Kebersamaan Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama Kabupaten Bantul

Foto Bareng Jajaran Pimpinan Muhammadiyah dan NU di Bantul
Pertemuan secara resmi Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama Kabupaten Bantul bermula menjelang akhir tahun 2014. Walaupun secara tidak resmi komunikasi dan silaturahim selalu dilaksanakan. Diakhir tahun 2014 menjelang tahun baru masehi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bantul bersilaturahim ke Pimpinan Cabang (PC) Nahdatul Ulama (NU) Bantul. Muhammadiyah dipimpin oleh Drs.H.Asrori Ma’ruf, M.Pd, Drs. H. Sahari. Drs. Bambang Inanta. Silaturahim ini dalam rangka untuk menguatkan ukhuwah Islamiyah sesama umat Islam. Akan tetapi silaturahim ini belum diadakan dialog interaktif dan belum melibatkan angkatan muda baik dari Muhammadiyah maupun Nahdatul Ulama. 
Hasil dari pertemuan tersebut berlangsung di dampingi dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kabupaten Bantul yang diketuai oleh KH Abdul Khaliq Syifa’ dari Nahdatul Ulama dan wakil ketua Drs. H. Saebani, MA.M.Pd dari Muhammadiyah. Dilanjutkan dengan diskusi yang diselenggrakan pada Rabu, 07 Januari 2014 di Gedung Dakwah PDM Bantul, Jl.Ahmad Yani 30 Bantul. Pertemuan dalam rangka silaturahim ini tidak hanya melibatkan kaum tua tetapi juga dari kaum muda baik dari Muhammadiyah maupun Nahdatul Ulama. Muhammadiyah melibatkan organisasi otonomnya (ortom) antara lain ‘Aisyiyah (ibu-ibu Muhammadiyah), Pemuda Muhammadiyah (PM), KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) kader putri Muhammadiyah. Sedangkan dari Nahdatul Ulama melibatkan Fatayat (ibu-ibu Nahdatul Ulama), Gerakan Pemuda Anshor, Banser, IPNU dan IPPNU (organisasi pelajar NU).
Tema yang dibawa dalam silaturahim  antara Muhammadiyah dan NU ini adalah membangun kebersamaan. Acara dipimpin oleh sekretaris MUI Kabupaten Bantul dan selaku pimpinan Muhammadiyah yaitu Drs.H.Marzuki, M.Pd. Selanjutnya pengantar dalam pertemuan dalam rangka silaturahim oleh KH. Abdul Khaliq Syifa’ selaku ketua MUI. Beliau menyampaikan bahwa pertemuan ini dalam rangka mempertemukan dua umat Islam terbesar di Bantul dan Indonesia terlebih untuk menguatkan ukhuwah Islamiyah di Kabupaten Bantul. Pertemuan ini merupakan kedua yang sudah dimulai dari generasi tua. Harapannya ini menjadi kegiatan rutin yang nanti akan memperkuat lagi untuk menghilangkan percikan-percikan  kecil yang terjadi pungkasnya. Selain itu beliau menambahkan bahwa di Kabupaten Bantul baru saat ini di mulai secara organisatoris dan kita akan belajar kemajuan di Muhammadiyah yang nanti bisa ditiru di NU.
Ketua MUI Kabupaten Bantul tersebut juga menyampaikan  ketika pemerintah merencanakan  guru agama asing dilarang yang paling keras menolak adalah Muhammadiyah dan NU. Wakil ketua MUI dan selaku tuan rumah Drs.H.Saebani,M.A.M.Pd menyampaikan bahwa yang diundang saat ini kebanyakan generasi muda, pertemuan ini menjadi awal untuk membangun kebersamaan Muhammadiyah dan NU. Dahulu berjuang sendiri-sendiri sekarang kerjasama, Muhammadiyah dan NU  menegakkan Islam di Indonesia dan Bantul pungkasnya. Beliau menjelaskan bahwa silah artinya  nyambung sedangkang rahim kasih sayang. Semoga bertemu scara fisik dan bisa bersama-sama  visi dan misi untuk tujuannya dakwah, mengajak masuk surga bersama-sama. Beliau menambahkan bahwa Muhammadiyah  lahir tahun 1912, artinya secara umur sudah tua akan tetapi hal tersebut harus digunakan untuk menata diri agar lebih baik. Hampir semua SD sampai SMK Muhammadiyah ingin membangun gedung supaya bermanfaat untuk umat. Salah satu gerakan dakwah Muhammadiyah dengan pendidikan dan kesehatan. Menegakkan Amar Ma’ruf nahi Munkar, menjunjung tinggi agama Islam dan menciptakan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dengan dasar Al Quran dan Assunah sebagai gerakan Muhammadiyah.
Selanjutnya diskusi dimulai dari para peserta yang hadir baik dari Muhammadiyah maupun NU banyak yang menyampaikan bahwa dikalangan Muhammadiyah banyak yang berkeluarga dengan NU. Begitupun sebaliknya baik dari NU juga menyampaikan demikian. Peserta mengharapkan pertemuan ini tidak hanya dilaksanakan saat ini akan tetapi bisa dilaksanakan secara rutin. Antusiasme dari generasi muda Muhammadiyah maupun NU juga sangat senang dengan agenda rutin tersebut. Drs. H. Sahari juga menyampaikan bahwa kunci pokok dalam hubungan antara Muhammadiyah dan NU ada di komunikasi. Tentunya komunikasi dan silaturahim tersebut harus selalu dibangun dengan baik untuk menghilangkan friksi-friksi yang terjadi. (joe)