrawala sejarah masa lalu Persyarikatan ini!. Wallahu A’lam bish-Shawab.