Menengok Sejarah Perayaan Maulid Nabi ( Part 3 )

*) lanjutan dari

Menengok Sejarah Perayaan Maulid Nabi ( Part 1 )
Menengok Sejarah Perayaan Maulid Nabi ( Part 2 )

6. Konsep Mistik Dalam Ritual Natalan, Sokrolan, Sekatenan dan Tumpengan.

Penyelenggaraan Ritual Natalan dalam Perayaan Natal dan Ritual Sokrolan, Sekatenan dan Tumpengan, dalam Perayaan Maulid, tidak lepas dari adanya konsep mistik yang dipercaya oleh para penyelenggara dan peserta ritual tersebut.

Kata mistik sendiri berasal dari kata mistery, yang berarti mengandung hal-hal yang gaib, aneh, ajaib, sakti, ada kekuatan supranatural yang tersembunyi dibalik suatu persitiwa, orang maupun benda-benda tertentu, yang tidak berdasarkan akal, rasio, penalaran, fakta ilmiah dan hasil penelitian –penyelidikan dan eksperimen.

Berbeda dengan konsep  sain yang bisa dinalar dan dibuktikan kebenarannya melalui uji coba, konsep mistik tidak bisa dibuktikan kebenarannya, karena memang konsep mistik pada awalnya dikembangkan dalam masyarakat  tradisional yang masih rendah daya nalarnya dan sangat kuat terikat pada adat dan tradisi warisan leluhurnya. Dengan demikian konsep mistik sebenarnya konsep yang dikembangkan berdasarkan khayalan, ilusi dan spekulasi yang timbul karena kekaguman terhadap gejala alam yang belum mampu dianalisa menggunakan daya nalarnya.

Salah satu alat yang paling penting untuk mengembangkan daya khayal  ialah media sastra,  baik dalam bentuk  puisi-syair, prosa, maupun drama. Demikianlah yang disebut genre sastra keagamaan, adalah sastra  yang digunakan untuk mengembangkan  gagasan keagamaan . Sastra keagaman,  memegang perananan penting sebagai sarana untuk menyebarkan gagasan keagamaan. Tentu saja termasuk penyebaran  konsep mistik, baik dalam agama pagan, Hindu-Budha,Yahudi,Kristen maupun Islam.

Meskipun demikian sain sebagai hasil peradaban dan kebudayaan manusia yang dikembangkan berdasarkan suatu metode ilmiyah, bukannya tidak terbatas. Sain hanya memiliki keunggulan dalam menganalisa gejala alam semesta. Sain sendiri tidak mampu menganalisa hal-hal gaib dibalik alam semsesta atau alam metafisika dan juga alam pasca kematian.

Islam mengajarkan, bahwa terhadap hal-hal yang gaib yang terjadi dibalik alam semesta dan alam pasca kematian, manusia hendaknya menggunakan petunjuk wahyu dari Tuhan yang termatub dalam kitab suciNya sebagai petunjuk, panduan dan referensi utama. Hal-hal gaib di luar alam semesta dan alam pasca kematian atau alam  escatologis, seperti keberadaan ruh, sorga, neraka, jin, syetan, malaikat dan mahluk gaib lainnya, sudah cukup diserahkan saja kepada ajaran dan tuntunan wahyu, dengan kepercayaan mutlak.Inilah yang disebut iman atau kepercayaan dalam agama. Dalam agama Islam hal-hal yang gaib hanya diakui kebenarannya bila tidak menyelisihi Al Qur’an ,Sunah Nabi saw dan penyelidikan ilmiah.

Allah SWT dengan jelas telah berfirman agar manusia menggunakan akalnya untuk memahami semua gejala alam semesta.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata,”Ya,Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”(Q.S 3: 190-191)

6.1. Konsep Mistik Dalam Ritual Natalan.

Konsep mistik dalam Ritual Natalan bersumber dari kepercayaan bahwa Yesus adalah putra Tuhan Bapa yang turun ke dunia melaui Perawan Maria dengan membawa misi menebus dosa anak manusia karena dosa warisan peninggalan Adam. Memang Nabi Isa memiliki sejumlah mukjizad dari Allah SWT, seperti bisa berbicara ketika masih dalam buaian, bisa menyembuhkan penyakit lepra, bisa menjadikan orang buta bisa melihat dan orang yang  lumpuh bisa jalan. Bahkan bisa menghidupkan orang mati.

Proses kelahiran dan kematian Nabi Isa as sendiri memang mengandung sejumlah kegaiban, sehingga kisah Nabi Isa as memang rawan untuk dijadikan obyek pemujaan dan proyek menciptakan ritual pemujaan terhadap Nabi Isa as, demi kepentingan para pendeta dan pemuka agama Nasrani. Nabi Isa as sendiri tidak pernah mengajarkan kepada dua belas muridnya supaya memuja diri Nabi Isa as sebagai anak Tuhan. Ajaran asli Nabi Isa as, sama dengan ajaran tauhid para rasul yang lain, yaitu menyampaikan risalah hanya menyembah dan memuja kepada Allah SWT melalui ritual-ritual atau syariat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT sendiri.

Tokoh dalam agama Nasrani yang menciptakan penyimpangan dari risalah Nabi Isa adalah seorang mantan Rabi Yahudi yang bernama Saul, yang mengangkat dirinya sendiri sebagai seorang rasul, yakni Rasul Paulus. Padahal Paulus ini bukan salah satu dari 12 murid Nabi Isa. Rasul Paulus mengaku, suatu saat dia bermimpi bertemu Yesus yang menyuruhnya agar dirinya meninggalkan kepercayaan Yahudi dan berkhidmad menjadi gembala yang mewartakan kepada kaumnya tentang datangnya Yesus Kristus sebagai Sang Juru Selamat.Rasul Paulus inilah pencipta doktrin Trinitas dan pencipta ritual perayaan Natal yang bertepatan dengan tanggal 25 Desember, yang diadopsi begitu saja oleh Rasul Paulus sebagai hari kelahiran Yesus Kristus.

Padahal tanggal 25 Desember bagi agama pagan kekaisaran Romawi, adalah perayaan menyambut Dewa Matahari. Dalam ritual pagan menyambut Dewa Matahri itulah para Kaisar Romawi menyelenggarakan ritual keagamaan yang diikuti seluruh rakyatnya. Jika Kaisar punya bayi, maka bayi Kaisar itu pada tanggal 25 Desember dibawa ke altar, dengan maksud mendapatkan restu dari Dewa Matahari.Setelah pemberkatan selesai, bayi tadi ditunjukkan kepada rakyat yang hadir dalam ritual itu. Serentak rakyatpun berdiri, sebagai penghormatan kepada kelahiran bayi Kaisar yang dianggapnya sacral atau suci itu. Dari sinilah tradisi ritual sacral menyambut bayi yang baru lahir putra dari  para kaisar Romawi itu  berasal, jauh sebelum agama kristen dijadikan agama resmi para kaisar Romawi.

Ketika agama Kristen telah menjadi agama resmi kekaisaran Romawi, maka dalam Perayaan Natal yang diselenggarakan di gereja-gereja, bayi kaisar yang disacralkan dalam ritual 25 Desember untuk menyambut Dewa Matahari, digantikan dengan bayi Yesus anak Tuhan Bapa yang ada di Sorga. Demikianlah agama Kristen ciptaan Rasul Paulus, telah mengadopsi ritual sacral Perayaan Natal dari ritual Perayaan Menyambut Dewa Matahari. Konsep mistik yang terkandung dalam ritual itu adalah pemujaan kepada Yesus Kristus sebagai anak Tuhan.Suatu ritual pemujaan kepada Nabi Isa as, yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Isa as sendiri.

6.2 Konsep Mistik Dalam Ritual Sokrolan.

Konsep mistik dalam ritual sokrolan yang diselenggarakan dalam Perayaan Maulid, berasal dari gagasan untuk memuja Nabi Muhammad saw sebagai Nabi kekasih Allah yang memiliki mukjizad dan daya gaib seperti gagasan Nur Muhammad, gagasan mukjizad Nabi  bisa membelah bulan, dan gagasan bahwa bagian-bagian dari tubuh Nabi saw dan benda-benda yang pernah disentuh, digunakan atau dipakai Nabi saw, memiliki daya sakti dan daya gaib. Usaha untuk memperoleh benda-benda yang pernah dipakai Nabi saw atau pun bagian dari badan Nabi saw seperti rambut,kuku, air bekas cuci tangan Nabi saw, dikalangan pesantren tradisional, disebut dengan istilah tabaruk.

Gagasan Nur Muhammad ditemukan dalam buku-buku sastra legenda yang menceriterakan riwayat Nabi Muhammad. Misalnya, Hikayat Kejadian Nur Muhammad, Hikayat Kejadian Baginda Rasulullah, Hikayat Khatim al-Nabi. Gagasan Nabi saw memiliki mukjizad bisa membelah bulan, ditemukan dalam sastra legenda Hikayat Bulan Berbelah.Kemudian gagasan tentang tabaruk, ditemukan dalam sastra legenda Hikayat Nabi Bercukur. Akhirnya gagasan bahwa kuburan Nabi saw memiliki daya gaib dan pembacaan shalawat sebagai suatu mantra sakti yang bisa menyelesaikan seribu satu masalah dan problem kehidupan manusia, khususnya yang berkaitan dengan keberuntungan dalam perjodohan, perdagangan, karir dan jabatan, dapat ditemukan pada legenda yang menceriterakan mukjizat kitab terkenal karya Ja’far Al Barzanji, ,”Qissat al-Maulid an-Nabawi”.

 Hikayat Nur Muhammad adalah hikayat yang meriwayatkan Nur yang diciptakan oleh Allah SWT sebelum wujudnya alam semesta. Sesudah tercipta Nur Muhammad, maka Allah mewajibkan manusia untuk melaksanakan rukun kelima. Dari Nur Muhammad, Allah SWT menciptakan burung, kepalanya adalah Ali bin Abi Thalib, matanya Hasan dan Husein, lehernya Fatimah, sayapnya Abu Bakar dan Umar, ekornya Hamzah bin Abdul Mutalib, kakinya Abbas dan Khatijah.

Kemudian Allah SWT memerintahkan Nur Muhammad tadi mengarungi tujuh lautan. Sesudah mengarungi tujuh lautan, tetesan air yang jatuh dari Nur Muhammad itu, dijadikan tiga belas Nabi, empat Malaikat, kalam Luh al-Mahfuz, ‘Arsy, tujuh petala langit, matahari, bulan, angin, air, api, pokok kehidupan, pokok tuba, cap Mahor Nabi Sulaiman dan tongkat Nabi Musa. Akhirnya Nur Muhammad diperintahkan Allah SWT untuk menemui empat unsur kehidupan yakni air,api, tanah dan angin untuk menyeru mereka menganut agama Islam. Hikayat Nur Muhammad ditutup dengan himbauan oleh penulis bahwa barang siapa yang membaca, mendengar dan menyimpan hikayat Nur Muhammad akan diberi Allah pahala dan faedah.Kisah Nur Muhammad sendiri tidak pernah di temukan dalam Al Qur’an. Memang dalam Al Qur’an ada Surat An Nur(Q.S :24). Tetapi di dalamnya tak satu ayatpun yang menyebut adanya Nur Muhammad. Demikian pula dalam Hadist yang Shahih.Kisah Nur Muhammad tak ditemukan. Kisah Nur Muhammad hanyalah konsep mistik yang digali dan diciptakan oleh para penyair Sufi, yang dikenal dengan konsep Tajalli dari Sufi Penyair Ibnu Araby(1102 – 1240 M)

Dengan demikian Hikayyat Nur Muhammad telah memberikan sumbangan bagi ritual sokrolan yang memuja Nabi saw sebagai Nur Muhammad. Kita akan lanjutkan pada Hikayat Bulan Berbelah yang menyumbangkan gagasan Nabi saw memiliki mukjizad supra natural yang luar biasa.

(Bersambung).