Muhammadiyah Sebagai Islam Jalan Tengah ( Studi Kasus RodjaTV, TVNU, TVMU )


Sekitar dua tahun yang lalu saya berlangganan TV Cable. Niat saya berlangganan TV cable ini adalah untuk mengikuti perkembangan dunia luar, yang meliputi, perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi, aspek politik, ekonomi maupun pertahanan dan keamanan. Disamping saya kadang mempunyai tamu jamaah yang suka bertanya tentang ibadah umroh maka saya langsung saja menyetel TV siaran langsung dari Makkah sehingga memudahkan saya untuk menjelaskan kepada mereka, tentang apa itu Thawaf, bagaimana cara thawaf, apa itu Sa’i bagaimana cara Sa’i, apa dan dimana masjid Haram dan Masjid nabawi, apa itu Roudotuljannah dll.


Setelah 2 tahun berlangganan di TV ini kita bisa melihat macam-macam Tv dengan chanel sekitar 100 buah termasuk chanel TVMU, Televisi milik Muhammadiyah, TV NU, TV Milik Nahdatul Ulama, termasuk TV Rodja.


Ada hal yang menarik dari ketiga stasiun TV ini ketika melakukan dakwah.


Jika TV Rodja nampak agak keras dan selalu membid’ah dan mengharamkan semua hal yang tidak ada dijaman nabi. termasuk tidak boleh bermusik, bernyanyi tidak boleh, memakai tasbih untuk menghitung ketika menguucapkan kalimah toyyibah sesat, habis sholat atau habis berdoa mengusap wajah bid’ah, apa lagi mendengar ada istilah pluralisme atau liberalisme agama maka langsung difonis kafir.

Di sisi lain jika melihat TV NU maka sebahagian besar pengajiannya langsung mengecam aliran Wahabi, Menurut mereka aliran ini adalah aliran sesat yang dimotori oleh Negara Barat yang ingin memecah belah umat Islam. Kesimpulannya aliran Wahabi itu selalu salah tidak ada yang benar. Pada hal sesungguhnya wahabi itu mengusung semangat dakwah kembali ke qur’an dan sunnah. Tapi karena wahabi tidak membolehkan adanya amalan bid’ah seperti yang menurut teman-teman NU itu bukan wilayah bid’ah, maka oleh TV NU Wahabi divonis sebagai aliran sesat tanpa ampun. Dan sebenarnya jika TV NU mau marah aliran Wahabi maka marahlah di Saudi Arabia sana, kalau marah disini nggak ada gunanya.

Jadi sebenarnya kedua stasiun TV ini sama-sama tidak mencerdaskan karena sebahagian isinya saling mengecam dan saling menyesatkan. Sebenarnya kedua Stasiun TV ini tetap kita butuhkan dalam berdakwah namun format dakwahnya harus dirubah, yaitu dakwah mencerahkan, dakwah dengan tidak mengeluarkan kata-kata kotor. Sayang sudah begitu banyak biaya yang dikeluarkan untuk mendirikan stasiun TV ini namun tidak bisa memanfaatkan stasiun tv untuk berdakwah secara ramah dan mencerdaskan.


Model dakwah seperti ini menurut saya sama sekali tidak mencerdaskan, karena umat tidak diajarkan berpikir secara rasional, umat tidak diajak berpikir secara jernih dalam memahami agama dan tidak diajak berdakwah secara baik, tapi dakwah yang dikembangkan adalah dakwah saling mengkafirkan dan dakwah saling menyesatkan. Mestinya ketika berdakwah khususnya membahas sebuah hukum maka ustadznya harus mampu menjelaskan kenapa harus begini ? apa dasarnya hukumnya, kenapa harus begitu ? apa dasar hukumnya, sehingga pendekatan akademis yang harus ditonjolkan sehingga ketika umat bertanya tentang sebuah perbedaan maka mereka akan memperoleh jawaban ilmiah yang memungkinkan mereka memahami perbedaan itu. Nabi sudah lama meninggal dunia banyak hal baru yang tidak terjadi dan muncul dijaman sekarang dan ketika dijaman nabi belum ada, oleh karena itu perlu ada reaktualisasi dalam memahami dan menerapkan hukum agama namun tetap bersandar pada Qur’n dan sunnah.


Sedangkan model dakwah yang dikembangkan TVMU adalah model dakwah dialogis, rasional dengan tidak melupakan aspek ijtihadiah, Model dakwah yang dikembangkan adalah dengan mengambil jalan tengah dengan mengusung semangat dakwah Islam berkemajuan. Substansi Islam berkemajuan adalah, berIslam itu harus bersumber dari Qur’an dan Sunnah yang shoheh, tapi tetap tidak meninggalkan semangat ijtihad dalam rangka merespon kemajuan jaman.


Muhammadiyah tidak akan mudah membid’ah kan sesuatu juga tidak gampang menyesatkan sesuatu. Misalnya dalam kasus bermusik, KH Ahmad Dahlan membolehkan selama musik itu digunakan untuk berdakwah. Disisi lain sebagai organisasi Islam dengan semangat tajdid maka setiap urusan ibadah machdah harus tetap merujuk kepada Qur’an dan sunnah. Dalam membahas masalah agama Mubaligh TVmu mencoba menjelaskan secara proporsional kenapa harus begini apa dasar hukumnya dan kenapa harus begitu apa dasar hukumnya. Jadi kajian pengajiannya menjadi kajian limiah akademis yang mencerahkan.Uumat diberikan pilihan untuk mengamalkan sesuatu selama itu masih mempunyai dasar hukum yang Qoth’i. Islam yang dikembangkan muhammadiyah ini adalah Islam yang mendamaikan karena tidak gampang mengkafirkan seseorang sekaligus tidak menuduh kelompok lain sebagai kelompok sesat yang dikendalikan oleh negara lain.


Sangat berbahaya sekali ketika sebuah pengajian yang ditayangkan melalui stasiun TV Nasional ternyata isinya saling mengecam, saling mengkafirkan dan saling menyesatkan, Pada hal Rasulullah saja kalau berdakwah beliau tidak pernah gampang mengecam orang dan gampang menyesatkan orang.


Satu saat Rasulullah didatangi seorang ahli “MO LIMO” yaitu orang yang Suka membunuh, suka mencuri,suka berjudi, suka mabuk dan suka berjinah. Orang ini lalu bertanya kepada nabi, Wahai Muhammad apa itu Islam ? Rasul tidak menjawab bahwa Islam itu jika kamu berjudi masuk neraka, jika kamu mencuri masuk neraka, jika kami berzina masuk neraka.


Namun Rasul hanya menjawab Islam itu artinya “TIDAK BERDUSTA”. Rasulullah tidak mengkafir-kafir dia, Rasulullah tidak mennyesat-nyesatkan dia. Orang ini lalu menyatakan kok gampang sekali menjadi orang islam, kalau begitu saya sangat mampu menjalankannya. Namun ketika dia mau berzina dia menjadi takut karena jika ditanya rasul dia tidak mungkin berbohong, ketika dia mau mencuri dia takut karena dia tidak mungkin berbohong ketika ditanya nabi begitu seterusnya. Akhirnya orang ini dengan sadar memeluk agama Islam.


Dalam rangka membangun ukhuwah islamiah maka sebaiknya metode berdakwah dengan jalan saling mengecam saling mengkafirkan seharusnya dihentikan, gunakanlah kata-kata yang bijak dalam berdakwah karena Islam sendiri artinya perdamain atau kedamaian.


Wallahu a’lam.

*) Oleh : Sangadji EM ( Sekretaris PDM Kota Malang )