Kapolri: Identifikasi Teroris Bukan Dari Celana Cingkrang dan Jenggot


JAKARTA – Menanggapi maraknya warga Indonesia terlibat ISIS, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan, menilai seseorang terlibat terorisme atau tidak, bukan dari celana cingkrang dan berjenggot. Badrodin mengatakan paham ISIS atau IS jauh lebih berbahaya ketimbang Al Qaeda.
“IS itu berpaham takfiriah, yang artinya semua orang di luar kelompoknya dianggap kafir dan bisa diperangi. Deteksi dini mereka itu hanya dengan dialog. Tidak bisa hanya dengan karena celananya ngatung (di atas mata kaki) dan berjenggot, lalu dicurigai IS,” bebernya, di Jakarta, Minggu (26/4/2015).
Hal ini berbeda dengan Al Qaeda yang menyasar segala hal kepentingan Barat terutama Amerika Serikat. Sedangkan ideologi IS dinilai lebih keras.
Lebih lanjut, ia mengatakan identifikasi seseorang terlibat teror IS atau tidak adalah dengan berdialog. Dari situ akan terdeteksi cara paham dan pemikiran seseorang apakah dia berpaham takfiriah atau tidak.
“Intinya, kami akan terus deteksi dan monitor. Kalau tidak terlibat pidana, akan kami biarkan, tetapi kalau terlibat, akan kami tangkap. Itulah guna dari monitoring, dan ini cukup bagus,” imbuh Badrodin.
Mantan Kapolda Jatim itu berjanji tidak akan pernah “tidur” untuk menghadapi kelompok teror. Buktinya, jaringan pelaku teror terus dibekuk satu per satu. “Terorisme ini lebih banyak ideologi, soal pemikiran, yang tidak akan selesai kalau hanya di penjara. Tetapi begitu kami akan terus menindak mereka yang melanggar hukum,” kata Badrodin.
Dia berharap, setelah ditangkap itu maka ada pihak lain yang berkontribusi untuk memberi pencerahan pada mereka. Inilah yang menjadi tugas BNPT yang bekerja sama dengan Kementerian Agama.
Polisi di Palu, Rabu lalu melakukan penggeledahan di rumah Daeng Koro di rumahnya di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Humas Polda Sulawesi Tengah Kompol Rostin Tumaloto di Palu, Minggu (26/4), mengatakan penggeledahan itu dilakukan setelah aparat menemukan indikasi adanya senjata api dan sejumlah benda lain yang disembunyikan di rumah Daeng Koro di Desa Panca Makmur, Kecamatan Soyo Jaya.
Rostin mengatakan polisi juga melakukan penggeledahan di beberapa rumah yang berada di komplek pondok pesantren yang berada di Kecamatan Soyo Jaya, Kabupaten Morowali Utara.
Dalam penggeledahan lanjutan itu, polisi kembali menemukan bendera ISIS warna hitam, kaos lengan panjang bertulis logo ISIS, teropong, jas hujan, masker, kompas, pisau dan sejumlah buku-buku agama.
Daeng Koro adalah salah seorang pentolan kelompok sipil bersenjata yang tewas saat saat baku tembak dengan aparat kepolisian di hutan Kabupaten Parigi Moutong beberapa pekan lalu.
Dalam satu bulan ini, polisi telah menembak mati dua teroris yang merupakan anggota kelompok Santoso, yakni Daeng Koro dan Imam alias Farid. Kedua jenazah sudah dikuburkan oleh keluarga masing-masing.(sp/lensaindonesia)