Menyikapi Muhammadiyah & NU

oleh : Ustadz Anang Rizka
SIAPAPUN yang hendak membicarakan bangsa Indonesia, maka tidak bisa tidak membicarakan umat Islam Indonesia. Jika ada orang yang mencoba membahas Indonesia tanpa melibatkan pembahasan tentang umat Islam Indonesia, maka itu orang yang sangat aneh dan jelas-jelas tidak paham tentang Indonesia.

Tidak perlu kita jauh-jauh merunut ke belakang bahwa kemerdekaan bangsa ini dari tangan penjajah adalah jasa terbesar kaum muslimin. Saat ini saja, bisakah bicara tentang Indonesia dari sudut pandang manapun tanpa melibatkan umat Islam Indonesia?

Sementara itu, jika kita membicarakan tentang umat Islam Indonesia, maka pasti akan membicarakan pula tentang, setidaknya, Muhammadiyah dan NU. Bisakah membahas umat Islam Indonesia tanpa menyinggung peran NU dan Muhammadiyah di dalamnya?

Meskipun sekarang ini banyak ormas bermunculan, akan tetapi Muhammadiyah dan NU adalah mainstream dan bagian terbesar dari umat Islam di negeri ini. Maka, Muhammadiyah dan NU, hemat saya bagaikan kedua sayap untuk Republik ini. Republik dan bangsa ini tidak mungkin bisa terbang jika salah satu sayapnya rusak.

Puluhan bahkan ribuan pesantren yang berafiliasi kepada NU, baik yang besar maupun yang kecil, nyata-nyata telah ikut andil dalam melahirkan manusia Indonesia yang berkontribusi pada negeri ini. Alumninya ada yang jadi lurah, camat, bupati, gubernur bahkan ada yang jadi menteri atau presiden. Banyak pula jenderal polisi dan TNI yang pernah belajar mengaji, meskipun sebentar dari ulama-ulama NU.

NU dengan majelis ta’limnya tersebar dan melaluinya memberikan pengajaran Islam kepada bangsa ini, mulai dari mengenal huruf hijaiyyah sampai pada menghafal Al-Quran.

Berbeda dengan NU, Muhammadiyah lebih banyak bergerak di perkotaan, dan dikenal sangat konsen pada gerakan pendidikan dan kesehatan. Saat ini ada sekitar 180an perguruan tinggi dan sekitar 400an rumah sakit milik Muhammadiyah tersebar di seantero negeri. Belum lagi, puluhan ribu SD, SMP dan ratusan SMU-nya.

Tidak sedikit lurah, camat, bupati, bahkan gubernur, dan menteri serta pejabat negara lainnya yang lahir dari didikan perguruan tinggi Muhammadiyah. Beberapa kabupaten hanya memiliki RSUD, sehingga tidak dapat menampung pasien masyarakat, Muhammadiyah melalui rumah sakitnya hadir melayani kesehatan masyarakat.

Siapakah yang berani meragukan peran dan kontribusi Muhammadiyah dan NU seperti ini? Maka, keliru besar jika masih ada orang yang selalu menghadap-hadapkan Muhammadiyah dan NU, apalagi hanya masalah khilafiyyah furuiyyah dan untuk kepentingan jangka pendek.

Masalah khilafiyyah furuiyyah telah ada sejak abad kedua hijriah, dan umat Islam telah berijma’ (membuat konsensus) bahwa setidaknya ada empat madzhab yang diakui, yaitu Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki, Madzhab Syafii dan Madzhab Hanbali. Keempat madzhab inilah yang paling banyak dianut oleh umat Islam sepanjang sejarahnya di seluruh dunia.

Jadi, jika ada perbedaan pendapat dalam tata cara wudlu, shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lainnya, sepanjang pendapatnya merujuk kepada keempat madzhab tersebut, maka bukanlah hal yang aneh dan harus dibenturkan. Ini bukan sekedar perbedaan antara Muhammadiyah dan NU, akan tetapi perbedaan madzhab yang telah dirumuskan oleh para imam madzhab sejak 12 abad yang lalu.

Pembenturan itu kini nyaris telah tiada. Para ulama dan tokoh kedua ormas Islam terbesar ini telah menyadari bahwa pembenturan keduanya adalah strategi yang diwariskan oleh penjajah untuk memecah belah umat Islam Indonesia yang sangat besar ini.

Bahkan, kini banyak sekali sinergi dan kerjasama kemitraan yang dilakukan keduanya. Dan ke depan, Muhammadiyah dan NU harus terus bergandengan tangan, merapatkan barisan ukhuwwah Islamiyyah untuk menjadi sayap-sayap bagi Republik ini, sehingga bisa terus mengepakkannya agar terbang dan melesat jauh.

Shaff keduanya harus lurus dan rapat agar tidak dimasuki oleh ‘setan-setan’ yang bisa membatalkan penerbangan Republik ini. “Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada agama Allah dan janganlah bercerai-berai” (Qs. [3]: 103