Inilah Bahaya Sifat Pemarah

oleh : Gonda Yumitro,S.IP, MA

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk bahkan materialistis sekarang
ini, banyak orang yang susah mengendalikan emosi. Terkadang amarah pun
memuncak.
Bagi para pekerja dimana mereka dituntut menyelesaikan
seabreg agenda, tetapi terkadang tuntutan hidup yang layak juga belum
bisa terpenuhi dengan baik, tidak jarang memunculkan amarah. Demikian
juga dengan para pimpinan yang melihat bawahannya tidak melakukan dengan
baik apa yang menjadi kewajibannya, terkadang kemarahan seakan menjadi
sarana untuk menunjukkan kewibawaannya.
Kondisi pun bertambah
pelik dikarenakan kesibukan dunia yang digelutinya membuat ia jarang
berinteraksi dengan ilmu-ilmu Islam, termasuk dalam merutinkan
amalan-amalan sunnah, disamping ibadah wajib tentunya.
Padahal,
insyaAllah dengan semakin memahami Islam, maka ia akan mengerti larangan
Islam terhadap sifat pemarah dan bagaimana jeleknya sifat ini. Dari Abu
Hurairah radiyallahu ‘anhu, seseorang datang menemui Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wasallam kemudian mengatakan, 
أوصني. قال: لا تغضب فردد مرارا قال: لا تغضب
Berikan nasehat kepadaku wahai Rasulullah, kemudian beliau mengatakan,
jangan marah, dan beliau mengulanginya beberapa kali. Jangan marah. (HR.
Bukhari)
Menurut para ulama, hadits ini sangat penting dan
berkaitan erat dengan masalah akhlak dan pensucian jiwa. Dimana
dijelaskan bahwa makna hadits ini paling tidak di antaranya adalah bahwa
kita disyariatkan untuk membiasakan diri meminta nasehat kepada orang
yang berilmu atau mempunyai keutamaan dalam berbagai persoalan yang kita
hadapi.
Dan kondisi inilah yang telah dilakukan oleh para
sahabat radiyallahu ‘anhum terhadap Rasulullah sholallahu ‘alaihi
wasalam. Dimana beliau shollallahu ‘alaihi wasallam pun ketika
mendapatkan pertanyaan dari para sahabat, akan menjawab sesuai dengan
keadaan siapa yang bertanya, tetapi jawabannya tetap berlaku umum untuk
setiap umatnya.
Dalam hadist ini, Rasulullah sholallahu a’alaihi
wasalam mengerti bagaimana psikologi dari sahabat tadi sehingga beliau
shollallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk tidak marah. Tentu
dalam hal-hal yang tidak syar’i. Adapun kemarahan untuk membela agama
ini mungkin karena ada anggota keluarga yang tidak sholat, tidak
berhijab, atau ada yang menginjak-nginjak syariat agama ini (dengan cara
yang benar) justru diperlukan.
Larang tadi berlaku untuk
kemarahan karena urusan pribadi, bukan agama, apalagi disampaikan dengan
cara yang jelek, akan menyebabkan berbagai kejelekan. Ja’far bin
Muhammad radiyallahu ‘anhu mengatakan, الغضب مفتاح كل شر (kemarahan
adalah pintu semua kejelekan). Demikian juga dengan Ibnu Mubarak ketika
ditanya اجمع لنا حسن الخلق (kumpulkanlah pada kami sebaik-baik akhlak,
maka beliau rahimahullah mengatakan ترك الغضب (engkau meninggalkan
kemarahan).
Para ulama menyatakan bahwa jeleknya kemarahan akan
mengeluarkan manusia dari sifat kemanusiaan. Seorang yang pemarah bukan
hanya wataknya saja yang bekerja, tetapi juga akan diikuti oleh lisan
yang tidak baik, memukul, atau bahkan mengeluarkan dirinya dari akal
yang rasional. Bahkan tidak sedikit mereka menyesal ketika telah
melampiaskan kemarahannya. 
Pernah seseorang datang kepada Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhu, kemudian berkata,
إني طلقت امرأتي ثلاثا وأنا غضبان فقال: إن ابن عباس لا يستطيع أن يحل لك ما حرم الله عليك عصيت ربك وحرمت عليك 
امرأتك
Aku telah mentalak istriku tiga kali, dan saat itu saya marah. Maka
Ibnu Abbas mengatakan, sungguh Ibnu Abbas tidak bisa menghalalkan apa
yang telah diharamkan Allah padamu. Kamu telah mengundang kemurkaan
Rabbmu dan telah diharamkan bagimu istrimu. (HR. Sunan Daruquthni)
Maka meskipun para ulama berbeda pendapat dalam perkara tholaq ketika
sedang dalam keadaan marah apa sah atau tidak, maka jika mengikuti
pendapat Ibnu Abbas hukumnya adalah sah. Wallahu a’lam.
Adapun
mereka yang bisa menjaga dirinya dari sifat amarah, maka insyaAllah akan
hal ini akan menjadi jalan baginya untuk masuk ke dalam sorga.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa pernah seseorang mendatangi
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian berkata,
دلَّنِي على عمل يدخلني الْجنَّة قَالَ لَا تغْضب وَلَك الْجنَّة
Tunjukkan aku suatu amalan yang akan memasukkanku ke dalam sorga.
Rasulullah berkata, jangan marah maka bagimu sorga (HR.Tabrani)
Dengan banyaknya kejelekan dari sifat pemarah ini dan utamanya kedudukan
mereka yang mampu menahan amarahnya, Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi
wasallam sering berdoa,
اللهم إني أسألك كلمة الحق في الغضب والرضا
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kalimat yang haqq pada saat marah maupun ridho. (HR. Ahmad)
Semoga kita semua diberikan kekuatan oleh Allah ta’ala untuk menahan
emosi kita, tidak mudah marah, dan bersikap lembut terhadap sesama.
Aamiin.