Keterbelakangan Umat Islam Masa Kini

Apa yang menyebabkan Umat Islam terpuruk diantara bangsa-bangsa lain di dunia yang berhasil memajukan negerinya secara spektakuler? Kenapa umat Islam sampai saat ini tidak mampu menjadi pemimpin sekaligus polisi dunia atau “Khalifatul fil ard” sejati sebagaimana disebutkan dalam al Quran? Mengapa yang “menguasai” dunia ini adalah bangsa yang penduduknya bukanlah beragama Islam? Terkait dengan bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, kenapa bangsa ini tidak mampu melejit mengungguli bangsa lain di dunia ini dalam berbagai bidang kehidupan? Sederetan pertanyaan lainnya mencuat manakala kita sebagai Muslim yang nyata-nyata disebutkan dalam al Quran sebagai sebaik-baiknya umat tetapi kenyataan berbicara lain.
Tak dapat dipungkiri umat Islam lebih banyak mencontek bangsa lain (non Muslim) yang lebih maju terutama dalam hal IPTEK dan peradabannya. Mereka yang sering disebut sebagai Negara maju itu menjadi guru yang digugu dan ditiru oleh bangsa-bangsa yang mayoritas Muslim termasuk Indonesia. Bangsa ini yang mayoritas Muslim berguru kepada mereka non Muslim dalam banyak hal. Masyarakat Muslim di dunia harus mengejar ketertinggalan tersebut dengan iman Islam, sementara bangsa yang dianggap maju di dunia ini tidak memiliki iman Islam. Lantas, mengapa umat Islam yang memiliki pedoman hidup di dalam al Quran dan Hadist sampai saat ini belum mampu menandingi kemajuan yang dimiliki negara-negara maju? Apa yang menyebabkan hal itu terjadi?
Menurut pengamatan saya keterbelakangan umat islam dalam banyak aspek kehidupan disebabkan keengganan mereka menelaah kitab sucinya sendiri al Quran dan Hadist Nabi sebagai sandaran dalam menumbuh-kembangkan pemahaman tentang ilmu pengetahuan teknologi (IPTEK), kehidupan sosial dan interaksi manusia dan alam. Ribuan ayat-ayat qawliyah menceritakan aspek-aspek IPTEK dan ipoleksosbud (ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya) sedangkan aspek-aspek ritual keagamaan hanya ratusan ayat banyaknya, namun umat Islam ternyata lebih berkutat pada aspek-aspek yang disebut terakhir ini. Alhasil, ayat-ayat dalam al Quran yang mengkisahkan dan menjelentrehkan  IPTEK dan Ipoleksosbud belumlah menjadi prioritas umat Islam.
Pakem, prinsip, atau pun rambu-rambu yang mesti dipahami Muslim dalam melaksanakan antara ibadah madhoh dan ibadah muamalah tampaknya belum berjalan merata dan sempurna. Dalam menjalankan ibadah madhoh Muslim patut mengikuti kaidah fiqih yang mengemukakan bahwa setiap ibadah pada dasarnya tidak boleh sebelum ada perintah untuk mengerjakannya. Sedangkan dalam menjalankan ibadah muamalah berkaidah sebaliknya yakni pada dasarnya segala ibadah muamalah itu diperbolehkan sampai ada larangan yang tidak membolehkannya. Dalam bahasa sederhana saya sering mengibaratkan bahwa untuk beribadah madhoh kita tidak boleh kreatif dan mesti mengikuti aturan yang ditetapkan, sementara dalam ibadah muamalh kita sepatutnya melakukan kerja-kerja kreatif agar memeroleh hasil lebih baik dan terus menerus berkembang hingga yaumul akhir. Tampaknya, fenomena yang terlihat terutama di negeri ini justeru sebaliknya dimana secara kreatif kerap dijumpai tata cara ibadah yang tidak mengikuti petunjuk al Quran dan Hadist Nabi Muhammad SAW. Sementara itu disisi lain kita sangat malas berkreasi dan berinovasi untuk persoalan muamalah termasuk dalam konteks ini terkait dengan pengembangan IPTEK dan pencerahan Ipoleksosbud yang ditanam-suburkan melalui inspirasi dan sandaran ayat-ayat al Quran dan Hadist sebagaimana telah diialami-rasakan pada zaman kejayaan Islam masa lalu.
Aries Musnandar
Akademisi UIN Maliki Malang