Komunitas Lumajang Tolak Perayaan Valentine

LUMAJANG
Sejumlah komunitas di Kabupaten Lumajang, yakni Lumajang Hijabers
Community, PKPU, Damar Club, serta 1 Day 1 Juz, berunjuk rasa menolak
perayaan Hari Valentine di Indonesia, Jumat, 13 Februari 2015. Aksi yang
diikuti puluhan remaja putri serta ibu-ibu itu diwarnai acara bagi-bagi
jilbab kepada pengendara kendaraan bermotor di perempatan Adipura,
Jalan Panglima Sudirman, Lumajang.

Selain diwarnai orasi, aksi
menolak Hari Valentine ini juga disertai pekikan takbir berkali-kali.
Massa membawa poster bertuliskan “Say No to Valentine” serta imbauan
mengenakan jilbab. Koordinator lapangan aksi ini, Novi Istianah,
mengatakan prihatin dengan sikap remaja putri zaman sekarang terkait
dengan Hari Valentine.

Apalagi, kata dia, sejumlah minimarket
atau supermarket disebut-sebut menjual permen cokelat berhadiah kondom
selama Valentine. “Artinya, momen Hari Valentine ini dipakai sebagai
media memfasilitasi seks bebas,” katanya.

Dalam orasinya, Novi
menceritakan kejadian yang dijumpai rekannya yang berprofesi sebagai
tenaga medis. Tenaga medis di sebuah rumah sakit swasta itu, kata dia,
kebingungan ketika memasang kateter pada perempuan muda yang terkena
gangguan saraf otak.

Tenaga medis tersebut lalu menanyakan usia
pasien itu ke ibunya. Tenaga medis itu kaget lantaran, walau masih duduk
di kelas II sekolah menengah pertama, pasien itu seperti sudah tiga
kali punya anak.

Novi juga berkisah tentang seorang ibu yang
tengah memeriksakan anaknya yang masih duduk di bangku SMP ke sebuah
rumah sakit. Anak perempuannya ini mengeluh tidak bisa buang air besar,
sehingga membuat perutnya membesar. Ternyata sang ibu tidak tahu bahwa
anaknya sedang hamil.

Cerita-cerita seperti itulah yang membuat
sejumlah komunitas di Lumajang prihatin. Seorang perempuan dokter yang
juga salah satu orator dalam aksi tersebut pun menceritakan beberapa
kasus persalinan pada usia dini. “Ada kecenderungan meningkat,” katanya.

Aksi
menolak Valentine ini, kata dokter tersebut, merupakan bentuk
keprihatinan terhadap para remaja putri. “Ini juga sebagai upaya untuk
menghimbau para orang tua agar menjaga putra-putrinya,” katanya. (sp/tempo)