Yusniar Amara, Penyelam Berjilbab yang jadi Instruktur Pencarian Air Asia

Penampilan Yus, begitu dia biasa disapa, tidak ubahnya perempuan pada umumnya. Dandanannya sederhana. Jilbab hitam dipadu celana jins atau kain. Bila sedang bertugas, dia tidak lupa mengenakan seragam Basarnas lengan panjang.
Saat ditemui di geladak Kapal Negara (KN) 101 SAR Purworejo, Jumat (2/1), Yus tampak sibuk mempersiapkan peralatan selam yang akan digunakan timnya. Tabung-tabung oksigen dijajar di buritan. Begitu pula regulator, kacamata, pakaian selam, hingga sepatu katak ditata berpasangan, tidak jauh dari tabung oksigen.
Dengan cekatan, dia memasangkan tabung oksigen ke bouyancy control device(BCD), semacam rompi untuk tempat tabung oksigen bagi para penyelam. Dia juga mengecek regulatornya, jangan sampai ada yang bocor. Faktor keselamatan para penyelam harus diutamakan dalam upaya evakuasi korban.
Ya, Yus merupakan satu-satunya perempuan dalam operasi penyelaman kali ini. Dia adalah anggota Basarnas Banda Aceh dan bergabung dengan tim di KN SAR Purworejo sejak Rabu (31/12). Yus dipilih dalam operasi pencarian pesawat AirAsia yang jatuh di Selat Karimata, Minggu (28/12), karena kemampuan dan pengalamannya selama ini.
Sebagai penyelam SAR, Yus termasuk punya jam selam tinggi. Dia sudah berkali-kali terlibat operasi SAR yang berhubungan dengan penyelaman di sungai atau laut. Uniknya, Yus mengenal dunia selam justru dari olahraga bela diri karate.
Perempuan asli Lheue, Aceh Besar, itu sebenarnya memang atlet karate. Pada 2002, Yus menyandang tingkat dan II serta menjadi pelatih karate di Banda Aceh. Saat itu, dia sedang mengikuti training center karate untuk persiapan kejurda. Tiba-tiba, dia ditawari untuk menggantikan atlet selam yang mengalami patah kaki.
’’Saya ditawari menggantikan atlet selam itu karena saya bisa berenang. Entah mengapa saya tertarik untuk mencobanya,’’ cerita Yus.
Sejak menyanggupi tawaran itu, Yus langsung tancap gas berlatih menyelam. Hampir setiap hari. Mulai tingkat dasar hingga expert. Hebatnya, dalam kejurda itu, Yus meraih medali emas. Dia pun mulai dikenal sebagai atlet selam, bukan lagi atlet karate. Tahun itu juga Yus diminta menjadi pelatih selam di Basarnas Aceh.
Bukan hanya itu. Yus yang kala itu masih berstatus mahasiswi UIN Banda Aceh juga sering diminta membantu operasi SAR Aceh apabila ada kejadian orang hilang di laut. Termasuk, menjadi guide bagi personel Basarnas dari daerah lain saat terjadi tsunami Aceh 2004.
Selama kurun waktu empat tahun, karir Yus sebagai atlet selam terus menanjak. Pada 2006 dia pun mendaftarkan diri sebagai PNS (pegawai negeri sipil) di Basarnas dan di Depdikbud Aceh sebagai guru. Dia berhasil lulus di dua instansi tersebut.
Dihadapkan pada dua pilihan, Yus memutuskan untuk masuk Basarnas dengan ijazah SMA dan meninggalkan profesi guru dengan kualifikasi S-1. Dia masuk sebagai satu-satunya rescuer perempuan di Basarnas Aceh karena saat itu seluruh personel rescuer Basarnas adalah laki-laki.
Sejak saat itu, perempuan 35 tahun tersebut makin sering terlibat dalam berbagai operasi SAR. Dia menuturkan, operasi SAR tersulit yang pernah diikuti adalah mencari korban kapal yang terbalik di perairan Takengon, Aceh, pada 2012. Kala itu empat orang hilang.
Karena perairan Takengon cukup dalam, hanya penyelam dengan kualifikasi selam dalam yang boleh turun. Yus masuk kualifikasi tersebut. Bersama seorang penyelam lain, dia berhasil menemukan dua jasad korban kapal di kedalaman 30 meter.
Setelah menaikkan jasad dan istirahat dua jam, Yus kembali menyelam. Kali ini lebih dalam lagi dari penemuan pertama, yakni kedalaman 35 meter.
’’Seharusnya saya tidak boleh menyelam lebih dalam dari penyelaman pertama karena rawan dekompresi. Tapi, karena masyarakat sudah berharap-harap, saya ambil risiko. Alhamdulillah berhasil,” tutur perempuan yang juga terlibat dalam proses evakuasi pesawat Nomad di Aceh pada akhir 2007 itu.
Salah satu pengalamannya ikut operasi SAR di luar Aceh adalah saat terjadi tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, pada 2006. Kala itu dia tidak menyelam, melainkan menjadi koki di kapal SAR.
Menurut Yus, tidak mudah menjadi koki di kapal SAR. Sebab, saat itu kapal harus berjibaku dengan ombak setinggi 6 meter. Maka, dia pun harus bisa memegang peralatan memasak dengan kuat-kuat agar makanan tidak tumpah.
”Syukurlah saya bisa merampungkan tugas memasak itu meski saya sempat mabuk laut karena gelombangnya gede banget,’’ kenang Yusniar.
’’Tapi, makanan bikinan saya itu akhirnya tidak ada yang makan karena piringnya terbang semua,’’ tambahnya seraya tertawa.
Yang paling sering Yus lakukan tentu saja adalah penyelamatan dan evakuasi ketika menjadi lifeguard dadakan di pantai. Salah satunya, di Pantai Lhok Nga, Aceh. Di pantai tersebut sudah sering dipasang larangan berenang, namun selalu hilang. Pengunjung sulit untuk dicegah agar tidak berenang. Maka, hampir tiap pekan ada saja pengunjung yang tenggelam.
’’Korban A sedang dicari, muncul korban B. Si A ditemukan, lanjut mencari B. Korban B belum ketemu, ada kejadian lagi, korban C,’’ tutur perempuan kelahiran 5 Mei 1980 tersebut.
Karena itu, kiprah tim SAR Aceh selalu ditunggu dalam proses pencarian korban. ’’Nunggu kami itu seperti menunggu presiden saja,’’ lanjutnya sembari tersenyum.
Keputusan Yus menjadi anggota Basarnas awalnya tidak didukung penuh oleh keluarga. Sang ayah, Adnan Musa, yang seorang petani sejak awal mendukung pilihan putrinya itu. Tapi, tidak demikian halnya dengan sang ibu, Mariyana.
Sebagai ibu, Mariyana khawatir dengan pekerjaan putrinya yang menyerempet-nyerempet bahaya tersebut. Dia lebih senang bila Yus menjadi guru saja di Sabang. Tapi, lantaran sudah jatuh cinta pada profesi di Basarnas itu, Yus tidak bisa dicegah.
’’Saya bilang, di tempat kerja (Basarnas) saya bisa sewaktu-waktu pulang. Bahkan, bila tengah malam mamak minta saya pulang pun bisa. Lain bila kerja di Sabang, saya harus nunggu kapal dulu,’’ tutur anak keempat di antara lima bersaudara tersebut.
Bagi Yus, bekerja sebagai penyelam SAR merupakan panggilan hati. Karena itu, dia rela melahap berbagai latihan berat ala SAR. Bahkan, pada 2011 Yus mengikuti diklat water rescue dan menjadi peserta perempuan satu-satunya. Diklat tersebut merupakan pendidikan selam rescue lanjutan dan tidak banyak yang mampu mengikutinya.
’’Setiap kali ikut operasi di Aceh maupun luar Aceh, saya belum pernah melihat ada rekan penyelam rescue perempuan,’’ ucapnya.
Di sela kesibukannya sebagai penyelam SAR, Yus terkadang masih menyempatkan diri menyalurkan hobi lamanya, yakni karate. Apabila ada waktu, dia melatih karate anak-anak. Dia juga melatih selam anggota kepolisian dan TNI, khususnya untuk selam rescue. Saat latihan gabungan dengan Kopaska TNI-AL, terkadang Kopaska membawa anggota baru dan diserahkan kepada Yus untuk dilatih selam rescue.
Bagi Yus, bisa menolong korban di bawah air merupakan suatu anugerah. Saat operasi pencarian pesawat AirAsia QZ8501 di Selat Karimata, dia berharap bisa berkontribusi menemukan korban di dasar laut. Hanya, sejauh ini operasi penyelamanan belum bisa dilakukan karena cuaca yang tidak memungkinkan. Hingga hari kesembilan kemarin, hujan masih turun lebat, gelombang laut mencapai 3–4 meter. Apalagi, dasar laut berlumpur dengan jarak pandang 0 meter.
’’Mudah-mudahan kesempatan menyelam untuk menemukan badan pesawat maupun jasad korban bisa teralisasi nanti. Kami masih menunggu kesempatan itu,’’ tandas dia.