LAZISMU dan Aisyiyah Resmikan TK Trensains


TANGSEL – Pembelajaran pada anak pra sekolah (usia dini) sejatinya memadukan  dan mengintegrasikan berbagai pendekatan yang menyenangkan (fun learning) terutama dalam menstimulus perkembangan kecerdasannya dengan menumbuhkan minat dan keingintahuannyanya. Salah satunya mengenalkan sains melalui pembelajaran yang menyenangkan dengan media yang ada di sekitar lingkungan anak usia dini.
Oleh sebab itu, sains disini tidak dimaknai secara kaku, namun sains yang sesuai berdasarkan kurikulum pendidikan anak usia dini. Latar belakang inilah yang mendorong Lazismu dan Pimpinan Cabang Aisyiyah Ciputat Timur meresmikan Taman Kanak-Kanak (TK) Trensains di TK Trensains (Aisyiyah 85), Jl. Lurah Disah, Legoso, Pisangan, Ciputat, Tangerang Selatan, pada Ahad, 29 Maret 2015.
Acara tersebut dihadiri oleh Ketua Badan Pengurus Lazismu, Hajriyanto Y. Thohari, Walikota Tengerang Selatan, Airin Rachmi Diany, penggagas Trensains, Agus Purwanto, Direktur Utama Lazismu, M. Khoirul Muttaqin, dan Ketua Majelis Dikdasmen Aisyiyah Ciputat Timur, Athiyatul Ulya dan Direktur Bank Permata Syariah.
Lazismu sebagai lembaga (ZIS) merupakan lembaga filantropi pertama yang mengaplikasikan filantropi sains dalam dunia pendidikan dan dipercaya oleh penggagasnya untuk mendukung pengembangannya. Partisipasi Lazismu kali ini merupakan yang kedua kali setelah mewujudkan SMA Trensains di Sragen, Jawa Tengah. 
Direktur Program Development Lazismu, H. Eko Purwanto, turut hadir dalam kesempatan tersebut dan menyambut ibu Walikota Tangsel saat mengunjungi TK Trensains. 
Peresmian TK Trensains oleh Ketua Badan Pengurus Lazismu dan Walikota Tangsel, bertujuan mengenalkan dan memotivasi masyarakat terkait peran penting pendidikan sains bagi anak usia dini. Dalam acara tersebut juga digelar perlombaan mewarnai dan Dongeng Sains oleh Kak Awam Prakoso dari Kampung Dongeng.  
Kepala Sekolah TK Trensains, Irma Yuli Astuti mengatakan, ini adalah tonggak awal dalam TK Muhammadiyah yang dalam sejarahnya tidak diragukan lagi kiprahnya. “Selain spirit pembaruan, hal ini juga merupakan tantangan bahwa mengenalkan pendidikan sains pada anak usia dini tidaklah mudah, maka perlu kerjasama dengan masyarakat,” katanya.
Irma mengungkapkan, mengenalkan pendidikan anak pada usia dini, merupakan langkah nyata menyiapkan generasi emas di masa yang akan datang tanpa mengabaikan nilai-nilai Islam. Karena mengenal sains tidak harus berhubungan dengan teknologi. “Namun bagaimana mengoptimalkan lingkungan sosial anak sebagai media pembelajaran yang dekat dengan anak sambil bermain,” katanya.
Irma menambahkan, dalam penerapannya nanti, kurikulum sains untuk anak usia dini di dalam manajemen kelas, selain dilengkapi dengan media pembelajaran sains, juga melibatkan dua guru. “Secara pedagogis, dalam manajemen kelas itu, ada guru kelas dan ada guru sentra. Guru sentra adalah guru yang melakukan tindakan pemetaan tentang perkembangan anak sehingga dapat dikelompokkan sesuai dengan karakter anak yang berbeda-beda,” jelasnya.
Dari peresmian tersebut, Direktur Program Development Lazismu, H. Eko Purwanto, mengatakan, tahun ini merupakan pencanangan Trensains sebagai program nasional. “Gagasan TK Trensains, keberadaannya memang tidak bisa dilepaskan dari penggagasnya Agus Purwanto,” katanya.
Pola manajemen dan pengembangannya pun, sudah didiskusikan sejak lama oleh beliau yang memang pakar dibidang sains yang juga tidak lepas dari kajian risetnya berkenaan dengan isu-isu pendidikan, agama dan sains. “Selain itu, gagasan ini secara matang disambut Aisyiyah, karena ada tekad kuat dan tertarik untuk mengaplikasikan kurikulum Trensains,” paparnya. 
Sebetulnya ide ini sederhana, bagaimana menumbuhkan minat terhadap sains pada anak sekaligus mengembangkan sarana bermain yang menyenangkan. “Saya pikir ini nilai lebihnya. Manfaat besar sains dasar ini, harapannya dapat menghasilkan lulusan yang tertarik pada sains tanpa melupakan nilai-nilai ke-Islaman,” tambahnya. 
Ini tahun pertama, bagaimana Lazismu melakukan terobosan program yang inovatif di bidang filantropi sains. “Kendati mengenalkan sains pada anak usia dini merupakan tantangan yang berat,” akunya. 
Menurut Agus Purwato, seperti terungkap dalam bukunya Ayat-Ayat Semesta, pada dasarnya agama dan sains dapat selaras berjalan untuk kemajuan peradaban manusia. “Kendati interaksi agama dan sains itu menuntut pemahaman dasar, Trensains meniscayakan praksisnya di dalam kurikulum yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa anak usia dini,” katanya.
Pada prinsipnya di mana pun Lazismu berada (jejaring), senantiasa memberikan nilai manfaat kepada masyarakat luas. Karena itu, percayakan anak-anak kita kepada guru sebagai orangtua di sekolah, dan percakan anak-anak kepada Ayah-Ibu sebagai guru di rumah. Trensains pada anak usia dini adalah kolaborasi aksi bersama untuk sesama. 
Kontributor : Nazhori Author