PAUD dan Pendidikan Karakter Islami

Oleh : Aries Musnandar
Pemerhati
Pendidikan
Mendidik anak pada
era sekarang ini cukup berat. Pengaruh lingkungan sekitar demikian kuat yang
dapat membentuk karakter sang anak. Menurut ajaran Islam manusia pada awalnya lahir
dalam keadaan fitrah dalam arti Islam tetapi lingkungan bisa merubah fitrah itu
sebagaimana Hadist Nabi: “Tiadalah seorang yang dilahirkan itu kecuali
dalam keadaan fitrah, kemudian kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi,
Nashrani atau Majusi”. Hadist ini menyiratkan betapa lingkungan merupakan
faktor penentu perubahan perkembangan karakter dan keyakinan sang anak.
Pengaruh lingkungan dalam arti luas tidak hanya berkaitan langsung  dengan orang tua, keluarga dan masyarakat
sekitar tetapi juga berasal dari interaksi dengan sejumlah program, pesan dan
peradaban yang terdapat di berbagai media sosial seperti televisi, sosial media
internet sebagai akibat dari perkembangan kemajuan teknologi di masa kini.
Perkembangan
teknologi media bisa jadi boomerang bagi pendidikan karakter anak Muslim karena
produk teknologi itu ditemu-kembangkan dalam pandangan dunia (worldview) nya
sendiri terlepas dari kalimat tauhid yang hanya taat dan patuh pada wahyu
Ilahi.  Jika kondisi ini tidak
diantisipasi secara cermat maka dikhawatirkan perkembangan pertumbuhan anak
berada dibawah “skenario” pembuat pesan yang mungkin saja
bertentangan dengan nilai-nilai keyakinan agama (Islam). Alhasil, ketika anak
tumbuh menjadi orang dewasa nilai-nilai yang dianut bukanlah sejatinya nilai
agama tetapi sudah dirasuki dan dipengaruhi paradigma yang sesungguhnya
bertentangan dengan ajaran Islam pada sumber Al Quran dan contoh-contoh dari
Nabi Muhammad SAW.
Pengaruh “non
Islamic worldview” dewasa ini diakui sangat kuat, kita merasakan dan
melihat sendiri pada penyelenggaraan pendidikan umat Islam tidak terlepas dari
konsep pendidikan orang-orang yang tidak menganggap Al Quran dan Hadist serta
sirah Nabawiyyah sebagai petunjuk hidup dan berkehidupan di dunia. Konsep
pendidikan di Indonesia banyak diadopsi dan diadaptasi dari luar Islam yang
hanya bersifat duniawi, tidak masuk dalam tataran ukhrowi, sedangkan ajaran
Islam kaya dengan penjelasan tentang kehidupan ukhrowi. Ajaran Islam itu amat
jelas dalam menata kehidupan bersifat duniawi tetapi juga lugas mengajarkan
umat bersiap diri memasuki kehidupan ukhrowi melalui sejumlah amalan sesuai
dengan ajaran Al Quran dan Hadist.
Oleh karena itu
pendidikan anak usia dini (PAUD) menjadi penting yang telah mulai disadari
pemerintah dengan mengeluarkan berbagai kebijakan terkait dengan pendidikan
anak usia dini (PAUD). Namun begitu tampaknya persoalan metodologi pembelajaran
masih perlu ditingkatkan agar karakter anak pada usia dini dapat terbentuk
dengan baik. Dalam konteks pengenalan agama, metodologi menghafal surat-surat
dalam Al Quran mesti juga dibarengi dengan contoh dan keteladanan dalam
berperilaku secara konsisten dan konskuen. Kita sering menemukan misalnya
tatkala mengajarkan anak didik akan pentingnya kesehatan tetapi ternyata masih ada
guru yang terlihat oleh anak didik merokok.
Lalu manakala anak
didik diberitahukan pentingnya kebersihan tetapi di lingkungan kelas dan
sekolah tidak terdapat tempat sampah yang memadai. Seringkali hal-hal tersebut
dianggap sepele, padahal pembentukan karakter anak mesti dimulai dari hal-hal
kecil dan sepele tetapi akan berdampak positip bagi pertumbuhan karakter anak
pada 7 tahun pertamanya. Ketekunan dan “kecerewetan” guru membimbing
anak agar berperilaku pada tempatnya itu niscaya akan meninggalkan kesan
mendalam bagi anak didik setelah 7 tahun pertama berlalu. Kesan-kesan positif
dalam diri anak itu melekat erat dibawah menjadi karakter saat yang
bersangkutan dewasa dan terjun berekiprah di masyarakat.
Oleh karena itu pada
anak usia dini pelajaran kejujuran, kebersihan, gotong royong, kasih sayang
sesama serta berbagai perilaku baik lain perlu diungkapkan kepada anak didik
tidak hanya secara verbal diajarkan oleh Al Quran dan Hadist tetapi juga secara
praktek dilaksanakan oleh anak didik atas arahan dan contoh-contoh dari sang
guru. Sepanjang yang saya ketahui kelemahan pendidikan anak usia dini kita baik
pada lembaga yang berbasis agama atau pun tidak adalah pada praktek dan
konsistensi dalam mengajarkan nilai-nilai kebaikan tersebut diatas. Manakala
nilai-nilai kejujuran, kebersihan, gotong royong, kasih sayang, tolong menolong
tidak dipraktekkan dan belum melekat pada diri anak didik sehari-hari maka
dikhawatirkan kesan-kesan positif tidak membekas pada dirinya, sehingga pada
usia 7 tahun kedua dan ketiga akan mudah dipengaruhi lingkungan yang negatif.
Jika mengacu
pandangan Sayyidina Ali RA, pendidikan karakter paling tidak dapat dilakukan
dalam 3 fase atau 3×7 tahun pertama. Pada fase pertama anak mulai dikenalkan
dengan hal-hal yang baik dan buruk. Orang tua mendominasi pembelajaran sebagai
guru yang menanamkan kerja-kerja kebaikan dan sumber-sumnber yang mengharuskan
umat manusia memiliki perilaku baik. Pada 7 tahun kedua orang tua atau guru di
sekolah dapat memperlakukan anak sebagai fasilitator yang membimbing dan
mengarahkan perilaku anak didik sesuai dengan kaidah agama. Pada fase
berikutnya 7 tahun ketiga guru atau orang tua lebih sebagai pendamping yang
menemani dan bersahabat dengan anak menjelang dewasa dalam menumbuh-kembangkan
pemahaman dan kepribadiannya agar menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama dan
lingkungan sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan agama.

Sesungguhnya
pendidikan itu membentuk karakter dan karakter itu terkait budi pekerti. Hal
ini sesuai dengan Hadist Nabi bahwa beliau diutus kemuka bumi semata-mata
adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Budi pekerti yang agung, perilaku
positif dan menebarkan kebaikan bagi sesama dan lingkungan merupakan ajaran
Islam, sehingga Islam adalah agama praktek atau pemahaman agama diejawantahkan
dalam wujud-wujud kebaikan. Landasan kebaikan yang dilakukan tentunya bersumber
dari ajaran yang termaktub dalam al Quran dan Hadist. Penjabaran nilai-nilai
dari kedua sumber ini yang perlu terus ditingkatkan secara kualiatatif dan kuantitaif
karena tampaknya khasanah metodologi pembelajaran agama yang “down to
earth” atau menukik kebumi di Indonesia masih perlu diperkaya dengan
contoh-contoh nyata. Wallahu a’lam.