Inspirasi Pengajian Thaharatul Qulub KH. Ahmad Dahlan


Sebelum mendirikan Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan telah lama mengadakan pengajian. Dimulai dengan menggantikan ayahnya KH. Abu Bakar. Setelah KH. Abu Bakar menyerahkan pengajiannya kepada KH. Ahmad Dahlan, KH. Ahmad Dahlan lalu merancang pengajian tersendiri. KH. Ahmad Dahlan prihatin terhadap kehidupan para juragan batik yang bermewah-mewah.

Lalu beliau selalu mengundang para juragan batik pada setiap malam Jum’at. Mereka diajak makan dengan makanan yang istimewa. Misalnya pada malam Jum’at pertama disajikan nasi gudeg manggar dengan daging ayam. Selesai makan mereka yang ingin pulang dipersilahkan, yang masih ingin omong-omong juga dipersilahkan. Pada malam Jum’at kedua, juragan-juragan itu diundang lagi. Kali ini yang disajikan sate kambing dan gule Kauman yang terkenal itu.

Seperti pada malam Jum’at sebelumnya, setelah selesai makan mereka yang ingin pulang dipersilahkan pulang. Mereka yang masing ingin jagongan (kongkow-kongkow) dipersilahkan. Malam Jum’at berikutnya mereka diundang lagi dan disuguhi opor ayam. Selesai makan yang ingin pulang dipersilahkan pulang, yang ingin jagongan juga dipersilahkan. Begitulah juragan itu setiap malam Jum’at diundang makan dengan sajian makanan yang paling terkenal kelezatannya dan selalu berbeda dengan malam Jum’at sebelumnya.

Setelah undangan yang kesekian kalinya para juragan itu sama berbisik-bisik. Kata salah seorang dari mereka, “Apa sebenarnya kemauan KH. Ahmad Dahlan mengundang kita makan-makan enak setiap malam Jum’at ini? Kan kita ini termasuk orang-orang yang berkecukupan, kok setiap malam Jum’at diundang makan?”. Yang lain menjawab, “Tidak tahu. Kita tanyakan saja kepada beliau apa maksudnya”.

Akhirnya diantara juragan-juragan itu ada yang memberanikan diri bertanya kepada KH. Ahmad Dahlan. “Kiai, sebenarnya maksud Kiai mengundang kami pesta makan setiap malam Jum’at itu apa? Mohon maaf Kiai, kami ini kan termasuk orang-orang yang berkecukupan. Kalau kami makan dengan makanan yang lezat-lezat seperti ini setiap hari. Insya Allah kami mampu dan tidak akan jatuh miskin.”

KH. Ahmad Dahlan menjawab, “Ya, nggak apa-apa. Saya ini senang makan makanan yang lezat-lezat seperti ini bersama sampeyan-sampeyan itu.” Kata salah seorang dari juragan itu, “Bagini kiai, kalau setiap malam Jum’at kami diundang makan, setelah selesai makan lalu pulang ini kami kan cuma dapat wareg (kenyang) saja. Tentu saja kami senang diberi makan yang lezat-lezat dan gratis. Tapi begini Kiai, Kiai ini kan seorang alim, seorang ulama, yang ilmunya banyak. Mbok kami ini selain diberi makan, juga di’ciprati’ ilmu Kiai. Maksud kami, selain diundang makan, juga diberi nasehat-nasehat, diberi pelajaran agama”.

Mendengar ‘protes’ dan usulan itu, Kiai Dahlan tersenyum karena pertanyaan seperti itulah yang ditunggu-tunggu. Masih sambil tersenyum Kiai bertanya, “Apa sampeyan-sampeyan mau saya beri pengajian? Apa sampeyan-sampeyan mau mendengarkan pengajian saya?” Jawab para juragan hampir serempak, “Mau”. “Betul mau?”, tanya Kiai Dahlan sekali lagi menegaskan. Jawab para juragan, “Betul. Mau Kiai.” Kemudian Kiai Dahlan berkata, “Baik kalau begitu saya akan beri nasehat tapi sedikit saja.”

Lalu Kiai Ahmad Dahlan menceritakan penderitaan orang-oeang miskin, tentang kehidupan tukang-tukang yang membantu mereka yang membuat batik, yang ngecap, mbatik, medel, ngerok dan seterusnya. Juga orang yang ngepaki dan mengirim dagangan dan seterusnya.Yang dibantu jadi orang-orang kaya, jadi juragan-juragan, sementara yang membantu tetap miskin. Beliau juga menceritakan kehidupan petani-petani miskin. Mereka tinggal di rumah-rumah yang tidak layak. Dindingnya gedhek, lantainya tanah. Lingkungannya kumuh. Mereka kadang-kadang kekurangan makan. Tidak bisa menyekolahkan anaknya. Kadang salah satu anggota keluarganya sakit tidak bisa berobat. Tidak bisa menjalankan agama dengan baik, tidak bisa beramal, apalagi zakat dan haji. KH. Ahmad Dahlan juga menceritakan kehidupan orang-orang miskin yang sudah tua, orang-orang miskin yang cacat, anak-anak yatim yang terlantar dan sebagainya. Mereka sering harus menahan lapar karena tidak ada makanan, dan berbagai penderitaan hidup serta kesulitan lainnya.

Surat-surat al-Qur’an yang dikaji oleh KH. Ahmad Dahlan antara lain al-Ma’un, al-Humazah, at-Takatsur dan lainnya. Juga tentang kezuhudan Nabi, Abu Bakar as-Siddiq, Umar ibn Khatthab dan yang lainnya. Intinya pengajian itu adalah membersihkan penyakit hati, utamanya kecintaan kepada harta benda, kerakusan dan kemewahan hidup dan perlunya memperhatikan dan membantu pada sesama yang nasibnya kurang bagus.

Dari pengajian itu akhirnya timbul kesadaran para juragan akan makna hidup, fungsi kekayaan, mereka memiliki kepekaan sosial terhadap fakir miskin dan anak yatim. Akhirnya para juragan itu setelah sadar semua menjadi tulang punggung Muhammadiyah dalam hal pendanaan. [oleh: M.Syukriyanto, dimuat dalam Suara Muhammadiyah 03/98/1434 H)