Kesejahteraan Ekonomi Umat Berbasis Masjid

oleh: Aries Musnandar
Pemahaman umum dimaklumi bahwa masjid adalah tempat umat Islam beribadah terutama
sholat. Umat Islam amat dianjurkan untuk Sholat berjamaah di masijid
yang nilai pahalanya 27 kali lipat dari pada sholat sendiri dirumah.
Semasa hidupnya Nabi senantiasa mewanti-wanti umat Islam untuk sholat
berjamaah di masjid. Disamping melakukan melaksanakan ibadah mahdhah
berupa Sholat, berzhikir, bershalawat dan berdoa maka di masijd pun
Nabi Muhammad SAW mengajarkan umatnya untuk melakukan ibadah ghairu mahdhah
terutama bermuamalah untuk kebaikan dan kesejahteraan umat. Sehingga
keberadaan utama masjid sesungguhnya selain digunakan umat untuk sholat
berjamaah tetapi juga berupaya memakmurkan masjid  dengan berbagai kegiatan yang dapat memakmurkan umat Islam. 
Dengan
demikian fungsi masjid bagi umat Islam bukan main luar biasa manfaatnya
yakni memperoleh 2 kesejahteraan sekaligus yakni kesejahteraan materi
dan non materi atau juga kedamaian lahir dan batin. Inilah Islam yang
mengajarkan keseimbangan bagi keduanya dalam meraih kebahagiaan dunia
dan akherat. Kebahagiaan dunia kerap dihubungkan dengan kenikmatan
material, sedangkan kebahagiaan akherat dikaitkan orang dengan
kenikmatan spiritual yang bisa dirasakan langsung oleh mereka sendiri.
Sebagai agama fitrah Islam sangat teliti dan cermat dalam menempatkan
manusia sebagai makhluk yang membutuhkan kedua kebahagiaan tersebut.
Namun demikian, diungkapkan pula bahwa seandainya pun umat Islam tidak
memperoleh kesejahteraan materi di dunia (dalam arti kekayaan) tetapi
jika mentaati perintah dan larangan Nya, maka kesejahteraan hakiki akan
diperoleh kelak di akherat (di dalam surga) yang dijanjikan Allah.
Selama
ini di Indonesia fungsi masjid masih belum dioptimalkan sebagaimana
yang diajarkan Rasulullah. Masjid dimanfaatkan umat islam sebatas
menunaikan ibadah mahdhah namun ibadah ghairu mahdhah belum
maksimal diperhatikan. Pelaksanaan sholat berjamaah 5 waktu di masjid
pun masih belum sesuai harapan alias masih sedikit orang yang melakukan
sholat  berjamaah kecuali pada sholat jumat. Padahal, jika umat Islam
mampu menjaga jamaah sholat subuh yang sama banyak shafnya dengan jamaah
sholat Jumat, maka peluang berjaya umat ini akan terbuka lebar. 
Musuh
Islam tidak menginginkan umat Islam bisa berjamaah secara padu dan
militan karena mereka tidak ingin kebenaran al Quran mendunia. Oleh
karena itu segala upaya dilakukan agar umat Islam tidak berada dalam
persatuan dan kesatuan umat. Apalagi jika persatuan dan kesatuan umat
Islam dilangsungkan melalui masjid, maka musuh-mush Allah berusaha
sedemikian rupa menghalangi-halanginya dengan menyibukkan umat dalam
berbagai urusan dunia yang menipu.  Sayangnya, saat ini umat Islam di
Indonesia belum bersatu padu meski kuantitasnya banyak tetapi kualitas
militansi dan ketaatannya masih perlu terus menerus ditingkatkan. 
Pimpinan
dan tokoh Islam menjadi bertanggung jawab atas harapan untuk mewujudkan
keterpaduan umat ini. Oleh karena itu memperkuat keterpaduan dan
membangun kesejahteraan ekonomi umat hanya efektif dapat dilakukan
jikalau umat mendayagunakan fungsi masjid. Masjid tidak hanya tempat
melaksanakan ibadah ritual belaka atau ramai pada momen-monen tertentu
saja seperti ramadhan dalam penyaluran zakat, infak dan sedekah tetapi
penuntasan kemiskinan, solidaritas sosial bisa dimulai dari masjid. 
Setiap
Jumat kita mendengarkan laporan takmir masjid atas pengeluaran dana
umat yang digunakan sehari-hari. Laporan rutin itu biasanya berisi uang
yang dikelurakan untuk transportasi khatib, imam dan kebutuhan rumah
tangga masjid atau mungkin pembiayaan renovasi masjid. Saldo kas masjid
ada yang bernilai belasan hingga ratusan juta diumumkan setiap Jumat
oleh pengurus secara rutin. Fenomena ini sesungguhnya menunjukkan kepada kita paling tidak 3 hal. 

Pertama,
semangat umat dalam memberikan ZIS (Zakat Infak Sedekah) khususnya
setiap Jumat cukup tinggi dan membuka peluang ZIS bisa meningkat lebih
banyak lagi. Kedua, sifat laporan keuangan yang terkesan rutin
mengindikasikan takmir atau umat yang berada disekitar masjid belum
mampu mendayagunakan sumber-sumber yang ada untuk dikelola secara Islami
agar lebih produktif untuk kesejahteraan ekonomi umat. Perputaran uang
cukup besar bisa digunakan untuk mendorong umat maju secara ekonomi.
Ketiga, dari semangat umat dan ketersediaan dana awal yang dimiliki
masjid bisa dimulai melakukan kegiatan-kegiatan muamalah, pendidikan,
sosial ekonomi dan lainnya yang bersifat ghairu mahdhah, sehingga
sebagaimana yang dianjurkan Nabi agar  masjid menjadi makmur dan umat
dalam keadaan makmur. Aktivitas sosial kemasyarakatan umat Islam yang
merupakan pengejawantahan dari solidaritas sosial di kalangan Muslim
sebagaimana dicontohkan Nabi beserta para Sahabat sesungguhnya dimulai
dari dalam dan lingkungan masjid. Wallahu a’lam.