Tips Mengendalikan Kemarahan

Terkadang ada saatnya ketika kita menjadi marah. Bahkan para Nabi
alaihimissalam dan Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallam pun pernah
marah. Hanya saja yang perlu diketahui, bahwa cara penyikapan ketika
marah tersebut akan berbeda antara mereka yang berilmu dan beriman
kepada Allah dengan yang tidak.

Diceritakan oleh Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu,
خدمت النبي صلى الله عليه وسلم عشر سنين ، والله ما قال أف قط ، ولا قال لشيء لم فعلت كذا وهلا فعلت كذا
Aku menjadi pembantu Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam selama
sepuluh tahun. Demi Allah, tidak pernah sekalipun beliau mengucapkan
“uf”, dan tidak mengatakan terhadap sesuatu mengapa engkau melakukan ini
dan mengapa engkau tidak melakukan ini (HR.Abu Daud dan Tarmidzi)

Hal ini menunjukkan gambaran bagaimana lembutnya perilaku Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallam, terhadap pembantunya sekali pun. Kalau
pun sedang marah, maka tidak menyebabkan beliau shollallahu ‘alaihi wa
sallam kehilangan akal sehat, dan cukuplah kemarahan beliau terlihat
dari perubahan wajahnya.

Pernah suatu hari Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa sallam mendatangi A’isyah radiyallahu ‘anha, kemudian beliau
melihat ada pembatas yang padanya terdapat gambar makhluk hidup. Maka
berubahlah wajah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, dan kemudian
beliau mengatakan,

إن من أشد الناس عذابا يوم القيامة الذين يصورون هذه الصور
Sesungguhnya seberat-berat azab bagi manusia pada hari kiamat adalah bagi mereka yang membuat gambar ini (H.R.Bukhari)

Demikianlah kemarahan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam yang
padanya tetap terdapat kelembutan dan hikmah bagi yang orang lain.
Apalagi hanya dalam urusan dunia, maka tentu akan lebih mudah lagi untuk
memaafkan.

Atau dalam kisah lain diceritakan bagaimana dulu ibu
Syaikh Sudais juga pernah marah besar kepada Sudais kecil. Ketika itu
mereka akan kedatangan tamu, dan sang ibu pun sudah menyiapkan hidangan
sebelum tamunya datang.

Seketika datanglah Sudais kecil ke dalam
rumah dengan membawah tanah dan menghamburkan tanah tadi ke atas makanan
yang sudah disiapkan. Ibunya pun marah. Namun dalam kemarahan beliau
tetap dengan doa, dimana beliau mengatakan, “wahai Sudais, semoga Allah
menjadikanmu imam di masjidil haram!”. Dan doa doa sang ibu pun akhirnya
dikabulkan oleh Allah ta’ala.

Hal ini menunjukkan perlunya
kehati-hatian diri kita dalam mengeluarkan ucapan atau tindakan, ketika
marah sekali pun. Siapa yang pernah tahu jika ucapan yang dikeluarkan
pada saat marah tadi, apalagi dari orang tua, akan menjadi doa yang
diijabah oleh Allah ta’ala.

Oleh karena itu, para ulama
memberikan beberapa tips kepada kita ketika marah agar tidak berakhir
penyesalan. Di antaranya adalah:

Pertama, ketika seseorang marah,
maka hendaklah ia segera berta’awudz memohon perlindungan Allah ta’ala
dari syaitan. Dalam hadits shahih diriwiyatkan oleh sulaiman bin Sard,
beliau menceritakan bahwa suatu hari ketika bersama Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallam, pernah ada yang marah kepada sahabatnya
sampai wajahnya menjadi merah.
Kemudian Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إني لأعلم كلمة لو قالها لذهب عنه ما يجد لو قال أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
Sungguh aku tidak pernah mengetahui satu kalimat yang jika diucapkan
maka akan hilang apa yang terlihat padanya (kemarahan), jika dia
mengatakan Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithon yang
terkutuk. (HR.Bukhari dan Muslim)

Kedua, ketika seseorang marah,
maka hendaknya ia mengubah ke posisi yang baru dari keadaannya ketika
marah. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan hadits Abi Dzar bahwa Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا غضب أحدكم وهو قائم فليجلس
Jika salah seorang di antara kalian marah dan dia dalam keadaan berdiri, maka duduklah (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Ketiga, ketika sedang marah, maka pilihan terbaik adalah untuk dia,
kalau perlu sampai menggigit bibir kita akan tidak mengeluarkan satu
ucapan pun. Biasanya seseorang yang marah akan mengeluarkan ucapan yang
tidak berdasarkan akal sehat dan seringkali menyebabkan ia menyesal
karena ucapannya tadi.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إذا غضب أحدكم فليسكت قالها ثلاثا
Jika salah seorang dari kalian marah, maka diamlah – sampai tiga kali (HR.Ahmad)
Keempat, di saat muncul kemarahan maka hendaklah segera berwudu’. Dari
imam Ahmad diriwayatkan bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam
pernah bersabda,
إن الغضب من الشيطان وإن الشيطان من النار وإنما تطفأ النار بالماء فإذا غضب أحدكم فليتوضأ
Sesungguhnya kemarahan itu berasal dari syaithon dan syaithon berasal
dari api. Maka sungguh api akan padam terkenal air. Karena itu, ketika
salah seorang di antara kalian marah, berwudu’lah. (HR. Ahmad)

Kelima, hendaknya diri kita semakin memperbanyak berdzikir kepada Allah
ta’ala karena tidaklah kemarahan kecuali akan membuat kita semakin jauh
dari dzikir, dan pada akhirnya menghilangkan ketenangan dalam jiwa.
Padahal Allah ta’ala berfirman,
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Ketahuilah hanya dengan bedzikir kepada Allah hati menjadi tenang. (Q.S Arra’du: 28)
Terakhir, hendaknya kita memperbanyak merenungi manfaat dan kerugian
dari luapan kemarahan yang tidak kita kontrol. Kemarahan akan
menyebabkan sakit hati dari orang yang kita marahi. 

Sungguh
tidaklah kemarahan akan membuat kita menjadi lebih mulia di hadapan
orang lain, atau terlihat sebagai orang yang kuat. Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ليس الشديد بالصرعة إنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب
Tidaklah dikatakan kuat dengan fisik, karena sebenarnya kekuatan ini
pada mereka yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah. (HR. Bukhari)

Energi yang dikeluarkan untuk marah pun juga akan sangat banyak dan
menguras pikiran. Wajah orang yang marah pun juga akan terlihat kurang
enak untuk dipandang.
Adapun orang-orang yang mampu menahan
amarah padahal sebenarnya dia mampu, digambarkan oleh Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits
من كظم غيظا وهو يستطيع أن ينفذه دعاه الله يوم القيامة على رؤوس الخلائق حتى يخيره أي الحور شاء
Barang siapa yang menahan amarah meskipun ia mampu maka ia akan
dipanggil oleh Allah ta’ala di hadapan para makhluk, sampai ia diminta
memilih bidadari yang diinginkannya. (HR. Ahmad)

Oleh karena itu, kita memohon kepada Allah agar memberikan kekuatan bagi kita untuk mampu mengendalikan kemarahan. Aamin.

Gonda Yumitro, S.IP, MA