Ketum PP NA: Penegak Hukum Harus Awasi, Permintaan Maaf Bukan Garansi

Jakarta – Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan buku psikologi remaja yang bolehkan seks bebas. Menanggapi hal ini, ketua umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiah Norma Sari nyatakan kecaman terhadap buku tersebut. Walau pengarang sudah meminta maaf, namun menurut Norma hal tersebut tidak cukup. Pemerintah harus tegas menarik dan melarang buku tersebut beredar. Berikut pernyataan beliau yang diterima Sang Pencerah:
Keresahan masyarakat dengan hadirnya buku Toge Aprilianto  Saatnya Aku
Belajar Pacaran harus menjadi perhatian serius.Permintaan maaf lewat
laman akun facebook semata belum menyelesaikan masalah. Namun bagaimana
penarikan peredaran secepatnya harus dipastikan dilakukan oleh penulis,
penerbit serta siapapun yang masuk jalur distributor.
Buku ini mengancam perlindungan anak dari segi kesehatan, moral, agama
dan hukum. Ada dua alasan mendasar mengapa pemerintah perlu memastikan
penarikan buku tersebut.
1. Negara lewat institusi yang berwewenang wajib menjaga menjaga dan
menyelamatkan geerasi muda dari pengetahuan yang menyesatkan. Yakni yang
bertentangan dengan moral, kepatutan umum dan hukum
2. Tindakan tegas aparat hukum menjadi sangat berarti sebagai suatu
pembelajaran bagi siapapun yang di kemudian hari akan melakukan hal
serupa. Menulis dan menyebarluaskan materi yang merusak akhlak dan moral
generasi penerus bangsa.  
Lebih lanjut selain negara yang harus bertindak, masyarakat luas harus
secara bersama-sama melakukan pengawasan dan pencegahan terhadap mereka
yang mencoba memberikan pendidikan yang menyesatkan. Saat ini yang urgen
bagi anak-anak terutama remaja adalah pendidikan kesehatan reproduksi
yang akan menjadikan mereka tumbuh kembang menjadi generasi sehat
sekaligus jauh dari aktivitas maksiat. (Rob)