Memaknai Pencerahan Muhammadiyah

Ada sebuah buku menarik yang ditulis oleh Muhammad Amin Al Kurdi. Judulnya Tanwir Al Qulub, artinya pencerahan hati. Isinya menyangkut akidah, syariah dan tasawuf. Tetapi, seluruhnya membahas tentang spiritual enlightenment yang bersifat individual. Bisa dimaklumi karena beliau adalah seorang Syeikh dalam Tarekat Naqsyabandiah. Dalam salah satu bagian dari buku itu, ia menjelaskan bahwa pencerahan spiritual hanya bisa diperoleh jika seorang pengikut tarekat (murid) menaati seluruh kata-kata gurunya (mursyid) tanpa reserve. Apa yang disebut pencerahan seperti itu justru menjadikan umat Islam terbelakang baik secara pribadi maupun secara social.
Nabi Muhammadi diutus ke dunia untuk melakukan pencerahan. Kehidupan jahiliah yang gelap gulita diubah menjadi kehidupan yang terang benderang. Yukhriju annaas min azh zhulumaat ila an nuur. (QS.2:257) Pencerahan itu diwujudkan dengan perjuangannya menghapus kemusyrikan dan kezhaliman serta menegakkan tauhid dan keadilan. Nabi juga mendorong umat manusia untuk mengembangkan ilmu dan mempergunakan akal fikiran, serta memerangi kebodohan dan taklid. (QS.17:36) Nabi juga berjuang menghapuskan fanatisme kesukuan dan digantikan dengan ukhuwah islamiyah. Sekalipun dalam sejarah yang sepadan dengan pencerahan itu belum muncul, tapi substansi risalah nabi adalah pencerahan. Pencerahan yang dilakukan Nabi berhasil mengantarkan umat Islam ke puncak kejayaan pada zaman klasik (abad VII-XII).
Istilah pencerahan kemudian muncul lagi secara lebih eksplisit pada abad ke-18 di Eropa. Istilah yang digunakan adalah enlightenment atau aufklarung. Abad ke-18 dikenal sebagai abad pencerahan karena lahir cara berfikir dan sikap baru yang digerakan para pemikir Eropa. Mereka meninggalkan cara berfikir takhayul dan otoritarianisme. Mereka menyatakan akal adalah otoritas berfikir yang paling mendasar. Gerakan intelektual itu berdampak pada pembaharuan moral dan social.
Lembaga-lembaga adat istiadat, etika dan kepercayaan tradisional dipertanyakan. Mereka menggugat kekuasaan aristokrasi, gereja, tirani dan irasionalitas. Mereka bilang sekarang adalah abad akal, rasionalisme, liberalism, demokrasi dan kapitalisme modern. Abad pencerahan ini berlangsung kira-kira sampai akhir abad ke-18 dengan meninggalnya Voltaire pada 1778. Immanuel Kant menyatakan abad ini sebagai “freedom to use one’s own intelligence.”
Masa pencerahan di Eropa ini membawa dampak lahirnya modernitas. Seorang sejarawan mengatakan, “Pencerahan dipandang sebagai sumber ide-ide penting, seperti kebebasan, demokrasi dan akal sebagai nilai-nilai utama bagi masyarakat.” Abad pencerahan menjadi salah satu fenomena kemajuan Eropa. Eropa telah meninggalkan sama sekali mentalitas abad pertengahan yang dikendalikan dogma agama.
Istilah pencerahan kemudian menjadi popular dalam konteks Islam. Muhammadiyah telah menjadikan matahari bersinar sebagai simbolnya. Maknanya ialah Muhammadiyah harus melakukan pencerahan yang tiada henti. Muhammadiyah juga memiliki lembaga permusyawaratan tertinggi setelah muktamar dengan sebutan tanwir, yang artinya pencerahan. Demikian juga salah satu peguruan tinggi Muhammadiyah di Jawa Timur yakni Universitas Muhammadiyah Sidoarjo menjadikan motonya “Dari Sini Pencerahan Bersemi”. Lebih dari itu motto MATAN majalah bulanan Muhammadiyah Jawa Timur adalah “Mencerahkan”. Itu semua menandakan bahwa pencerahan merupakan khazanah Muhammadiyah. Muhammadiyah menunjukan komitmennya sebagai gerakan pencerahan.
Namun demikian pencerahan yang dilakukan Muhammadiyah haruslah tetap berada pada koridor Al Quran dan Sunnah. Barangkali dalam konteks ini peran Muhammad Abduh, seorang pembaharu Islam pada awal abad ke-20 sangat besar terhadap formasi pemikiran Muhammadiyah. Abduh telah berhasil menangkap kembali elemen-elemen kemajuan yang sesungguhnya inheren dalam ajaran Islam yang pernah terkubur dalam  lumpur kejumudan umat di abad pertengahan. Pencerahan abad ke-18 di Eropa tidak ditelan mentah-mentah. Elemen-elemen itu ditangkap kembali oleh Abduh, kemudian diintegrasikan dalam pemikiran dan gerakan pembaharuannya.
Semangat pencerahan Eropa yang menggugat otoritas gereja ditransformasikan ke dalam gerakan Islam yang menggugat taklid kepada ulama. Semangat menggugat perilaku tradisional di Eropa ditransformasikan ke dalam bentuk gugatan terhadap tradisi keterbelakangan umat. Semangat rasionalisme ditransformasikan menjadi gerakan ijtihad. Semangat melawan tirani ditransformasikan menjadi gerakan melawan kolonialisme barat untuk kemerdekaan bangsa-bangsa Islam.
Kemampuan KH. Ahmad Dahlan untuk meletakkan  itu semua dalam gerakan pencerahan Islam adalah prestasi yang luar biasa. Karena itu Muhammadiyah harus tetap mencerahkan. Pencerahannya tidak seperti pencerahan Amin Kurdi yang individualistic dan juga tidak berkiblat kepada pencerahan Eropa yang sekuler.
Dikutip dari Buku Di Balik Simbol ; Memahami Pesan Agama dengan Semangat Kemajuan
Karangan Prof. Dr. Syafiq A. Mughni