Pedanda Made Gunung Beri Ceramah Pada Peringatan Maulid Nabi di Ubud


Gianyar – Peringatan Maulid Nabi di Ubud, Gianyar, terasa berbeda. Di tengah-tengah umat muslim, hadir rohaniawan Hindu Ida Pedanda Made Gede Gunung membawakan dharma wacana.

Puluhan umat muslim se-Kecamatan Ubud berkumpul di Hotel Suli Resort, Banjar Yangloni, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, Minggu (18/1). Mereka hadir dan berkumpul dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhamad SAW.

Toleransi beragama menjadi “tema” utama peringatan Maulid Nabi ini. Lihat saja tema yang diusung; Dengan Maulid Nabi Muhamad SAW Kita Tingkatkan Keharmonisan Menyama Braya Antar Umat Beragama.

Tema tersebut tertulis dalam sebuah spanduk besar. Bagian paling atas tertulis; Indahnya Perbedaan, yang dibuat dengan warna-warni.

Yang paling menarik, peringatan Maulid Nabi pertama di Ubud ini juga menghadirkan Pedanda Made Gede Gunung, yang namanya sudah masyur di Bali hingga Jakarta. Pedanda Gunung bersanding dengan tokoh muslim Kiai Toha Al Amnani.

Ketua Panitia, Hendra mengatakan, ini merupakan acara yang pertama kali di Ubud. Kata dia, acara yang mengundang 600 umat Islam, tokoh masyarakat Puri Agung Ubud, dan Bupati Gianyar ini bertujuan untuk memupuk rasa toleransi antar-umat beragama.

“Kami secara khusus menghadirkan Pedanda Made Gede Gunung. Dengan ceramahnya, kami berharap pengetahuan umat terhadap toleransi menjadi semakin dalam,” ujarnya.
Ketua Perhimpunan Hindu Muslim Bali, Anak Agung Ngurah, berpesan supaya seluruh umat beragama terus bersatu. “Sebab perbedaan itu indah,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga berharap Maulid Nabi ini digelar setiap tahun dan menjadi tujuan pariwisata di Ubud. “Saya berharap, moment Maulid Nabi bisa kita jadikan tujuan wisata. Mudah-mudahan nanti kita bisa melakukan acara ini di Puri (Agung Ubud). Sebab acara ini juga memiliki kultur budaya yang khas,” ujarnya lalu mendapat tepuk tangan hadirin.

Bupati Gianyar, Anak Agung Gede Agung Bharata, dalam sambutan yang dibacakan oleh Kabag Kesra, berpesan supaya acara ini bisa memberikan arti positif bagi semua umat.

Acara ditutup dengan ceramah Pedanda Gunung yang mengambil tema indahnya perbedaan. Sebelum membuka ceramahnya, ia mengaku bangga telah diundang dalam hari mahasuci Agama Islam ini. Sebab selama ini ia memang ingin berhadapan muka dengan umat muslim.

“Sejak dulu saya bermimpi ingin bertemu dengan saudara muslim, akhirnya kali ini terkabul. Saya sendiri bukan orang yang percaya pada kebetulan. Saya yakin pertemuan ini atas kehendak Ida Sang Hyang Widhi, Allah, atau Tuhan Yang Maha Esa,” ucapnya.

Dalam ceramahnya, Pedanda Gunung menyebut agama itu sama. Tapi orang menyebutnya dengan banyak nama. Dia mencontohkan, agama tidak lain seperti beras. Tergantung mau dijadikan apa. Apakah dijadikan nasi atau ketupat.

“Karena itu, janganlah memperdebatkan agama. Karena tidak akan menemukan titik temu kalau diperdebatkan. Sebab itu tergantung orang menjadikannya apa,” ujar rohaniawan yang sering membawakan dharma wacana di televisi ini. (tribbun/sp)