WN Thailand “Paralegal” KBRI Bangkok Ini Cucu Pendiri Muhammadiyah

Seorang perempuan setengah baya sibuk mengutak-atik dokumen di meja kerjanya. Sesekali dia berkonsultasi dengan bosnya, Atase Kejaksaan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bangkok, Thailand. Komunikasi kadang-kadang dilakukan dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Dia adalah Amina Sanafi, atau akrab disapa Amina. Wanita berkewarganegaraan Thailand ini memang bekerja di Atase Kejaksaan Bangkok sejak 1977. “Saya bekerja sebagai asisten Bapak. Tugas saya harus berhubungan dengan beberapa pihak, seperti Kejaksaan, Kepolisian dan Pengadilan Thailand,” ujarnya.
Bos Amina, Atase Kejaksaan KBRI Bangkok Narendra Jatna tak segan memuji kemampuan hukum Amina, walau perempuan ini tak memiliki latar belakang pendidikan hukum. “Dia seperti paralegal di sini,” ujarnya.
Namun, ada satu hal yang unik dari Amina. Walau dia berwarga negara Thailand, leluhurnya termasuk sosok yang disegani di Indonesia. Amina adalah cucu dari pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.
“Saya sangat bangga,” ujarnya ketika ditanya perasaannya mewarisi ‘trah’ pendiri salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia itu.
Awalnya, Amina mengaku tidak tahu seberapa besar nama kakeknya di Indonesia. “Ketika saya pertama kali ke sana (Indonesia,-red). Saya tidak tahu seberapa besar beliau,” ujarnya.
Amina mengungkapkan ayahnya jarang menceritakan kepada sepuluh anaknya mengenai sosok KH Ahmad Dahlan. “Ayah Saya sangat sibuk di sini. Dia memang pernah menceritakan keluarganya, tetapi dia tak pernah bercerita ‘besarnya’ nama kakek Saya,” tambahnya.
Pada 1986, ketika pertama kali ke Indonesia, Amina bingung dengan banyaknya nama jalan, sekolah dan universitas yang menggunakan nama kakeknya. Ia pun akhirnya mengetahui bahwa kakeknya adalah seorang pahlawan ketika ayahnya sebagai perwakilan keluarga KH Ahmad Dahlan menerima rumah dari pemerintah Indonesia.
“Kami baru tahu kalau kakek kami adalah seorang pahlawan (di Indonesia,-red),” ungkapnya.
Tak hanya itu, lanjut Amina, saat bekerja di KBRI Bangkok, ada banyak warga negara Indonesia yang bercerita tentang sosok kakeknya. “Semua orang di sini cerita tentang kakek saya. Dan ketika ayah Saya masih di sini, dia kerap diundang ceramah oleh Pak Dubes,” tambahnya.
Amina juga tak sungkan menceritakan awal ayahnya bisa “terdampar” di Thailand. Ia mengatakan ayahnya bersama dengan dua atau tiga orang dari Muhammadiyah dikirim dan disekolahkan ke India. Kala itu, India belum terpecah dengan Pakistan.
“Setelah selesai sekolah, dia tidak mau kembali ke Indonesia. Ketika itu KH Ahmad Dahlan sudah meninggal,” ungkapnya.
Amina mengatakan ayahnya memiliki beberapa alasan mengapa tidak mau kembali ke Indonesia. Dia menolak menjawab ketika ditanya apakah ada alasan politik. “Lebih baik kita tidak bicarakan itu. Karena saya tidak tahu alasannya. Mungkin saja ada alasan politik,” tuturnya.
Singkat cerita, Amina menjelaskan ayahnya datang ke Thailand bersama rekannya yang berprofesi sebagai dokter. Ia pun bekerja sebagai asisten dokter di sebuah klinik dan bekerja di Thailand bagian selatan selama beberapa tahun.
Amina menambahkan ayahnya kemudian pindah ke Bangkok dan bertemu dengan ibunya. “Mungkin karena dia mau ke Masjid Jawa, masjid yang didirikan oleh komunitas Indonesia di Bangkok. Dia bertemu Imam di masjid itu dan ibu saya adalah anak perempuan dari imam itu,” ungkapnya.
Perkawinan dua sejoli ini akhirnya berlangsung hingga memiliki sepuluh anak, dan melanjutkan “trah” KH Dahlan di negeri Gajah Putih itu. 
Keturunan KH Ahmad Dahlan ini pun “bertebaran” di seantero Thailand untuk berkarya di bidangnya masing-masing. Salah seorang di antaranya adalah Dr Winay Dahlan, yang kini memimpin halal center di Thailand.
“Ya, itu saudara laki-laki Saya. Dia sekarang sebagai Director of Halal Science Center. Pusat untuk mengecek kehalalan sebuah makanan dengan teknologi science. Itu terbesar di dunia,” pungkasnya. (sp/hukumonline.com)