BNPT : Membid’ahkan Kelompok Lain Masuk Radikalisme

Pagi ini di acara Kabar Indonesia Pagi TVOne ada diskusi tentang pemblokiran situs media Islam. Ketiga narasumber yang hadir adalah Budi Marta Saudin (Pemred GemaIslam.com) , Mustofa Nahrawardaya ( Anggota MPI PP Muhammadiyah ) dan Irfan Idris (Jubir BNPT). 

Pak Irfan Idris menyampaikan kalau dalam paham radikalisme, syarat kriterianya mengajarkan paham takfiri, mengkafir-kafirkan, membahas jihad secara sempit. Irfan mengakui, situs-situs Islam yang diblokir pemerintah itu memang melawan pemikiran ISIS dan tidak sedikit dari website-website itu yang ikut membenci organisasi radikal tersebut. Akan tetapi, di antara halaman web cenderung mengharamkan demokrasi dan mengkafirkan pemerintah. Beliau mengutarakan kalau ada aduan masyarakat untuk memblokir situs tertentu. Beliau juga terlalu melebar menjelaskan. Masalah khilafiyah dibawa-bawa, situs yang diblokir juga menghakimi kelompok lain, membid’ahkan kelompok tertentu, anti tahlilan. Ustadz Budi membantahnya langsung, masalah khilafiyah sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka. Jangan melebar dari kasus ISIS ke khilafiyah.
Bang Mustofa Nahra menjelaskan kalau BNPT terlalu paranoid dengan pembredelan situs Islam. Tidak ada diskusi tapi langsung eksekusi saja pemblokiran. Banyak situs – situs yang mengajarkan sumber Islam tapi ikut diblokir. Padahal umat Islam butuh akan sumber Islam. BNPT dianggap ada misi tertentu dengan pemblokiran ini. Ada juga website yang dikelola salah satu ustadz pengurus Muhammadiyah masuk daftar web yang diblokir. Ada sekitar 7 web yang diblokir tersebut adalah web anti syiah. Beliau menjelaskan bahaya syiah bagi keamanan Indonesia. Kita harus belajar pengaruh syiah dalam dari peperangan di Suriah,Irak, Yaman. (sp/redaksi)

Tag Populer #KembalikanMediaIslam
Berita Terkait