Muhammadiyah dan Lingkungan Hidup


Muhammadiyah dan Lingkungan Hidup
(Catatan jelang Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar)
Oleh: Fitrawan Umar (Pemerhati Lingkungan dan Perkotaan; 
Alumni Pascasarjana Ilmu Lingkungan UGM)

Sampai sekarang ini, isu pembangunan lingkungan hidup masih hangat-hangatnya dibicarakan. Tidak hanya karena persoalan lingkungan hidup belum sepenuhnya terpecahkan, tetapi juga karena tuntutan pembangunan ekonomi yang masih dominan dan menebar kekhawatiran dapat memperparah keseimbangan lingkungan. Yang mana tantangan sejauh ini adalah perubahan iklim yang mengancam seluruh dunia. 
Agenda perlindungan dan pencegahan kerusakan lingkungan hidup di Indonesia sebenarnya banyak dibantu oleh sistem pengetahuan tradisional masyarakat yang berkembang turun temurun. Sistem pengetahuan atau dengan kata lain kearifan lokal mewujud dalam berbagai bentuk, semisal mitos, ritual, dan lainnya.
Mitos pohon keramat yang banyak beredar di tengah masyarakat, termasuk Sulawesi Selatan, misalnya, bila ditelusuri ternyata berkaitan juga dengan pengetahuan tradisional masyarakat untuk mempertahankan keselarasan lingkungan, yaitu dengan menjaga dan menghargai pohon-pohon.
Akan tetapi, sistem kepercayaan mitos tidaklah selalu dapat diterima oleh agama Islam. Mitos seringkali terbawa kepada hal-hal—bahwa yang demikian adalah takhayul dan khurafat. Ritual penghormatan terhadap pohon-pohon pun sering bersitabrak dengan larangan agama, yaitu bid’ah, bahkan lebih jauh diyakini dapat terseret dalam kesyirikan.
Muhammadiyah, kita tahu, adalah gerakan keagamaan yang berjuang untuk purifikasi agama. Dakwah Muhammadiyah berpengaruh besar terhadap pemberantasan takhayul, bid’ah, dan khurafat di tengah masyarakat Indonesia. Sistem pengetahuan tradisional, meski bertujuan baik, sering terbahasakan dengan sesuatu yang bertentangan dengan agama. Olehnya, Muhammadiyah selama lebih dari seabad ini berjuang supaya praktik-praktik ber-Islam kembali kepada ajaran yang murni, yang tidak bercampur dengan keyakinan-keyakinan animisme ataupun dinamisme.
Gerakan pencerahan Muhammadiyah pada dasarnya adalah gerakan untuk memenangkan aspek rasionalitas dalam kehidupan dan beragama. Akan tetapi, sejauh ini, persoalan yang sebelumnya berkaitan dengan sistem pengetahuan tradisional ternyata belum sepenuhnya terjawab. Terutama menyangkut pada aspek kelestarian lingkungan hidup.
Sebagai ilustrasi, masyarakat sebelumnya sangat takut menebang pohon tertentu di suatu tempat karena diyakini (dimitoskan) bahwa pohon tersebut punya ‘penunggu’ dan dapat membawa malapetaka bila diganggu. Namun, setelah pengetahuan rasional berkembang dan purifikasi agama untuk menghilangkan takhayul dan khurafat digiatkan, pohon-pohon tidak lagi dikeramatkan, dan dalam banyak kasus masyarakat sudah dapat dengan mudah menebang pohon-pohon. Padahal, ternyata, pohon keramat itu sering berhubungan dengan pohon yang bertujuan untuk konservasi mata air. 
Agenda Muktamar Muhammadiyah di Makassar 2015 mendatang adalah momentum yang baik untuk mengkaji dilema ini. Dengan pertanyaan, mampukah gerakan Muhammadiyah membumikan pendekatan yang lain dalam perlindungan lingkungan hidup untuk menggantikan hal-hal yang dianggap takhayul, bid’ah, dan khurafat itu?
Pimpinan Pusat Muhammadiyah sejauh ini memang sudah berusaha untuk mempopulerkan apa yang disebut dengan “Teologi Lingkungan”. Sejumlah buku sudah diterbitkan oleh Pimpinan Pusat bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup. Termasuk buku-buku semisal “Akhlak Lingkungan” dan “Fiqh Air” atau lainnya. Akan tetapi dirasa masih belum membumi. Pembumian itu tidak hanya berkaitan dengan sosialisasi, tetapi memang bersentuhan dengan penerimaan alam pikir masyarakat.

Masyarakat Indonesia dalam perspektif Ekologi Manusia masih lebih mudah terpengaruh dengan aspek kebudayaan daripada timbangan agama. Dalam hal perlindungan lingkungan hidup, masyarakat tidak dilandasi oleh niat bahwa menjaga lingkungan, misal untuk tidak menebang pohon, adalah bagian dari sumber pahala yang dijamin oleh agama. Masyarakat jauh lebih kuat melindungi pohon jika diyakini dapat menimbulkan malapateka apabila tidak dijalankan. Pendekatan mengenai hal ini perlu dikembangkan lebih jauh oleh Muhammadiyah agar lingkungan dapat lestari, sekaligus tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam yang murni.