Mengenal Tokoh Pendiri Muhammadiyah Cipanas

CIPANAS dahulunya merupakan nama sebuah desa di wilayah Kecamatan Pacet kemudian mengalami pemekaran, Cipanas menjadi Kecamatan tersendiri. Sekitar 80 km dari Jakarta atau 20 km dari kota Cianjur, daerah yang dikenal sebagai kawasan wisata pegunungan, Cipanas Pacet juga merupakan daerah penghasil sayuran yang dijuluki kawasan agropolitan hortikultura.
Muhammadiyah Cipanas Pacet dirintis oleh Bapak H. M. Tohir Azhary, BA sepulang kuliah dari Universitas Islam Indonesia UII Yogyakarta. Beliau mendirikan SMA Muhammadiyah yang merupakan SMA Pertama sebelum ada sekolah-sekolah lain di wilayah Kecamatan Pacet, kemudian beliau juga mendirikan SMP Muhammadiyah dan pada tahun 1987 beliau bekerjasama dengan Pesantren Futuhiyyah mendirikan Islamic Centre Muhammadiyah Cipanas yakni menggabungkan SMP dan SMA Muhammadiyah dengan Pondok Pesantren (Boarding school) yang berlokasi di Futuhiyyah Jalan Cilengsar-Cipanas.
Bapak KH. M. Tohir Azhary, BA orang sederhana yang hidup sebelum Negara ini merdeka. Usia beliau yang sudah kepala delapan menghabiskan hari-harinya di kebun dan kolan ikan. Beliau mempunyai Keluarga besar, beliau mempunyai anak 10 dan kesepuluh anaknya itu di sekolahkan sampai bangku perguruan tinggi yang menjadikan masa depan anak-anaknya lebih cerah.
Masyarakat Cipanas dan Cianjur mengenal beliau dengan nama sapaan “Pak Tohir”. Bagi saya secara pribadi yang baru mengenal beliau, orangnya sederhana, sangat ramah dan bersahabat. Kesederhanaan beliau menjadi kekuatan untuk membangun Muhammadiyah di Cipanas yang kini dinikmati sebagian besar masyarakat Cipanas terutama warga Muhammadiyah khususnya para kader-kader.

Teringat pertama kali bertemu dengan beliau di Masjid Mujahidin yang lokasinya berada di area Sekolah Muhammadiyah Cipanas. Ketika itu hari Senin, 27 Rabiul Akhir 1436 H. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari teman sosial media saya, Dia asli orang Cipanas, tetapi ia bersekolah di SMA Muhammadiyah 2 Jogjakarta. Dia aktifis IPM sekaligus Ketua PR IPM SMAM 2 Jogjakarta Periode 2014/2015. Kata Dia; “Pak Tohir selalu ada di Masjid Mujahidin ketika waktu sholat magrib. Beliau selalu sholat magrib berjamaah disana dan mengajar anak muda mengaji setelah sholat magrib”.
Berbekal Informasi tersebut, Pukul 18.00 WIB saya berangkat dari rumah saudara saya yang berada di Jl. Tugaran. Ada ±500m jarak yang harus kutempuh untuk pergi ke Masjid Mujahidin. Apabila pergi kesana dengan berjalan kaki, waktu tempuhnya antara 3-5 menit. Untuk itu, saya harus berangkat lebih awal sebelum adzan magrib berkumandang agar tidak tergesa-gesa dan panik. Awalnya saya sempat salah masjid ketika melihat papan nama masjid bukan “Masjid Mujahidin”. Saya belum sempat masuk ke dalam masjid, langsung balik kanan mencari masjid yang saya maksud. Alhamdulillah, tak lama kemudian akhirnya ketemu masjidnya yang terlihat dari kejauhan papan namanya.
Sebelum sampai di masjid, saya melihat di depan saya ada seorang kakek yang ditangan kanannya memegang tongkat, searah dengan saya yang ingin pergi ke masjid. Jalan yang menuju ke masjid itu naik seperti membentuk sudut 45°. Ketika itu saya melihat dari belakang ada dua perempuan seumuran anak SMA yang menghampiri beliau lalu mencium tangan beliau layaknya seorang guru dengan murid ketika bertegur sapa. Dalam hati saya bertanya, siapakah kakek itu ? Apakah beliau orang yang bernama Pak “Tohir Azhary” ? Dengan langkah yang pasti saya mendahului beliau, menyapanya dengan salam, beliau membalas salamku dan memberikan senyuman. Beliau tertinggal beberapa langkah dari saya yang sudah berada di gerbang depan masjid.
Sesampai di dalam masjid, hati ini masih penasaran dan bertanya, dimana seseorang yang bernama pak “Tohir Azhary”? Tak lama setelah sholat sunah, Iqomah berkumandang yang mengartikan waktunya sholat magrib dimulai. Setelah selesai menunaikan ibadah sholat magrib dan berdoa layaknya seorang Muslim, area masjid tampak lengang. Ketika itu mataku langsung terfokus kepada seorang kakek yang tadi saya sapa di jalan sebelum ke masjid sedang bersandaran di tembok. Tak berfikir lama dan bertanya-tanya lagi dengan mengucap basmallah, saya mendekat ke arah beliau duduk dan terjadilah dialog saya dengan beliau ; “Assalamualaikum, punten bapak. Bade tanya” dengan bahasa Indonesia campur sunda, saya terasa canggung. Lalu beliau menjawab”Iya nak, mau tanya apa?” Tanpa basa-basi, saya langsung bertanya kepada beliau ; “Mau tanya namanya pak Tohir Azhari, orangnya yang mana pak ?” Lalu beliau menjawab dengan senyumannya “Iya ini, saya sendiri”
Saya kaget, campur bahagia, campur bingung. Karena tidak menyangka beliau yang tadi saya sapa memang benar orang yang saya cari. Alhamdulillah terjawablah sudah pertanyaan yang ada di dalam hati saya.
Saya memulai obrolan dengan memperkenalkan diri saya kepada beliau dan menyampaikan maksud serta tujuan saya ketemu beliau. Beliau merespon dengan memperkenalkan diri juga dan menceritakan tentang kisah kehidupan beliau dan Muhammadiyah di Cipanas. Tetapi obrolan ini tak bisa berlangsung lama, karena beliau harus mengajar anak-anak muda mengaji yang dari tadi sudah siap berbaris rapi, melingkar membentuk leter “U” dengan al-quran yang berada di depan mereka.
Saya langsung pamitan kepada beliau dan berjanji esok hari ingin silaturrahim dan berkunjung ke rumah beliau. Lalu saya pulang ke rumah saudara saya yang berada di Jl. Tugaran.
JUM’AT 1 Jumadil Awal 1436 H. 
Di awal bulan yang tepat di hari yang mulia dibandingkan hari-hari yang lain, saya dipertemukan lagi dengan beliau. Saya percaya semua ini adalah sudah menjadi ketetapanNYA. Tak ada di dunia ini yang terjadi atas kehendakNYA.
Saya dipertemukan lagi oleh beliau di masjid yang sama yaitu “Mujahidin”. Jauh-jauh hari memang sudah saya niatkan untuk sholat Jum’at disana. Biasanya sholat jumat di masjid dekat rumah yang lokasinya berada di belakang rumah saudara saya. Berangkat pukul 11.50 WIB agar tidak terlambat mendengarkan Muqodimah khutbah. Sesampainya di dalam masjid, saya melihat beliau, pak Tohir duduk di shof paling depan. Dan saya yang baru datang mengambil di shof barisan kedua tepat di belakang beliau karena masih belum banyak yang datang.
Ketika itu muncul rasa penasaran di hati ini dan bertanya-tanya seperti waktu pertama kali bertemu dengan pak Tohir. Pertanyaannya yang muncul pada saat itu adalah “Siapakah khotib pada hari ini ?. Pukul 12.05 wib tepat beliau yang duduk di depan saya berdiri menuju mimbar dan memberi perintah untuk mengisi shof depan yang masih kosong, setelah itu mengucapkan salam. “Assalamu’alaikum wr.wb. adzan berkumandang. Sekali lagi, terjawablah sudah rasa penasaran atas pertanyaan dalam hatiku ini. Alhamdulillah, dalam hati ini berkata “pasti menarik tema khutbah jumat hari ini”. Seusai adzan berakhir, Saya menyimak betul-betul apa yang nanti akan disampaikan oleh beliau melalui khutbah jum’atnya.
Dalam khutbahnya beliau membahas tentang Hak dan Kewajiban. Beliau memaparkan hak dan kewajiban seseorang sesuai profesi dan kedudukan di dunia. Mulai hak dan kewajiban seorang hakim pengadilan sampai hak dan kewajiban seorang pelajar. Ketika beliau berkhutbah sesekali menengok ke arah saya dan melemparkan senyuman. Khutbah beliau cukup panjang dan banyak isinya. Saya salut kepada beliau, ketik khutbah tak membawa buku khutbah, beliau hanya membawa secuil kertas yang aku tidak tau apa isinya.
Seusai sholat jum’at, saya menghampiri beliau. Saya meminta maaf kepada beliau karena belum bisa silaturrahim ke rumahnya. Beliau menanggapi dengan baik dan beliau berkata kepada saya bahwa memang akhir-akhir ini beliau sibuk dengan urusan pribadinya, mulai pengobatan untuk beliau karena beliau terkena penyakit pengapuran pada tulang belikatnya. Besok sabtu beliau harus berobat ke Sukabumi yang panjang antriannya sampai sore kalau tidak antri duluan dan hari Minggu beliau menikahkan anaknya. Saya berkata kepada beliau, hari Senin Insya Allah saya silaturrahim ke rumah bapak dan beliau mengiyakan keinginan saya. Seperti pertemuan pertama, obrolan ini tidak bisa berlangsung lama karena beliau ada keperluan pada waktu itu.
SENIN, 4 Jumadil Awal 1436 H.
Hari yang saya janjikan kepada beliau itu datang juga. Dengan penuh optimis dan percaya diri, saya berangkat jam 11.00 WIB dari rumah saudara saya. Cuaca yang sangat cerah dan udara yang sejuk menemani langkah kakiku menuju kediaman beliau. Sebelum berangkat saya sudah menyiapkan berbagai macam pertanyaan yang nanti saya ajukan kepada beliau.
Perjalanan saya mengalami hambatan, ternyata beliau tidak ada di rumah yang kemarin ditunjukan kepada saya. Memang butuh perjuangan yang lebih untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari diri kita. Berbekal tanya sana-sini dan berhasil mendapatkan informasi keberadaan beliau dari anak laki-laki beliau. Namun masih belum tau yang mana rumahnya. Kata kunci yang saya dapat dari anak laki-laki pak Tohir adalah “Rumah Joglo”. Joglo adalah rumah adat masyarakat Jawa. Sepengetahuan saya, Rumah Joglo pasti rumah yang bahan dasar pembuatannya dari kayu dan bambu.
Saya harus naik ke atas kira-kira ±200m dari lokasi masjid Mujahidin. Rasa putus asa sempat menyelimuti hati dan semangat ini. Namun kaki ini terus melangkah dan berfikir, waktu saya tidak banyak, saya harus memanfaatkan waktu jeda saya. Sampailah saya diujung jalan yang naik itu. Ada dua arah yaitu belok ke kanan dan belok ke kiri pada akhir jalan yang saya namakan jalan “Optimisme”. Dalam keadaan lelah karena jalan yang menanjak dan sinar matahari yang mulai terasa panas, membuat fikiran tak bisa berfikir jernih. Pada saat itu saya mencoba memakai Intuisi.
Intuisi adalah salah satu kemampuan manusia untuk menganalisa sesuatu yang akan dikerjakan atau dilaksanakan , karena dengan memakai intuisi, maka pekerjaan yang akan di lakukan telah kita ketahui hasil dan bentuknya. Setiap manusia mempunyai intuisi yang memang telah menjadi bagian dari komponen ruh dan tubuh manusia.
Pada saat itu intuisiku mengatakan saya harus belok ke kanan. Setelah belok ke kanan, saya melihat ada Rumah Joglo temboknya bercat putih dan pintunya yang bercat hijau. Saya melihat di sekitar lingkungan sana, rumah Joglo hanya satu, sebagian besar rumahnya modern yang berpagar tinggi. Tanpa berfikir panjang, kaki ini melangkah menuju ke arah rumah joglo. Di depan rumah saya dapati seorang ibu muda, saya bertanya kepada beliau “Apakah benar ini rumahnya Pak “Tohir Ashary” ? Beliau menjawab “Iya betul, ini rumahnya beliau. Alhamdulillah akhirnya sampai. Meskipun badan sedikit dilumuri dengan keringat yang keluar karena kelelahan, perasaan ini terasa lega. Beliau mempersilahkan saya masuk dan menunggu karena pak Tohir masih di belakang rumah. Pada saat itu banyak orang di dalam rumah. Mereka sedang sibuk merapikan isi rumah yang kemarin digunakan hajat besar yaitu pernikahan anak pak Tohir. Tak lama saya menunggu, pak Tohir muncul dari pintu yang berada di ruang tamu, beliau tampak lelah karena mungkin efek dari hajat besar kemarin.
Kami mengobrol dengan santai di lantai yang beralaskan tikar, ditemani sepiring kue dan beberapa gelas air mineral kemasan. Perbincangan kami lama dan menarik bagi saya yang baru mengenal Muhammadiyah Cipanas. Ketertarikan saya atas Muhammadiyah Cipanas berlanjut pada Rumah Joglo ini. Mungkin sebagian besar masyarakat Cipanas-Cianjur khususnya warga Muhammadiyah sudah tau sejarah Rumah Joglo ini. Rumah yang saya kunjungi ini ternyata bukan sekedar rumah biasa saja tetapi rumah yang luar biasa dan mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Mengapa saya katakan demikian, karena Rumah Joglo ini ternyata pernah dikunjungi oleh eyang Buya Hamka, AR. Fachruddin, Pak Din Syamsudin dan sederet Tokoh-tokoh Muhammadiyah yang lain. Selain pernah menjadi rumah singgah para Tokoh, Rumah joglo ini juga sering digunakan oleh Ortom Muhammadiyaj untuk melaksanakan kegiatan pengkaderan. IMM Ciputat adalah salah satu ortom yang sering menggunakan rumah ini untuk melaksanakan kegiatan Darul Arqom Dasar (DAD). Masya Allah, begitu dahsyatnya berkahMU dan nikmatMU, pada saat itu saya hanya bisa mengucapkan “hamdallah”.
Tak terasa waktu sudah hampir sore, banyak hal dan ilmu yang saya dapat dari pengalaman BerMuhammadiyah beliau. Banyak hal yang saya dapat dari pertemuan dengan beliau. Ingin sekali mengenal beliau lebih jauh, karena saya yakin akan dapat sesuatu dan ilmu yang lebih dari beliau. Terima kasih ya rabb telah mempertemukan hamba dengan seseorang yang luar biasa. Hamba yakin pertemuan hamba dengan beliau atas kehendakMU dan tak hanya sampai disini, suatu saat hamba pasti bisa bertemu kembali dengan beliau. 
Maaf kalau pada tulisan ini ada yang kurang sesuai dan bahasa yang kurang baku. Belajar menulis itu ternyata sangat menyenangkan. Semoga saya bisa menulis lagi dengan bahasa yang tertata dan menarik untuk dibaca.
10 Jumadil Awal 1436 H