Kisruh Pencalonan Kapolri, Pertarungan Optimus Prime Melawan Megatron


Oleh : arief_gerrard *

Ini tulisan bukan sebuah analisa politik atau tulisan perspektif hukum , ya mungkin hanya sebuah obrolan rakyat kecil di warung kopi menanggapi liputan di televisi dan media – media akhir ini tentang kisruh pencalonan Kapolri.


Polisi sebuah profesi yang sangat familiar di masyarakat Indonesia keberadaannya sangatlah vital bagi keberlangsungan hajat hidup manusia, di semua Negara di dunia ini pasti punya polisi bahkan kalo di survey ke anak – anak kecil jika ditanya “ apa cita – cita kamu nak kalau sudah besar ? “ sebagian besar anak – anak tersebut akan menyebut ingin jadi Polisi


Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) kini menghadapi ujian besar pasca bergantinya rezim pemerintahan , seperti biasanya Presiden akan menunjuk Kapolri baru setelah sebelumnya membentuk Kabinet Mentri nya sebagai bagian dari hak preogratif Presiden, begitu pula yang dilakukan Presiden Jokowi dengan mengajukan usulan pergantian Kapolri saat ini Sutarman dan sampai disini keinginan Presiden itu tidak ada persoalan.


Kick Off babak pertama ini barulah dimulai ketika Presiden Jokowi mengajukan calon tunggal Kapolri yaitu Budi Gunawan karena sebelumnya BG disebut – sebut memiliki rekam jejak yang kurang baik terkait rekening gendut yang dimiliki namun Jokowi sudah berketetapan hati untuk tetap mengajukan satu nama yaitu Budi Gunawan.


Maka notification gadget para netizen mulai kerap berdering menandakan ada isu yang  lagi hangat di bahas di media sosial baik facebook, twitter, dsb masyarakat terbelah menjadi supporter kubu yang pro dan kubu yang kontra terhadap pencalonan Budi Gunawan , tampak residu sisa – sisa pertarungan Pilpres kemarin muncul kembali. Bagi mereka yang pro menganggap itu adalah Hak Preogratif Presiden mencalonkan seseorang menjadi Kapolri sedangkan yang kontra menuding Jokowi tidak bisa lepas dari tekanan Megawati terkait penunjukan calon Kapolri mengingat Budi Gunawan adalah mantan ajudan Megawati ketika menjadi Presiden.


Ketika pertarungan di lini tengah berlangsung antara kubu Pro dan Kontra tiba – tiba terdengar tiupan peluit kencang yang menandakan ada sebuah pelanggaran, semua pemain dan penonton terhenyak ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengeluarkan kartu kuning kepada Budi Gunawan yaitu penetapan status tersangka dalam kasus gratifikasi, sontak tindakan KPK ini menimbulkan kegaduhan di dalam dan luar lapangan sampai babak pertama ini berakhir


Penetapan tersangka oleh KPK kepada Budi Gunawan menambah tensi pertandingan para supporter semakin semangat meneriakkkan dukungan dan harapannya, babak kedua pun dimulai kini bola panas ada di DPR , apakah DPR akan meloloskan atau tidak Budi Gunawan yang diajukan Presiden menjadi calon Kapolri. Seperti biasa para pengamat “bola” tanah air mulai bermunculan memprediksi hasil akhir pertandingan ini dan masyarakat pun tak mau ketinggalan memprediksi hasil akhir pertandingan layaknya menonton Premier League atau La Liga , rata – rata penonton memprediksi Budi Gunawan akan dijegal di DPR mengingat sudah menyandang status tersangka serta di DPR masih ada rivalitas KIH vs KMP yang jika mengacu proses di DPR sebelumnya akan dimenangkan kubu KMP yang menjadi rivalitas Jokowi dan KIH.


Pameo bahwa Bola itu bundar memang masih terbukti prediksi para pengamat dan penonton ternyata meleset karena Budi Gunawan melenggang mulus setelah dinyatakan lolos dan disetujui oleh rapat paripurna DPR, penonton terhenyak dan setengah tak percaya “ big match “ yang diprediksi akan terjadi di gedung DPR ternyata tidak terbukti dan malah anti klimaks karena kedua kubu KMP dan KIH tidak mau saling menyerang kubu lawan malah cenderung tidak ada yang mau memenangkan pertandingan layaknya sepakbola gajah yang dipertontonkan PSIS Semarang vs PSS Sleman, Sesaat penonton hening dan berpikir sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh Sang Presiden dan Anggota DPR  bagaimana mungkin seseorang yang sudah jadi tersangka masih melenggang mulus menjadi calon pemimpin tertingi Kepolisian RI memang benar kita perlu menegakkan asas presumption of inocense namun apa yang dipertontonkan mereka di lapangan sungguh menggelikan.


Pertarungan calon Kapolri sudah melewati 2 x 45 menit akan dilanjutkan dengan babak tambahan dan kini bola panas bergulir ke arah Presiden setelah DPR menyetujui usulan calon Kapolri dari Presiden. Apa yang akan terjadi selanjutnya semakin sulit diprediksi karena yang  biasanya Presiden dan DPR bertarung sengit  “head to head”  kini kompak bersatu di tengah lapangan . penonton hanya bisa mengelus dada dan bersiap gigit jari jika Presiden tetap melantik Calon Kapolri berstatus tersangka pilihan Presiden dan DPR.


Memang hasil akhir pertandingan belum usai namun sebagain besar penonton sudah meninggalkan bangku stadion dengan gesture kecewa seolah tak percaya dengan yang terjadi saat ini, dimana lagi kita bisa mendapat panutan atau contoh penegakan hukum di negeri ini jika eksekutif dan legislatif sudah tidak terlalu aware dengan isu korupsi dalam pencalonan Kapolri, mungkin rakyat Indonesia kini sedang memasuki  era ” dark of the moon  “ seperti kisah dalam sekuel  film Transformer  ketika salah satu faksi robot dari luar angkasa yaitu Decepticon dibawah komando Megatron ingin menguasai bumi dan menghancurkan peradaban manusia, Megatron sendiri sebenarnya sudah pernah kalah dan tertidur pulas di palung terdalam laut bumi namun berhasil dihidupkan kembali dengan bantuan kekuatan “all spark” dan seolah ingin menebus tidur panjangnya selama ini Megatron telah menyiapkan strategi khusus untuk menancapkan kekuasaanya di muka bumi.


Kisah dari film itu mungkin kalau mau sidikit lebay bisa dipersepsikan dengan kondisi rakyat Indonesia sekarang dalam pertarungan calon Kapolri karena kalau ditanya apakah rakyat Indonesia mau POLRI dipimpin oleh seorang tersangka tentu sebagian besar tidak mau ( terlepas kita juga hormati belum ada keputusan pengadilan yang nyatakan BG bersalah ) namun apa yang bisa dilakukan rakyat Indonesia jika benar bahwa calon tersebut merupakan rekomendasi Megatron penguasa faksi Decepticon yang kini sedang berkuasa.


Jika dalam film Transformer tersebut manusia butuh Optimus Prime dan autobot lainnya untuk melawan Megatron dan Decepticon lainnya, maka kini di Indonesia siapa yang akan muncul layaknya Optimus Prime yang berani melawan tirani dan tekanan kelompok yang tidak lagi mengindahkan penegakan supremasi hukum, komitmen pemberantasan korupsi dan penyelenggara pemerintah yang bersih. Rakyat sudah lelah dengan drama politik yang disuguhkan para aktor politik negri ini yang hanya mementingkan kepentingan kelompoknya di atas kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan bangsa dan Negara.


Semoga episode pencalonan Kapolri ini akan berakhir “happy ending” seperti layaknya kisah film Hollywood selalu muncul pahlawan di akhir cerita , dan kita boleh berharap jelmaan Optimus Prime itu akan muncul dari mana pun baik itu dari Presiden , KPK, atau kekuatan rakyat lainnya yang mampu memimpin rakyat Indonesia melawan Invasi Megatron yang ingin melumpuhkan peradaban bangsa Indonesia , Semoga. (sangpencerah.id)

*) redaksi sangpencerah.id