Wajibkah Bayar Zakat Fitrah jika Penghasilan Pas-pasan ?

Tanya:

Assalamu’alaikum,
Saya Yudhi tinggal di Sidoarjo seorang kepala rumah tangga dengan 3 orang anak.
Pada bulan April akhir saya kena PHK hingga saat ini belum mendapat pekerjaan tetap, untuk memenuhi kebutuhan hidup sementara saya kerja serabutan.
Pertanyaannya, apakah sekarang saya wajib untuk membayar Zakat Fitrah? Dengan ilustrasi penghasilan sementara ini per hari Rp 35 ribu.
Terima kasih.
Wasalamu’alaikum

Jawab:
Wa alaikumus salam w.w.
Kami ucapkan terima kasih kepada saudara Yudhi yang telah sudi menyampaikan pertanyaan kepada kami. Kami turut prihatin atas ujian yang tengah saudara hadapi. Namun demikian kami juga memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas etos kerja saudara demi memenuhi kewajiban memberikan nafkah kepada keluarga. Semoga jawaban yang kami berikan ini dapat menjadi solusi bagi saudara.
Zakat fitri, atau lebih populer dengan istilah zakat fitrah, disebut demikian karena merupakan zakat yang wajib dibayarkan karena berbuka (al-fithr) untuk mengakhiri puasa Ramadan, sebagaimana hari raya yang menandai berakhirnya puasa Ramadan disebut Idulfitri. Beberapa hukum terkait zakat fitri ini antara lain adalah sebagai berikut:

1. Hukum zakat fitri, adalah wajib atas setiap Muslim, merdeka maupun budak, dewasa maupun anak-anak, laki-laki maupun perempuan. Hal ini berdasarkan hadis;
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَاْلأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ. [البخاري].Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a., ia berkata: Rasulullah saw telah mewajibkan zakat fitri sebanyak satu sa‘ kurma atau gandum atas budak, orang merdeka, laki-laki, wanita, baik kecil maupun besar, dari golongan Islam dan beliau menyuruh membagikannya sebelum orang pergi salat ‘Id.
Di dalam riwayat Muslim juga terdapat beberapa hadis lain yang senada dengan redaksi yang berbeda-beda

2. Kewajiban zakat fitri berlaku bagi mereka yang mempunyai kelapangan rezki. Hal ini berdasarkan keumuman ayat al-Qur’an;
لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ. [الطلاق (65): 7].
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. [QS. ath-Thalaq (65): 7].

3. Zakat fitri diwajibkan untuk mensucikan jiwa umat Islam yang berpuasa dari perkataan kotor dan sia-sia sekaligus untuk memberi makan kepada orang-orang miskin. Hal ini berdasarkan hadis; 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ. [رواه أبو دادود وابن ماجه والحاكم والدارقطني].
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata: Rasulullah saw telah mewajibkan zakat fitri untuk mensucikan diri orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-sia dan kotor serta untuk memberi makan kepada orang-orang miskin. Barang siapa yang menunaikannya sebelum shalat ‘Id, maka itu adalah zakat yang diterima, dan barang siapa yang menunaikannya sesudah shalat ‘Id, maka itu hanyalah sekedar sedekah. 

[HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan al-Hakim, dengan menyatakan: Hadis ini sahih menurut kriteria al-Bukhari, dan ad-Daraqutni mengatakan: Tidak terdapat seorangpun di antara perawi-perawi hadis ini orang yang cacat riwayat].


Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang diwajibkan membayar zakat fitri adalah umat Islam yang berkelapangan rezki, yaitu orang yang pada malam hari raya Idulfitri memiliki kelebihan dari kebutuhannya dan kebutuhan orang yang ditanggungnya. Dengan demikian, meskipun penghasilan harian seseorang dianggap “pas-pasan”, namun ketika pada malam Idulfitri mempunyai kelapangan rezki karena mendapat rezki yang tidak disangka-sangka, maka kewajiban zakat itu melekat padanya.

Menurut hemat kami, penghasilan saudara yang sementara ini hanya Rp 35 ribu / hari tidak dapat menjadi ukuran saudara terkena kewajiban zakat fitri atau tidak, karena batasan kewajiban zakat fitri adalah berkelapangan rizki pada hariraya Idulfitri. Lain halnya dengan zakat maal yang memang batasannya adalah jumlah harta kekayaan yang dimiliki serta waktu kepemilikan harta kekayaan tersebut.

Demikian jawaban dari kami, atas perhatiannya diucapkan terima kasih. Kami turut berdoa agar Allah Swt segera memberikan jalan pekerjaan yang lebih layak untuk saudara sehingga mempermudah langkah saudara dalam memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus dalam menjalankan ibadah-ibadah seperti zakat fitri, zakat maal dan lain-lain.
Wallahu a’lam bish-shawab.(sangpencerah.id)