Luar Biasa Siswa SD Muhammadiyah Denpasar Juara Olimpiade Robot Internasional

Denpasar – Siswa-siswa SD Muhammadiyah Denpasar Bali berhasil memenangi medali emas olimpiade robot internasional 2014. Pada acara yang digelar di Johor Baru Malaysia itu, SD Muhammadiyah 2 Denpasar mengantongi empat medali yang terdiri dari emas, perak dan perunggu.
Masih-masing untuk kategori robot soccer dengan raihan medali emas oleh Wildan dan Naufal Mochtar, aerial robol dengan raihan perak oleh Aqsa. Perunggu dengan kategori line tracer oleh Qowi Maula serta robot teater oleh Hisyam Hakim, Aliyah Dafitri, Qowi Maula, Naufal Mochtar, Wildan, Renaldi, Aqsa dan Rizky Firdaus.
Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 2 Denpasar, Siti Nurhamidah, S.Pd, M.Pd mengaku bersyukur anak didiknya dapat ke luar menjadi juara di tingkat internasional. Apalagi, pada kegiatan yang diikuti hampir seluruh negara di kawasan ASEAN seperti Malaysia, Filipina, Mesir Arab Saudi dan beberapa negara lainnya itu murni dibiayai oleh pihak sekolah dibantu orang tua murid.”Kita mengikuti olimpiade ini idak melalui Diknas,” tutur Nurhamidah saat ditemui di ruang karjanya, Selasa (13/1/2014).
Nurhamidah melanjutkan, untuk kegiatan ekstra kurikuler robotik di Pulau Bali satu-satunya berada di SD 2 Muhammadiyah Denpasar. Ekstra kulikuler yang diberi nama Ngurah Rai Junior Robot itu mulai dibuka tahun 2011. “Saat kita buka tentu dengan perjuangan luar biasa, terutama soal mahalnya ongkos biaya untuk narasumber dan peralatan robot. Alatnya mahal-mahal sekali,” kenang dia.Kendati begitu, Nurhamidah mengaku melihat bakat pada anak-anak didiknya. Dengan tekad bulat dan berkomunikasi dengan wali murid, alhasil ekskul robotik tetap berjalan. 
Benar saja, naluri Nurhamidah tak meleset terhadap anak didiknya. Meski baru dibentuk, namun anak didiknya mampu menyabet gelar bergengsi tingkat nasional dan internasional.”Semua berjalan berkat dukungan wali murid. Anak-anak ini memang berbakat dan harus kita bina, harus ada wadah,” tutur Nurhamidah. 
Tahun 2011 Nurhamidah memberanikan diri mengikutsertakan anak didiknya dalam lomba robotik di Denpasar. Begitu juga pada tahun berikutnya. Baru pada event olimpiade tingkat nasional di Malang, Jawa Timur, Nurhamidah memberanikan diri mengirim anak didiknya. “Kita juara I tingkat nasional pada tahun 2013 dengan kategori line tracer. Juga meraih perak pada even di Bandung, Jawa Barat,” urainya.
Sementara itu, pembina robotik SD Muhammadiyah 2 Denpasar, Ardita Kusuma, ST menuturkan, segala macam peralatan robot didukung secara finansial oleh orang tua murid. “Sekolah hanya fasilitator pelatihan saja. Alatnya mahal-mahal, sampai ada yang seharga Rp8 juta,” katanya.Ardita mengaku kegiatan ekskul robotik yang sudah duduk di bangku kelas 3 sampai 5 SD. Sementara kelas 6 hanya ditugaskan sebagai pendamping saja. “Kelas 6 kan dia juga harus mempersiapkan diri menghadapi UN. Jadi kita ikutkan sebagai pendamping saja,” ulas dia. 
Meski memiliki prestasi segudang di tingkat nasional dan internasional yang membawa harum dunia pendidikan Pulau Seribu Pura, sayangnya hingga kini minim perhatian dari Pemerintah Provinsi Bali. “Kita pernah ajukan bantuan ke Dinas Pendidikan. Tapi karena kami sekolah swasta langsung ditolak. Sampai sekarang belum ada perhatian dari pemerintah Bali,” demikian Ardita (lip6/sp)