Sang Mujahid Di RSIJ Cempaka Putih Jakarta Yang Terlupakan

oleh : Zulkarnain El Madury
Diabad moderen tidaklah mudah mencari pahlawan tanpa jasa, sulit rasanya menampilkan sosok manusia yang tak mau jasanya dikenang. Karena pamrih didunia telah menjadi sebuah media mengejar kedudukan yang lebih tinggi, sehingga cara yang paling ampuh mengejar predikat dan martabat adalah menjadi pahlawan atau sukarelawan berselimut pamrih, meskipun tidak dikatakan kepada sesama.
Tidaklah demikian dengan sosok Sang Mujahid di Rumah Sakit Islam cempaka Putih, dapat dikategorekan sebagai sosok pahlawan yang benar benar tanpa jasa, apalagi pamrih, membangun citra atau mengejar kedudukan, bukanlah alamnya. Bapak Rokhyadi Anwar, Binroh Rumah Sakit Islam, Cempaka Putih, memang sangat bersahaja, tidak terindikasi mencari kedudukan, meskipun respek dan cepat tanggap mengatasi masalah. Tidak terungkap di wajahnya, supaya dimulyakan atau disanjung orang, justru  yang terlihat adalah sosok pengabdi, bersahaja, rendah hati, yang menampilkan sosok akhlaq alkarimah dalam menangani banyak masalah di Rumah Sakit islam.
Rupanya Ustad Rokhyadi Anwar meneladani sosok yang hadir sebelumnya, yang pernah menjadi teladan dan Guru orang banyak  di rumah sakit Islam, beliau adalah Ustad Jamaluddin Ahmad, yang statusnya sebagai Wakil Ketua LPCR [lembaga Pengembangan Cabang Dan Ranting]. Ungkapan itu pernah disampaikan Ustad Anwar, kalau Ustad Jamaludin adalah seorang teladan dan Guru Abdi dirumah sakit ini, perobahan di RSIJ lebih baik tidaklah  bisa dilepaskan dari seorang Ustad Jamal. Demikian tutur Ustad Anwar, sebagai Binroh yang termasuk cukup lama mengabdikan ilmu dan tenaga di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih.
Ustad Rokhyadi Anwar dengan timnya, memang solid, tergolong orang orang yang agamis dinamis dan proaktif. Seolah tanggung jawab yang diembannya merupakan beban yang berat, ibarat orang sekarat menghadapi menghadapi kematian, amanat yang diembannya harus benar benar terlaksana dengan baik dan tepat sasaran.
Kiprahnya yang luar biasa, bukanlah kiprah mereka yang sedang terobsesi mencari dukungan politik, tetapi berangkat dari keikhlasan yang tiada batas, tidak mencari keuntungan dari aktivitasnya, sekalipun dekat dan terpaut dengan keuangan yang terkadang membuat manusia lupa daratan. Tetapi tidaklah demikian halnya dengan Ustad Anwar dan timnya, sebuah kekuatan yang sangat relijius dan simpatik. Karena selain rumah sakit Islam menjadi sarana pengobatan dan doa, juga merupakan rumah sakit yang sangat dedikatif , komersial, familiar, sosialistik dan Islamistik.
Selain perjalanan baktinya sebagai Binroh [Bimbingan Rohani], memberikan pencerahan pada pasien, pada para dokter, calon dokter, dan kuliah buat mahasiswa fakultas kedokteran, Ustad Anwar, juga memberikan tip pendidikan keislaman, bidang metode Jenazaologi [Ilmu Yang berkaitan dengan Jenazah, melibatkan yayasan Nafsul Muthma’innah [ didirikan yayasan RSIJ tahun 2002] yang berada dibawah tanggung jawabnya,  berkantor dilantai bawah Masjid dirumah sakit Islam tersebut. Terlebih yang disebut rumah sakit, pasti tidak bisa dilepaskan dari kegiatan Jenazah, karena, bisa saja sekwaktu waktu ada hamba Allah yang di panggil pulang kehadirat-Nya.
Bapak dari tiga putra tersayang, yang berhasil menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi diantara salah satunya, merupakan pembimbing umat yang cukup familiar, setiap tamu yang datang berkunjung padanya, tidak lantas menjadi bosan, bahkan merangsang seseorang merasa akrab dengan suasana sambutan yang ditampilkan beliau. Dibantu seorang putranya yang sarjana beliau bersama, ikut serta dalam misi suci menangani Jenazah.
Perannya juga di Muhammadiyah cukup besar, selalu mengulurkan bantuan atas nama RSIJ kepada Muhammadiyah yang seharusnya di bantu. Di Bidang pendidikan Muhammadiyah misalnya, peran beliau sangat menonjol, mudah mengambil keputusan [tidak bertele tele] demi kemaslahatan Pendidikan Muhammadiyah. Bahkan untuk pengembangan dakwah Muhammadiyah, beliau dengan direktur dan tim LazisMu RSIJ Cempaka Putih, kompak mengeluarkan Buged tunjangan dakwah bulanan  kepada para da’i sebagai ujung tombak pengembangan Muhammadiyah.

Memang harus ada pembimbing yang bisa membimbing dirinya sendiri sebagaimana dilakukan seorang Anwar, Ustad yang menghijau aroma namanya dirumah Sakit Islam Cempaka Putih Jakarta.  Akrab dengan umat, mudah menolong orang lain yang diterpa kesusahan, mudah mengulurkan tangan sebagai bakti seorang muslim pada Allah Subahana Wata’ala. Sosok seperti beliau inilah yang seharus ada pada tiap lini kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara, termasuk dalam kepemimpinan ormas ormas di Indonesia.