Kiat Membina Ukhuwah Islamiyah

Dr. H. Suhairy Ilyas Lc. MA
Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al Hujurat [49] : 10)
Pada dasarnya, ayat di atas terkait dengan ayat sebelumnya (ayat 9) yang memerintahkan kepada orang beriman agar mereka mendamaikan dua kelompok orang beriman yang berperang. Kenapa wajib didamaikan? Jawabannya terdapat pada ayat 10 ini, yaitu karena orang beriman itu bersaudara laksana satu ibu-satu bapak, karena itu tidak layak mereka bermusuhan apalagi berperang sesama mereka. Jangankan berperang, baru sekedar berselisih faham saja, Islam sudah menganjurkan agar mereka yang berselisih faham ini segera didamaikan agar tidak berlarut menjadi perang atau permusuhan.
Ayat di atas juga terkait dengan akhir surat sebelumnya yaitu akhir surat Al Fatah (Surat 48 ayat 29) yang menjelaskan bahwa Muhammad Rasulullah Saw dan orang sekitarnya yaitu sahabat dan umatnya, mereka itu keras dan tegas terhadap orang kafir namun mereka sangat berkasih sayang terhadap sesama mereka. Kenapa mereka demikian akrab dan berkasih sayang sesama mereka? Jawabnya adalah karena mereka itu terikat dengan tali persaudaraan yang kukuh laksana orang yang bersaudara kandung.
Hanya Orang Beriman
Ayat di atas didahului kata: “innama” yang dalam ilmu nahwu (tata bahasa Arab) disebut adat hashar atau alat pembatas. Maksudnya bersaudara dengan akrab laksana bersaudara kandung itu hanya dibolehkan dengan sesama orang beriman, sedang dengan orang non muslim kita dibolehkan bergaul dengan baik tapi tetap harus menjaga jarak, jangan terlalu rapat. Adanya kata “innama” (hanya saja) memberi isyarat bahwa adanya perasaan bersaudara itu merupakan identitas orang beriman. Maksudnya hanya orang yang beriman yang merasa bersaudara sesama mereka, dengan arti kalau ada orang yang mengaku beriman tapi tidak mau tahu dengan saudara se-iman lainnya, maka dia bukanlah seorang mukmin yang sebenarnya.

Pentingnya Membina Persaudaraan
Membina persaudaraan sesama mukmin merupakan hal yang sangat penting dalam Islam karena ini merupakan salah satu sumber kekuatan Islam. Di saat hijrah ke Madinah (waktu itu masih bernama Yatsrib), setelah membangun masjid di Quba dan membangun Masjid di Madinah yang kemudian dikenal dengan nama Masjid Nabawi, Rasulullah Saw segera mengumpulkan segenap kaum muhajirin dari Mekkah dan Anshar dari Madinah. Masing-masing kaum muhajirin dipersaudarakan oleh Rasulullah Saw dengan kaum anshar satu persatu. Demikianlah akhirnya setiap pribadi muhajirin diresmikan oleh Rasulullah agar bersaudara dengan pribadi Anshar. Program monumental yang dilakukan Rasulullah tersebut disebut dalam sirah nabawiyah (Biografi kehidupan Nabi) dengan “Almuakhah” (menjalin persaudaraan).

Persaudaraan ukhuwah Islamiyah yang dibina Rasulullah antara muhajirin dan anshar tersebut bukan hanya sekedar formalitas seremonial, akan tetapi betul-betul dilaksanakan dan dihayati oleh para sahabat anshar dan muhajirin. Mereka betul-betul merasa seperti bersaudara kandung dan hidup dengan penuh persaudaraan yang luar biasa akrabnya. Inilah yang menimbulkan persatuan dan kesatuan umat Islam di bawah pimpinan Rasulullah Saw, yang sangat bijaksana dan penuh kasih sayang terhadap sahabat dan umat beliau. Adanya persaudaraan ukhuwah Islamiyah tersebutlah yang menimbulkan kekuatan umat Islam. Mereka tidak mudah dipecah belah dan dikalahkan oleh musuh Islam. Mereka mendapatkan kemenangan gemilang di Perang Badar dan umumnya peperangan lainnya di zaman Rasulullah, selain karena kekuatan aqidah, juga karena persaudaraan seiman yang demikian kuat dan kompaknya.
Kiat Membina Ukhuwah Islamiyah
Al Qur’an dan Sunnah Nabi sangat banyak memberikan kepada umat Islam kiat-kiat dan panduan membina ukhuwah Islamiyah, di antaranya adalah: Pertama, mencintai saudara seiman dengan ikhlash seperti mencintai diri sendiri. Sabda Rasululah Saw, “Tidak beriman seseorang dari kamu sebelum dia mencintai saudaranya seiman seperti mencintai dirinya sendiri.” (H.R. Bukhari dari Anas). Kedua, membudayakan salam. Sabda Rasulullah Saw, “Maukah kamu aku tunjukkan pada suatu amalan, jika kamu laksanakan niscaya menimbulkan kasih sayang sesama kamu, yaitu tebarkanlah salam sesama kamu.” ( H.R. Abu Daud dari Abu Hurairah)

Ketiga, saling kenal mengenal. Firman Allah Swt: “Wahai manusia! Sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (Q.S. Al Hujurat [49] :13). Keempat, saling tolong-menolong. Firman Allah Swt: “Saling tolong-menolonglah sesama kamu untuk kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah kamu saling tolong-menolong untuk perbuatan dosa dan permusuhan.” (Q.S. Al Maidah [5] : 2). Kelima, memelihara silaturrahim. Sabda Rasulullah Saw: “Siapa yang beriman dengan Allah dan hari akhir hendaklah memelihara silaturrahim.” (HR.Bukhari Muslim dari Abu Hurairah). Keenam, Al Itsar yaitu mendahulukan kepentingan orang lain dari kepentingan pribadi. Firman Allah Swt: “Dan mereka (kaum anshar) mendahulukan kepentingan saudaranya (kaum muhajirin) walau mereka sebetulnya punya kepentingan.” (Q.S. Al Hasyar [59] : 9). Ayat ini menggambarkan sikap kaum Anshar yang sangat punya kepedulian yang ikhlash dan mendalam pada saudara mereka kaum muhajirin. Kaum Anshar memberikan apa saja kebutuhan saudara mereka kaum muhajirin bukan karena sudah berlebih atau tidak memerlukannya lagi, bahkan mereka juga sebetulnya masih sangat memerlukannya, namun mereka lebih mendahulukan kepentingan saudaranya seiman.
Ketujuh, saling memaafkan dan berlapang dada. Firman Allah Swt: “Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidak sukakah kamu jika Allah mengampunimu?” (Q.S. An Nur [24] : 22). Ayat ini merupakan teguran pada Abu Bakar Shiddiq yang mulanya senantiasa memberikan santunan setiap bulan pada salah seorang kerabatnya yang bernama Misthah bin Utsasah. Namun setelah diketahui bahwa Misthah ini ikut menyebarkan kabar bohong atau fitnah keji tehadap ‘Aisyah r.a., maka Abu Bakar bersumpah tidak akan memberikan santunan lagi pada Misthah. Setelah turun ayat ini, Abu Bakar r.a. sadar bahwa dirinyalah yang ditegur Allah karena telah memutuskan silaturrahmi dengan Misthah dengan memutuskan santunan pada Misthah. Ayat tersebut memberikan tawaran pada Abu Bakar, tidak sukakah engkau jika Allah mengampuni dosamu dengan memaafkan Misthah dan kembali membina silaturrahmi dan memberikan bantuan pada Misthah. Abu Bakar langsung memberikan jawaban setelah mendengar ayat tersebut: “Ya, saya lebih mengharapkan keampunan Allah.” Maka setelah Abu Bakar membayar kafarat sumpahnya, Abu Bakar kembali membina silaturrahmi dengan Misthah dan kembali rutin memberinya santunan.
Taqwa Sebagai Landasan Ukhuwah
Selanjutnya ayat di atas mengingatkan bahwa dalam membina ukhuwah Islamiyah hendaklah dengan landasan Taqwa. Dalam membina ukhuwah Islamiyah tidak ada yang kita harap selain ridha Allah Swt. Bukan karena mengharapkan ridha atau simpati dari manusia dan tidak pula karena mengharapkan keuntungan dunia. Karena itu, dalam membina ukhuwah Islamiyah kita tidak boleh memilih kawan karena pangkat, kekayaan atau martabat seseorang. Kita memilih berkawan dengan seseorang hanya karena mengharap ridha Allah Swt, bukan karena mengharapkan sesuatu dari kawan tersebut. Ukhuwah Islamiyah yang berlandaskan taqwa demikianlah yang akan membawa rahmat Allah kepada kita. [tabligh.or.id]