Benarkah Muhammadiyah Sedang Diincar Densus 88 ??

SangPencerah.com – Densus 88 semakin unjuk gigi untuk menangkap para terduga teroris. Kata “terduga teroris” jadi alibi ampuh untuk memperhalus korbannya.Sinyalemen gawat dilontarkan aktivis muda Muhammadiyah, Mustofa Nahrawardaya. Melalui akun Twitter @MustofaNahra, Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) itu mensinyalir, bahwa Muhammadiyah sedang menjadi incaran Detasemen Khusus Antiteror Polri (Densus 88).

“Beberapa bulan ini Muhammadiyah sedang diincar Densus. Yang lain menyusul!” tulis @MustofaNahra. Mustofa menyatakan, bahwa Densus 88 dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sempat mendapat kritikan keras dari Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsuddin. Seperti dilansir dari intelijen.co.id, Din menilai Densus 88 dan BNPT suka brutal tak berperikemanusiaan.

Menurut Mustofa, sejumlah kader Muhammadiyah telah menjadi korban tudingan Densus 88. “Beberapa kader Muhammadiyah ditangkap, lalu dilepas kembali dari Densus, namun tidak direhabilitasi. Ini aparat dzolim!” ungkap @MustofaNahra.

Mustofa juga mengingatkan, tak hanya Muhammadiyah yang dibidik Densus 88, tetapi juga seluruh ormas Islam dan lembaga Islam. “TERORISME adalah balasdendam lama dari Poso. Seluruh Ormas Islam, Lembaga Islam siap-siaplah menerima pengadilan paling brutal ini,” tulis @MustofaNahra.

Tak hanya itu, Mustofa juga menuding ada kepentingan berbau SARA dalam operasi Densus 88. Pondok Pesantren dilempari granat, lalu Kyayinya ditangkepin, santrinya ditembakin. Ini proyek terorisme apa proyek nyawa? #terorisme,” tulis ‏@MustofaNahra.

Seperti yang pernah terjadi beberapa tahun lalu di Tulungagung, Densus 88 melakukan salah tangkap kepada kader Muhammadiyah ( baca :Densus 88 akhirnya patuhi Ultimatum Prof. Din Syamsudin) yang setelah didesak dan di ultimatum Bapak Din Syamsuddin baru dilepaskan, itupun tidak ada permintaan maaf dan rehabilitasi dari pihak densus 88.

Muhammadiyah sejak dulu mendukung proses penegakan hukum di Indonesia asalkan sesuai dengan aturan hukum dan prinsip HAM tidak malah menjadi alat teror baru bagi ummat islam. (sp/mch)