Lagi, Premanisme Di Masjid Ridwan Milik Muhammadiyah

Berkedok Dialog Ilmiah, Gesper [gerakan santri pemuda rahmatan lilálamin] mendatangi Masjid Ridwan, salah satu masjid yang terdaftar sebagai masjid Muhammadiyah di Pamekasan, karena sering digunakan kegiatan kegiatan dakwah Muhammadiyah setiap bulan Ramadhan. Gesper sengaja datang ke-Masjid Ridwan dengan maksud dialog dengan seorang Ustad yang pernah ada di Damman, Saudi Arabiyah  sekitar 3 tahun yang lalu. 
Takmir Masjid Ridwan,  Hanif Thalib menyambut dan memulyakan tamunya yang berniat dialog ilmiah itu dengan tangan terbuka, karena benaknya terlintas hadits hadits Nabi , memulyakan tamu itu bagian dari sunah Nabi. Harapan Takmir Masjid dengan dialog yang akan diadakan kelak akan membuahkan jalinan mesra ukhuwah Islamiyah . Niat baik Takmir masjid tak pernah membayangkan akan terjadi peristiwa diluar dugaan.
Peristiwa yang terjadi sekitar satu bulan yang lalu [ 7 Maret 2015], memang tidak sempat di ekpos kemedia massa, karena ancaman yang dilakukan Gesper [para santri]. Baru inisiatif Takmir Masjid melaporkan kejadian yang sebenarnya menimpa seorang Ustad di Pamekasan Madura, setelah merasa perlu menyampaikan klarifikasi kepada Pihak Aparat. 
Masjid Ridwan adalah Masjid yang berada ditengah tengah kota Pamekasan, setelah masjid Jami’ aswaja. Bahkan tidak terlalu jauh lokasinya dari Masjid Aswaja. Menurut Hanif, kejadian memalukan yang dilakukan para santri itu berawal dengan keinginan mereka bertemu Ustad Zainuddin yang pernah di Damman sekitar tiga tahun yang lalu, yang tersiar di Yutoube. Tanpa curiga Takmir Masjid mempersilahkan Gesper untuk bersamanya menemui ustad yang sedang menuju tempat acara. 
Hanif menuturkan, ketika mereka bertemu dengan Ustad yang searah menuju tempat acara, dari pihak Gesper tanpa etika menegor dengan kasar yang biasa dilakukan preman jalanan [Preman terkadang masih baik]. Membentak dengan menyodorkan pertanyaan pertanya bernada brutal kepada nara Sumber yang diminta berdialog. Keadaan semakin runyam, Gesper berteriak teriak yang mengundang perhatian orang sekitarnya. Namun Nara Sumber undangan mendengarkan dengan hikmah luapan kemarahan mereka yang tidak berakhlaq itu, baru kemudian nara Sumber menjawab, baru saja mulai menjawab pertanyaan yang dilontarkan gesper, dipotong begitu saja oleh mereka, bahkan mengancam Ustad itu agar tidak datang lagi ke Pamekasan. 
Padahal Gesper ini adalah tamu di Pamekasan, tamu Masjid Ridwan yang dikelolah secara sunah. Apalagi di Masjid Ridwan yang sejak awal memperkenalkan sunah di Pamekasan, terdiri dari orang orang didikatif sunah Nabi, selalu santun berhadapan dengan Orang lain. Dengan sikap Gesper yang mestinya mengerti tata silaturrahim, justru jauh panggang dari api, menyulet permusuhan di Pamekasan. Karena sebelumnya tidak adak kejadian runyam sebagaimana dilakukan Gesper di Masjid Ridwan, baru kehadiran tamu yang menamakan dirinya Gesper merintis jalan permusuhan antar umat Islam di Pameksan. 
Setelah melakukan pembokongan terhadap seorang ustad, tanpa pamit Gesper menancap gas mobilnya meninggalkan Masjid Ridwan, tentu saja menimbulkan kemarahan seorang jamaah masjid Ridwan yang terpaksa mengejar mereka tepatnya jam 23.00 wib lebih, dan memaksa menghentikan mobil yang dinaiki gesper tersebut. Hingga pada akhirnya peristiwa ini diserahkan kepolisian, tetapi diluar dugaan, Gesper di depan polisi sikapnya berobah 180 derajad, seolah manusia yang penuh akhlaqul karimah, memutar balikkan fakta, disampaikan dengan penuh kata yang sopan santun, dalam upaya menutup kelicikannya membokong ustad, dengan mewajibkan taqiyah didepan kepolisian Pamekasan. Semoga aparat penegak Hukum di Pamekasan bisa menyelesaikan dengan baik masalah Pamekasan yang terkenal dengan “ GERBANG SALAM”, biar tidak ada lagi kekacauan di Madura.
Kontributor : Zulkarnain Syamsury
Area : Madura