Kader IMM Aceh Mewakili Indonesia Hadir di IIUM Malaysia

Banda Aceh, Jum’at (13/2/2015). Keragaman adalah sunnatullah yang tidak bisa kita ingkari. Kita diciptakan Allah bukan dalam keseragaman, tapi dalam keragaman dan perbedaan, baik berbeda dalam hal suku, bangsa, bahasa, warna kulit, agama, keyakinan, dan lain sebagainya. Dari perbedaan itu, Allah memerintahkan agar kita saling mengenal dan mengasihi, bukan untuk saling memusuhi.
Konferensi Internasional yang bertemakan “World Interfaith Harmony Week and Tolerance 2015” berlangsung di International Islamic University Malaysia (IIUM), Kuala Lumpur, Malaysia. Landasan pelaksanaan kegiatan konferensi tersebut berdasarkan Resolusi PBB yang diusulkan oleh Raja Abdullah II dan Pangeran Ghazi bin Muhammad Yordania pada Tahun 2010, setiap Negara anggota PBB diharapkan membuat kegiatan  Inter-faith Harmony Week selama satu minggu pada minggu bulan Februari setiap tahunnya. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mewujudkan keharmonisan antar umat beragama di dunia dengan cara berdialog satu sama lain.
International Islamic University Malaysia (IIUM) menjadi salah satu penyelenggara Inter-faith Harmony Week di Malaysia. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada 4-5 Februari 2015 tersebut dihadiri oleh berbagai panelis profesional dari berbagai agama. Ini adalah keempat kalinya IIUM menyelenggarakan World Interfaith Harmony Week.
Terdapat beberapa sesi dalam acara 4th World Interfaith Harmony Week di Malaysia tersebut. Ada sesi Konferensi dan Seminar dengan metode Harmony Round Table discussion. Ada pula Harmony Visit yang merupakan kunjungan kebudayaan dan keberagaman atau City Tour di Malaysia. Kemudian, ada pula sesi tambahan yakni Harmony Gala Dinner yang bertujuan untuk lebih mengakrabkan setiap pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Selain itu Konferensi dan Seminar Internasional Interfaith Harmony and Tolerance yang mengangkat tema ‘Love the Good, and Love of the Neighbour’ juga dihadiri oleh delegasi dan undangan dari berbagai Negara, Lembaga dan Organisasi. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan satu-satunya delegasi dari Indonesia. Sementara itu, dari 10 orang (7 orang laki-laki dan 3 orang Perempuan) delegasi Indonesia yang ikut serta, satu-satunya adalah kader IMM ACEH yang juga menjadi delegasi Indonesia untuk berpartisipasi dalam kegiatan Interfaith Harmony Week di IIUM atas rekomendasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM.
Mizan Aminuddin, kader IMM ACEH sekaligus delegasi Indonesia memberikan pandangan bahwa “konferensi ini menjadi Roadmap kita sebagai pemuda/i untuk menciptakan kedamaian dalam keberagamaan, mensosialisasikan ke berbagai daerah untuk saling menghormati antar Umat Beragama”. Jelas Mizan Aminuddin Mahasiswa Aktif di Univ. Muhammadiyah Aceh.
Mizan juga menambahkan Sejarah dan perjalanan hidup Nabi Muhammad telah menegaskan semangat kerukunan dan kasih sayang. Sebagaimana diketahui, sebelum Islam datang, di Arab telah berkembang bermacam agama dan kepercayaan yang berbeda, seperti Yahudi, Kristen, Majusi, Zoroaster dan Shabi’ah. Dan ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, di sana juga sudah ada beragam agama yang dianut, dimana yang terbesar adalah Yahudi dan Kristen. Bahkan, di Madinah, Nabi Muhammad tidak hanya menemukan keragaman agama, tetapi juga keragaman suku dan adat istiadat,” Tegas Sekretaris Bidang Hikmah DPD IMM Aceh.
Dan penghargaan terhadap keragaman ini dapat mulai kita praktekkan dalam lingkup kehidupan yang kecil dan sederhana yaitu bertetangga. Dalam bertetangga, Islam mengajarkan kita untuk menghormati siapapun tetangga kita, baik mereka itu seagama, sesuku, dan sama warna kulitnya, maupun mereka itu berbeda agama, berbeda suku, dan berbeda warna kulitnya. Nabi Muhammad bersabda, “Siapapun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya memuliakan tetangganya.” Di sini Nabi tidak merinci tetangga dengan sifat-sifat tertentu; yang berarti siapapun tetangga kita, dari manapun asal-usulnya, dan apapun agama dan kepercayaannya, harus selalu kita hormati dan hargai.”Tutup Mizan. (sa/sangpencerah.id)