Melintasi Zaman Dengan Kesucian Jiwa (Refleksi Satu Abad Muhammadiyah)

Sahabat Mulia. . . Menjelang Muktamar 1 Abad Muhammadiyah pada tahun 2010 yang lalu, sahabatmu yang lemah ini, mendapatkan amanah untuk menyampaikan ceramah hikmah Syawalan bagi Keluarga Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Sportorium UMY. Berikut cuplikannya, semoga bermanfaat.
Melintasi Zaman Dengan Kesucian Jiwa
(Refleksi Satu Abad Muhammadiyah)
Fathurrahman Kamal
Kerhasilan Persyarikatan Muhammadiyah dalam berbagai bidang yang telah berjalan satu abad ini (berdiri 1330 H/1912M) bukan saja merupakan nikmat, rahmat dan karunia Allah SWT yang wajib disyukuri, tapi juga merupakan ujian dariNya yang wajib disikapi dengan baik, tawadlu’, tidak ‘ujub dan takabbur. Firman Allah, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (QS Al-Anbiya’ : 35). Sebagai sebuah muhasabah dalam mengarungi dinamika zaman, kisah Bal’am Ibnu Ba’ura, kolega dekat Nabi Musa ‘alaihissalam penting untuk dibaca ulang. Sebagian Mufassir terkemuka seperti Al-Imam al-Thabari, Al-Alusi, Al-Syaukani dan Ibnu Katsir menulisnya dalam kitab-kitab mereka.
Dengan segala kapasitas intelektual, moral dan penghormatan yang tinggi dari umat masa itu, Bal’am tampil menjadi sosok yang sangat tersohor. Karena itu pula Nabi Musa mempercayainya untuk mengemban amanah dakwah kepada penguasa Madyan. Namun demikian, kepiawaian dan siasat penguasa Madyan tampak lebih canggih. Segala fasilitas kehidupan serba-mewah, diberikan kepada Bal’am Ibnu Ba’ura lalu membuatnya berhutang budi dan sungkan menyampaikan kebenaran kepada pemimpin Madyan tersebut. Ekstremnya kemudian, Bal’am mendeklarasikan kepada publik : ia meninggalkan ajaran Nabi Musa sekaligus bergabung dengan rezim Penguasa Madyan dan “berkoalisi” melawan dakwah dan perjuangan Nabi Musa ‘alaihissalam.
Pergeseran sistematis dan berlangsung secara sangat halus pada diri seorang Bal’am dalam terma Al-Qur’an (Al-A’raf/7:175) disebut al- insilâkh. Malapetaka insilâkh seperti ini nyaris tidak dirasakan apalagi disadari oleh individu, kelompok sosial maupun oleh sebuah bangsa yang besar. Sebuah peradaban yang sedang mengalami pergeseran dan inhithâth (degenerasi) ke titik nadir kehancurannya (tadahwur), tetapi generasinya merasa sedang berada dalam kemajuan dan kedigdayaan. Inilah tragedi dan malapetaka peradaban (al-insilâkh al-hadlârî)! Peradaban yang minus stamina dan orientasi spiritual, sekaligus kehilangan identitas dan jati diri (shibghah).
Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengutus kepada umat manusia pada setiap kurun seratus tahun orang yang memperbarui ajaran agamanya” (HR Abu Dawud). Sabda ini semakin mempertegas pandangan Ibnu Khaldun di atas. Sebuah peradaban itu akan memasuki masa aus-nya pada usia seratus tahun, jika para pewarisnya tidak menyiapkan generasi peradaban untuk masa berikutnya yang lebih mencerahkan. Oleh karenanya diperlukan sebuah mekanisme alamiah untuk memperbaharuinya. Pembaharuan itulah yang kita kenal sebagai “tajdîd”. Sejatinya, tajdîd tidak bermakna dekonstruksi. Bukan pula diartikan sebagai “amputasi” peradaban itu sendiri. Tajdîd memberikan makna dan spirit “re-fine” (memperindah kembali). Sejak awal kehadirannya di samudera peradaban Islam nusantara, Muhammadiyah telah memformulasikan konsep tajdîd tersebut dalam narasi besar : al-rujû’ ilâ al-Qur’ân wa al-Sunnah.
Dalam muktamar satu abad-nya di kampus terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada 3-8 Juli mendatang spirit tersebut dirumuskan dalam sebuah tema “Gerak Melintasi Zaman: Dakwah dan Tajdid Menuju Peradaban Utama”.Inilah peradaban Islam yang sebenar-benarnya yang terus menerus digemakan oleh Persyarikatan Muhammadiyah sepanjang masa. Sebuah peradaban khairu ummah yang didedikasikan untuk kebaikan umat dan kemanusiaan sejagad dengan dua artikulasi pokok; amar ma’ruf dan nahi munkar. Pesona masyarakat Islam yang sesungguhnya inilah yang menjadi anak kandung gerakan dakwah dan tajdid Muhammadiyah yang mencerahkan umat manusia secara universal sebagai mata rantai misi dan risalah kenabian, rahmatan lil-‘âlamîn.
Muhammadiyah dan Ajaran Ma’rifat al-Zaman.
Narasi besar di atas tidaklah selalu berjalan secara linear dan vertikal, tanpa aral melintang. Sejak masa kenabian, Rasulullah SAW telah menerangkan karakteristik zaman yang akan dilalui umatnya. Kepada sahabatnya, Hudzaifah Ibnul Yaman beliau bertutur tentang dahsyatnya dialektika akhir zaman. Sungguh tak ada zaman yang kita lalui kecuali lebih buruk dari zaman sebelumnya. Karakter zaman itu sangat unik : munculnya para pemimpin yang dalam menunaikan amanah kepemimpinan tersebut bersikap masa bodoh dengan sumber ajaran Islam (Al-Qur’an & Sunnah). Kedua sumber ini menjadi disfungsional dan tidak otoritatif sama sekali dalam realitas tata kelola kehidupan, meskipun diapresiasi sedemikian rupa dalam tataran kultur dan junjungan budaya lokal yang seringkali memukau namun hampa makna. Generasinya cenderung apatis, anti-Tuhan, berhati satanis (qulûb al-syayâthîn) yang bersemayam dalam tubuh manusia! (HR Muslim).
Membincangkan tanda zaman semacam ini tidaklah dalam perspektif pesimis, apalagi fatalis, pasrah tanpa ikhtiar membangun zaman dan peradabannya. Sinyalemen profetik di atas justeru me-refresh dan mengaktivasi kembali titik terdalam area spiritual, akal dan jasmani kita. Tak ubahnya seorang yang hendak menyeberang jalan yang padat lalu lintasnya, kita akan bersikap mawas diri dan tidak semberono. Inilah ma’rifatuz zaman (melek zaman) yang diajarkan oleh qudwah kita, Muhammad SAW. Dalam perspektif Muhammadiyah wacana ma’rifatuz zaman seperti ini sejatinya jauh hari telah digemakan, terkhusus dalam Muktamar ke-45 di Malang tahun 2005. Bacalah dengan kebeningan mata hati apa-apa yang telah dirumuskan pada permusyawaratan tertinggi Muhammadiyah yang tertuang dalam dokumen resmi Persyarikatan ” Zhawâhir al-Afkâr al-Muhammadiyyah ‘Abra Qarn min al-Zamân” (Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Jelang Satu Abad).
Selain menegaskan konsistensi dan akhlaq istiqamah dalam mengarungi dinamika zaman, sejak masa berjihad melawan kolonialisme klasik hingga masa reformasi saat ini, Muhammadiyah menyatakan pandangannya tentang kehidupan umat manusia masa ini yang sarat paradox. Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi melahirkan pencemaran lingkungan hidup dan eksploitasi alam yang tak terkendali, berkembangnya nalar-instrumental yang memperlemah naluri-naluri alami manusia, melahirkan sekularisasi kehidupan; pandangan anti-Tuhan dan serba dikotomik. Kehidupan modern melahirkan antitesis post-modern dengan laku hidup serba-bebas (supra-liberal), serba-boleh (anarkhis), dan serba-menapikan nilai (nihilisme), sehingga memberi peluang semakin terbuka bagi kemungkinan anti-agama (agnotisme) dan anti-Tuhan (atheisme) secara sistematis. Demokrasi, kesadaran akan hak asasi manusia, dan emansipasi perempuan membawa implikasi pada kebebasan yang melampau batas dan egoisme yang serba liberal, destruktif terhadap relasi-harmoni antar manusia.
Secara sistemik dan sistematis masyarakat terjebak pada egoisme (ta’bîd al-nafs), penghambaan terhadap materi (ta’bîd al-mawãd), penghambaan terhadap nafsu seksual (ta’bîd al-syahawãt), dan penghambaan terhadap kekuasaan (ta’bid al-siyâsah) yang menggeser nilai-nilai fitri (otentik) manusia dalam bertauhid (keimanan terhadap Allah SWT) dan hidup dalam kebaikan di dunia dan akhirat. Globalisasi justeru melahirkan sikap ekstrimisme baru, fanatisme agama tak terkendali (al-ghuluw fi al-din), primordialisme etnik, dan kedaerahan semakin mengokohkan sekat kehidupan antar sesama. Neoliberalisme dan kapitalisme global hanya berpihak kepada kaum borjuis dan semakin menistakan hak-hak kaum dlu’afâ’ dan mustadl’afîn.
Seratus tahun lalu, tentu dengan bahasa yang sangat sederhana, KH Ahmad Dahlan juga telah mengajarkan ma’rifatuz zaman kepada murid-muridnya yang berbanding lurus dengan rumusan pernyataan jelang satu abad tersebut. Menurutnya, malapetaka terbesar yang mengancam manusia ialah sikap mempertuhankan hawa nafsu. Menghambakan diri kepada hawa nafsu tampil dengan multi-wajah; taqlid buta kepada orang tua dan nenek moyang, patuh mengikuti perilaku kebiasaan yang menyimpang dalam lingkungan dan masyarakat; mendudukkan cinta makhluk di atas cinta kasih kepad Allah SWT dan RasulNya. Beliau mengajarkan murid-muridnya bahwa berhala hawa nafsu merupakan pokok berhala yang menyesatkan. Pengaruhnya teramat kuat dan merajalela. Hawa nafsu mematikan kemampuan dan potensi manusia untuk membedakan antara “haq” dan “bathil’ . Manusia bertabiat sebagai hewan karena terjajah oleh hawa nafsu, bahkan lebih dari itu. Manusia berbuat semaunya, mengabaikan tatanan etis dan moral. Inilah yang kemudian melahirkan kekacauan, kerusakan dan kerugian kepada dirinya sendiri, masyarakat, bangsa dan negaranya.
Kesucian Jiwa Sebagai “Password” Melintasi Zaman.
Dalam pandangan KH Ahmad Dahlan, orang yang berbahagia dan beruntung melintasi zaman ialah orang-orang yang senantiasa melakukan pensucian diri dan jiwanya, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (QS Al-A’la : 14-17). Tazkyatun nufus dalam perspektif Muhammadiyah bukanlah jebakan romantisme spiritual yang seringkali bersifat fatalis (jabariyah) dan menafikan relasi dengan alam serta dunia nyata. Tazkyatun nufus yang kita lakoni ialah proses pensucian jiwa yang aktif dan produktif sekaligus berkontribusi positif dalam menata ulang dan memperindah kembali rumah peradaban kita, Muhammadiyah.
Dalam ajaran KH Ahmad Dahlan, tazkyatun nufus mesti diwujudkan dalam kesalehan sosial. Tidak boleh berhenti pada level individu semata. Apalah makna sebuah “klaim kesucian” jika tak tampak pada wajah sosial dan tak pula terbaca dalam laku kehidupan sesama makhluq. Kesucian diri dan jiwa teridentifikasi melalui kata kalbu kita yang selalu Allah oriented, tidak munafik dan tidak pula ambivalen, apalagi berpikiran serba relativ dan agnotis dalam berinteraksi dengan kebenaran. Akal dan karunia intelektual yang tersucikan tak akan destruktif dan mengkhianati peradaban yang berketuhanan atau pandangan hidup Islam (theistic-worldview). Pada tataran praksis, kita tidak terjebak pada kubangan liberalisasi dan sekularisasi yang menafikan relasi alam semesta dengan Penciptanya, meniadakan dimensi spiritual hidupnya serta berpandangan serba dikotomik, anti pandangan tauhidik. Inilah makna tazkyatun nufus: mensucikan dan purifikasi terhadap totalitas organ kemanusiaan kita sebagai syarat dan password melintasi zaman. Semoga kita istiqamah ber-Muhammadiyah! Wallâhu A’lam bish-shawâb.

(sangpencerah.id)