Mantan Kapolsek Cimahi Hidup Miskin di Tanah 5×5

CIMAHI – Menjadi keluarga mantan anggota polisi tak selalu menjanjikan seperti yang dibayangkan, hal itulah yang dialami Soeparmin Atmoaji (76). Padahal selama karirnya, Soeparmin pernah menjabat karir perwira sebagai Kapolsek di Garut pada tahun 1987 silam.
Soeparmin tinggal di rumah berukuran 5×5 meter persegi yang beralaskan tanah bersama istri dan lima anaknya yang masih di bangku sekolah. Kehidupan masa tua yang sulit menyebabkan Soeparmin tidak bisa merenovasi rumah yang menurut para tetangganya sangat tidak layak huni.
Soeparmin yang tinggal di di Kp. Cikendal, RT 04/05 Kel. Cipageran Kec. Cimahi Utara Kota Cimahi tersebut baru menempati rumahnya sekitar tahun 2013 lalu. Sebelumnya dia tinggal di Garut dan Pontianak, Kalimantan Barat karena bertugas.
“Bapak ingin menghabiskan masa tuanya bersama anak-anak yang sebagian besar bekerja serabutan di Cimahi,” ungkap Imas Sumarni (63), istri Soeparmin.
Imas bercerita, uang pensiun suaminya sebenarnya mencapai Rp 2,5 juta per bulan tapi tak bisa semuanya diambil karena harus disisihkan untuk membayar pinjaman ke bank.
Soeparmin masuk menjadi anggota polisi pada tahun 1958. Selama puluhan tahun mengabdi sebagai pengayom masyarakat, pria itu menerima segala posisi yang ditunjuk atasannya.
“Setelah mengikuti pendidikan polisi di Sukabumi, bapak langsung ditempatkan di kesatuan Brimob Polda Kalimantan Barat. Lalu pindah ke Garut pada tahun 1979 dan pernah menduduki jabatan Kapolsek Cikelet dan Cisewu Garut dengan pangkat terakhir Aiptu,” jelas Imas didampingi suami.
Meski baru sekitar 2 tahun dibangun, bangunan rumah mantan kapolsek tersebut sangat tidak layak karena hanya tersedia 2 kamar yang beralaskan tikar, di dalam kamar pun sama sekali tidak ada pencahayaan.
“Tidak ada barang elekronik seperti tv, radio maupun kipas angin, paling cuma lampu dan dispenser. Itupun kadang-kadang listriknya nggak kuat kalau dispenser dihidupkan,” tuturnya.
Bagian atap rumah juga benar-benar rusak dengan beberapa bagian menganga sampai langit pun terlihat. Tragis bila musim hujan tiba karena semua anggota keluarganya harus berdempetan di kamar yang masih aman. Belum ditambah oleh tembok bangunan yang sewaktu-waktu bisa roboh dan menimpa penghuni rumah.
“Cuma ada 2 kamar, kalau memasak terpaksa di ruang tamu karena tidak ada tempat lain lagi, ” tuturnya.
Nasib lebih tragis lagi salah satu putranya mengidap kelainan jiwa yang dideritanya sejak 8 tahun lalu. Imas terpaksa harus menjaganya agar tidak mengganggu tetangga.
“Sudah 8 tahun Dewa mengidap gangguan jiwa karena ditinggal istri dan anaknya. Setiap hari ibu harus jagain Dewa agar tidak keluyuran dan mengganggu warga lainnya,” lanjutnya. (sp/pikiran-rakyat.com)