Muhammadiyah; Kemarin, Sekarang dan Esok Hari

Pendiri. Banyak pengamat bertanya-tanya mengapa KH. Ahmad Dahlan tidak menulis buku sebagaimana dilakukan pembaharu yang lain. Memang, rupa-rupanya dorongan terbesarnya bukanlah menjadi man of thought tapi man of action. Dia mengajar orang untu berbuat, bukan untuk berfikir. Cerita yang setiap buku tentang dia dan tentang Muhammadiyah mesti memuat ialah ketika dia mengajar berulang-ulang Surat Al Maun sampai murid-muridnya mengeluh. Surah itu diantaranya berisi ancaman api neraka bagi mereka yang shalat tetapi tidak memperhatikan kesejahteraan ekonomi orang-orang miskin dan menelantarkan anak yatim. Kiai menanyakan apakah para santri sudah tahu maknanya. Murid-murid menjawab bahwa mereka semus sudah tahu. “Belum” kata kiai, mengetahui makna adalah mengamalkan. Al Quran bukan untuk diketahui tapi untuk diamalkan. Tafsir mengenai pentingnya amal itulah yang kemudian mendasari gerakan Muhammadiyah. Bagi Muhammadiyah agama adalah “praksis-sosial”(M. Amin, 1995:29). Ada obsesi untuk menjadikan Al Quran sebagai aktivitas, bukan berhenti sebagai kata-kata. Secara aktif memberikan substansi yang konkret pada simbol yang abstrak. 
Aktivisme itu juga tampak dalam sebuah artikel KH. Ahmad Dahlan dalam majalah Suara Muhammadiyah tahun I, 1915 No. 2 yang mengatakan bahwa soal peruntungan (bagja, rahayu) yang merupakan teka-teki itu hendaklah ditempuh dengan memperbanyak shalat sunnah, tidak dengan minta-minta ke tempat keramat seperti lazimnya waktu itu. Dengan cara ini beliau menjadikan keberuntungan sebagai sebuah kata kerja aktif, bukan kata kerja pasif. Aktif melakukan sesuatu, bukan pasif menerima sesuatu. Seperti diketahui KH. Ahmad Dahlan adalah seorang pedagang kain batik.
Aktivisme itu juga membalikkan cara orang menyampaikan agama. Pada waktu itu, seorang kiai akan tinggal di rumahnya, sedangkan para santrilah yang belajar ke rumahnya, ibarat timba mencari sumur. KH. Ahmad Dahlan tidak demikian, dia menyampaikan agama (tabligh) dengan mendatangi murid, sumur mencari timba. Surat Kabar Bromartani 2 Zulkaidah (?) 1915 yang terbit di Solo memberitakan bahwa KH. Ahmad Dahlan mengajar mengaji anak-anak perempuan dari sekolah Muhammadiyah di Solo. Bromartani 8 September 1915 bahwa beliau membawa murid-murid laki-laki dan perempuan rekreasi dengan mengunjungi kebun Raja Sri Wedari.
Aktivitas KH. Ahmad Dahlan sangat banyak, dengan pangkat jajar enem, dia adalah khatib dan anggota pengadilan agama Kesultanan Yogyakarta dengan gelar Mas Ketib Amin (Javaasche Almanak 1914).Dia masuk gerakan Budi Utomo dan Sarikat Islam. Dia mendapat kepercayaan dari dua organisasi itu. Teman-temannya di Budi Utomo menjadi jaminan meminjam sejumlah uang untuk mendirikan sekolah agama di Karangkajen, Yogyakarta (Darmo Konda, 12 Desember 1914). Dia menjadi komisaris SI untuk Yogyakarta, dan pada 1916 (atau pada 1914) menjadi penasehat agama pada CSI (bersama Haji Sjadzili dari Sampang dan Hisyam Zaini dari Solo). Pada waktu itu dia menjadi komisaris itulah pejabat Belanda dari penasehat Urusan Bumiputera, Engelenberg, menilai dia sebagai “orang yang cerdas, dapat melihat dengan jernih” (H 1083, 33)
Dengan tidak meninggalkan tulisan, sepertinya KH. Ahmad Dahlan ingin mengatakan bahwa Al Quran dan Sunnah sudah cukup, tinggal soal pengamalan. Ketiadaan tulisan itu selanjutnya mempunyai dua keuntungan. Pertama, organisasi yang didirikannya menjadi dinamis, tidak bergantung pada patokan-patokan masa lalu, dan mudah menyesuaikan diri dengan semangat zamannya. Kedua, para pengikut terbebas dari idolatri (pemujaan idola), hal yang mudah terjadi pada tokoh-tokoh agama bahkan tanpa menulispun.
Masa Lalu. Dua daya hidup yang ditinggalkan KH. Ahmad Dahlan, yaitu teosentrisme dan aktivisme. Teosentrisme itu berakibat bahwa segala sesuatu harus dikembalikan kepada Al Quran dan Sunnah, artiinya yang tidak bertentangan dengan keduanya bisa saja diambil sekalipun bertentangan dengan tradisi. Demikianlah misalnya, sistem sekolah, kurikulum umum, rumah-rumah yatim, pendidikan wanita, rumah sakit, dan kepanduan yang berasal dari barat Kristen ditiru oleh Muhammadiyah. Aktivisme sosial dengan mendirikan semacam voluntary association bertentangan dengan kebiasaan cara orang beragama waktu itu. Dengan meminjam istilah Durkheim, waktu itu agama dihimpun dengan konsep mechanic solidarity di sekitar tokoh sentral. KH. Ahmad Dahlan melihat bahwa bila tokoh sentralo sudah mennggal, maka habislah sudah bangunannya. Dia kemudian menggunakan konsep organic solidarity dengan mendirikan organisasi supaya dakwah tetap langgeng meskipun tanpa tokoh sentral.
Ijtihad. Cita-cita kemajuan (the idea of progress, sejarah yang selalu bergerak maju) sudah diletakkan oleh para founding fathers Muhammadiyah. Cara pandang itu bertentangan dengan filsafat sejarah Jawa berupa teori kemunduran yang melihat zamannya sebagai Kalabendu (zaman bencana) atau Cakramanggilingan (roda yang selalu berputar, the eternal return). Dalam Suara Muhammadiyah tahun I (1915), nomor 2 halaman 29, ditulis:”Awit miturut paugeraning agami kita Islam, sarta cocok kaliyan pikajenganipun jaman kamajengan” (Sebab  menurut tuntunan agama kita Islam, serta sesuai dengan kemauan zaman kemajuan…). Demi kemajuan itulah ijtihad diperlukan supaya agama selaras dengan semangat setiap zaman.
Tajdid. Secara populer Muhammadiyah merumuskan keinginan gerakannya untuk memberantas TBC (taqlid, bid’ah dan churafat) dari umat. Gerakan tajdid yang diarahkan pada usaha untuk penghilangan taqlid (penerimaan keputusan hukum sebuah mazhab secara tidak kritis) dan bid’ah (baru dalam ibadah), pada mulanya menjadikan Muhammadiyah golongan minoritas di tengah-tengah ortodoksi Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Meskipun secara tidak langsung teologi Muhammadiyah juga termasuk Ahlu Sunnah Wal Jamaah (Syafiq, 1995:50), dalam detail peribadatan perbedaan-perbedaan tetaplah terjadi. Soal-soal perbedaan pendapat (khilafiyah) detail yang digolongkan taqlid dan mengganggu hubungan internal umat diantaranya ialah perbedaan dalam jumlah rakaat shalat tarawih, jumlah azan shalat Jumat, dan bacaan doa qunut shalat subuh. Selanjutnya soal-soal bid’ah seperti manaqib, tahlil, ziarah kubur dan kenduri menjadi persoalan besar di tingkat grass roots. Sebenarnya maksud tajdid hanyalah sikap kritis terhadap tradisi, bahkan pada para imam mazhab.
Rasionalisasi. Pemberantasan khurafat (takhayul) ditujukan kepada tradisionalisme Islam maupun Jawaisme. Pada waktu itu banyak kepercayaan masyarakat yang mendekati syirik, bahkan syirik yang terang-terangan. Kebiasaan masyarakat Islam tradisional berupa meminta restu pada makam-makam keramat. sihir, memelihara jin, dan menggunakan berbagai bentuk jimat tidak sesuai dengan gagasan kemurnian Islam. Kepercayaan masyarakat pada waktu itu berupa sesaji pada mbaureksa tempat-tempat keramat berupa gunung, sungai, mata air, pohon dan batu. Demikian pula kepercayaan kepada lelembut, penjaga desa, kuburan, rumah, sawah dan tempat-tempat lain (lihat daftar dhemit pada Kidungan, 1963) Orang Jawa juga percaya pada bermacam primbon (“Buku Mantra” lihat misalnya Betaljemur Adammakna, 1974), serta kepercayaan kepada laku misalnya macam-macam jenis bertapa, ngrowot (hanya makan buah), mutih (berpantang garam), mendhem (dikubur). Demikian pula bermacam-macam ajian, petung (hari baik dan buruk), jampi-jampi dan perdukunan. Praktik-praktik dalam primbon itu mengklaim bahwa mantra dan laku secara otomatis dapat mendatangkan sesuatu, sebuah antroporsentrisme yang ateis dan irasional. 
Dengan mengembalikan semua hal yang gaib kepada terminologi Al Quran yaitu makhluk yang bernama jin, orang akan terbebas dari perilaku yang termasuk takhayul. Pengakuan bahwa Tuhan adalah Maha Pelindung membebaskan orang dari konsep mantra yang mekanistis. Dan karena Tuhan Maha Pelindung hanya dapat diseru dengan doa, shalat dan zikir, akibatnya ialah sistem pengetahuan teosentris. Sementara itu Islam menekankan ikhtiar yang rasional, maka yang terjadi adalah rasionalisasi. (bersambung)

Tulisan ini diambil dari Kata Pengantar yang ditulis oleh Dr. Kuntowijoyo pada Buku “Membendung Arus; Respon Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia” karangan Alwi Shihab, Ph.D (1998)