Le Mezquita de Cordoba; Ratapan Atas Keruntuhan Peradaban Islam

Oleh: Muhammad Kusnadi
Le Mezquita de Cordoba atau Masjid Cordoba adalah peninggalan Kekhalifahan Islam di Cordoba, Andalusia, Spanyol Selatan. Masjid ini dibangun pertama kali dijaman pemerintahan Abdurrahman I pada tahun 785M, kemudian diperluas oleh para penguasa muslim sesudahnya sampai dengan pemerintahan Al Mansur di tahun 961 M. Setelah kekuasaan Islam di Andalusia diruntuhkan oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabela, masjid itu diubah fungsinya menjadi katedral sampai sekarang.
Saat mendapatkan tugas dinas ke Eropa, saya menyempatkan melancong ke Cordoba. Le Mezquita adalah daya tarik utama di Cordoba bagi para wisatawan. Meskipun saat ini difungsikan sebagai katedral dan dipakai untuk misa, komplek itu terbuka untuk para turis. Saya menginap di hostel kecil dekat Le Mezquita. Seorang wisatawan, pria pensiunan dari Amerika, ketika tahu saya seorang muslim, dengan antusias mengungkapkan, bahwa dahulu di jaman pemerintahan Islam berkuasa di Cordoba, tiga agama, Islam, Nasrani dan Yahudi hidup berdampingan secara damai, karena Kekhalifahan Islam saat itu menjamin kebebasan beragama. Setelah pemerintahan Islam jatuh, kebebasan beragama tidak ada lagi. Ferdinand dan Isabel serta raja-raja Spanyol Kristen sesudahnya mengkampanyekan pemindahan agama secara paksa. Bahkan saat itu kerajaan Spanyol sampai membuat makanan rakyat dari daging babi, tujuannya adalah sweeping orang-orang yang tidak mau makan babi – para pemeluk Islam- untuk dipaksa murtad atau diusir paksa keluar dari Andalusia. Orang Amerika itu bukan orang muslim, mungkin Nasrani atau bahkan sudah tidak begitu peduli dengan identitas agama, tetapi  mencoba terbuka dan jujur terhadap sejarah. ‘Sayang sebagian umat muslim di Suriah sekarang malah berbuat hal mirip dengan apa yang dilakukan penguasa Kristen  jaman dulu’, kata dia. ‘Not all Moslems agree with ISIS action Sir’, saya menimpali. ‘Moslems in Indonesia are tolerant and moderat’.
Memasuki Le Mezquita, saya takjub menyaksikan keindahan arsitektur nya, pilar-pilar kokoh dengan lengkungan busur tapal kuda diatasnya yang disusun bertingkat dengan garis-garis warna merah bata, interiornya dan ornamen kaligrafi di beberapa tempat yang masih tersisa. Saya mengetahui dari buku tentang Cordoba yang dijual untuk para turis,  lengkungan busur yg dibuat bertingkat dengan konstruksi yang sedemikian rupa itu disebut sebagai rancangan yang jenius, sebagai solusi untuk mengatasi masalah ruang dan ketinggian langit-langit , dikarenakan pilar pilar yang dipakai tidak begitu tinggi, dengan tetap menghasilkan struktur keseluruhan bangunan yang kokoh. Rancangan sang insinyur saat itu menghasilkan sensasi ruangan yang luas, sirkulasi udara yang bagus dan cahaya yang cukup.  Saya membayangkan masjid ini dahulu berada di pusat kota dan pastilah ramai dengan jamaah yang berbondong bondong menuju masjid ketika adzan dikumandangkan dari minaret.
Menurut catatan sejarah, pada saat itu Cordoba adalah kota termaju di Eropa, pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Konon di jaman pemerintahan Al Hakam II (961-976M), di Cordoba terdapat 3000 masjid dan 100,000 toko.  Jalanannya rata, terang di malam hari disinari oleh lampu lampu dari rumah rumah di pinggirnya. Sebagai perbandingan, kota London tujuh abad setelah periode ini baru memiliki satu lampu umum. Al Hakam sangat mendukung kemajuan ilmu pengetahuan. Universitas Cordoba berkembang pesat dan menarik minat para siswa, baik muslim maupun Kristen, tidak hanya dari wilayah spanyol, tetapi juga dari wilayah-wilayah lain di Eropa, Afrika dan Asia. Perpustakaan yang ada di Cordoba mempunyai koleksi tidak kurang dari 400,000 buku.  Al-Hakam juga mendirikan sekolah-sekolah gratis di Cordoba.  Para sejarawan mengatakan bahwa hampir semua orang bisa membaca dan menulis, sementara di eropa Kristen saat itu, hanya pengetahuan dasar saja yang dikuasai.  Sejarah tidak bisa dipungkiri, Islam lah pembawa bibit kemajuan di Eropa, dan salah satu kota terpenting pembawa bibit kemajuan itu adalah Cordoba. Saya melihat didekat komplek Le Mezquita sebuah patung untuk mengenang Ibnu Rusyd, salah seorang ilmuwan muslim yang karya-karyanya sangat berpengaruh di Eropa pada masa lalu.
Saat berkeliling di dalam Le Mezquita, saya bertemu lelaki yang mengaku dari Palestina. Pria itu memeluk dan mencium kening saya ketika tahu saya seorang mulsim dari Indonesia. Saya melihat matanya berkaca-kaca. “Tempat ini seharusnya adalah masjid, bukan katedral”, dia berkata lirih. You see the Mihrab there ? Saya mengangguk, melihat ruangan mihrab yang kini dipagari dengan jeruji besi. “What’s wrong with that officer ? Saya menunjuk seorang petugas yang dari tadi saya lihat terus mengawasi. Dia menggamit lengan saya dan berkata pelan, “saya tadi mengangkat tangan dan berdoa di depan mihrab, petugas itu langsung menghampiri dan menegur saya, no praying, please” . Segala bentuk ritual peribadatan umat muslim di dalam Le Mezquita memang dilarang. Pernah ada permintaan dari asosiasi muslim Spanyol supaya umat muslim diijinkan untuk melakukan ibadah sholat ditempat ini, tetapi permintaan itu ditolak oleh pihak gereja katolik Spanyol dan juga oleh Vatican.  Pada tahun 2010, pernah terjadi insiden antara para petugas dengan sekelompok turis muslim dari Austria yang bersikeras untuk melakukan sholat di tempat ini.
Seperti si orang Palestina itu, perasaan saya campur aduk, haru, pilu, sesak jadi satu.  Tempat yang indah ini dulu adalah masjid besar Cordoba, sekarang di sekeliling ruangan  bertebaran chapel-chapel dengan aneka patung Santo, orang yang dipuja karena dianggap orang suci oleh penganut Katolik. Bagian tengah ruangan dirombak menjadi ruangan katedral yang dipakai untuk misa. Lama-lama saya jadi misuh. Begitu angkuhnya Ferdinand, Isabela dan para penguasa Kristen yang memaksakan pemindahan agama, bahkan bangunan masjid-pun di Kristenkan. Tidak ada rasa penghormatan sama sekali seolah tidak ada dalam ingatan mereka betapa sebelumnya para pemeluk Kristen diperlakukan dengan baik dibawah pemerintahan kerajaan Islam.
Menurut Philip K.Hitti dalam History of Arab, pemeluk Islam di Andalusia saat itu bukan hanya orang keturunan Arab, tetapi juga penduduk asli yang sudah memeluk Islam. Mereka dipaksa untuk meninggalkan bahasa, peribadatan, institusi dan cara hidup sebagai seorang muslim. Hampir semua orang Islam kemudian diusir dan dideportasi secara paksa dari daratan Spanyol.  Hingga sekarang ini, nyaris tidak tersisa jejak peradaban Islam di Spanyol yang dulu pernah mewarnai selama tujuh abad. Peradaban yang dulu menjadi cikal bakal renaissance di Eropa, yang  membawa benih benih kemajuan bagi Eropa.
Begitulah perbedaan penguasa Kristen dengan Penguasa Muslim. Penguasa Muslim memang melakukan ekspansi politik ke wilayah lain, tetapi kekuasaan politik itu tidak sedikitpun dipakai untuk melakukan penindasan atau pemaksaan terhadap hak-hak dasar manusia. Penduduk dijamin kebebasannya untuk menjalankan keyakinan agamanya masing-masing, bahkan dilindungi. Bandingkan dengan  penguasa Kristen, kekuasaan politik dipakai untuk misi menyebarkan agama, bahkan dengan cara-cara pemaksaan dan penindasan, seperti yang menjadi catatan sejarah di Spanyol.  Sampai saat ini masih saja ada orang barat yang mencoba menyangkal sejarah, mengatakan kalau Islam disebarkan dengan pedang, dan apa yang dinamakan jaman kegelapan di Eropa disebabkan karena peradaban Romawi  di Eropa  dihancurkan oleh Islam, seperti yang dipropagandakan oleh Dr. Bill Warner.
Saat melanjutkan perjalanan, di terminal bus Cordoba, seorang lelaki berbaju gamis arab menghampiri saya.  “Where are you from ? Malaysia ?” Dia mengira saya dari Malaysia, mungkin melihar raut Melayu saya. “No, Indonesia”. “Oh Indonesia, are you moslem ?”  “Yes”, jawab saya. “Oh, have you seen the Mosque ?” dia langsung mengajak ngobrol tentang Le Mezquita dan kejayaan Islam di Cordoba pada masa lalu. “What we are now? In the past we’re the leader, we’re in the head, now we are chicken”. Pria arab itu meskipun berucap sambil sedikit bercanda terasa getir nadanya.
Saya pandangi roman bridge yg membentang di atas sungai guadalquivir dan bangunan masjid Cordoba yang lama-lama hilang dari pandangan mata dari dalam bus yang saya tumpangi. Entah kapan Islam bisa menyinari lagi bumi Andalusia. Jutaan umat muslim mendoakan semoga adzan kembali berkumandang dari minaret Le Mezquita, membawa kembali peradaban Islam yang hilang dari bumi Spanyol.  Membawa kembali keindahan kebebasan beragama, umat Islam, Kristen, Yahudi hidup berdampingan secara damai. Saya mengirim message ke istri saya : “On the bus to Granada”. Tak lama kemudian, balasan istri saya muncul, singkat : “Istana Al-hambra”. (http://almuflihun.com)