IPM: Hukuman Mati Adalah Keputusan Baik Bagi Pengedar Narkoba

Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) menganggap keputusan pengadilan tentang eksekusi hukuman mati terhadap tervonis mati dan tidak mendapat grasi dari presiden merupakan keputusan terbaik buat para pengedar narkoba.

Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Pusat IPM Khairul Sakti Lubis. Eksekusi mati terhadap pengedar narkoba dinilai tepat karena telah mencelakai lebih dari 4 juta rakyat Indonesia yang 22 persennya adalah pelajar dan mahasiswa. Berdasarkan hasil survei Nasional Perkembangan dan Peredaran Gelap Narkoba di 16 provinsi sebagai sampel di tanah air pada tahun 2011 menyatakan bahwa 22 persen dari pengguna narkoba di Indonesia adalah pelajar dan mahasiswa. Dari penelitian ini di temukan bahwa 2,6 persen siswa SLTP sederajat pernah menggunakan narkoba, 4,7 persen siswa SMA terdata pernah memakai narkoba, dan 7,7 persen mahasiswa pernah memakai barang haram ini.
Hal ini tentu harus menjadi perhatian semua kalangan termasuk pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat. Karena semboyan pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan , dan kemajuan suatu bangsa terletak ditangan pemuda tidak akan terwujud jika para pemuda dan pelajar hari ini adalah pecandu narkoba.
Maka dari itu para pemuda dan pelajar hari ini harus disibukkan dengan gerakan keilmuan, keagamaan, kreativitas, sosial, dan organisasi agar pemuda dan pelajar dapat terbentengi dari pengaruh buruk dunia global narkoba dan pergaulan bebas. Hal ini termasuk bagian dari misi Ikatan Pelajar Muhammadiyah ujar Khairul Sakti Lubis.
Indonesia merupakan pangsa pasar narkotika terbesar se-Asia Tenggara. Dari kebutuhan narkotika untuk Asia Tenggara 45 persen diqntaranya untuk Indonesia. Eksekusi hukuman mati terhadap pengedar narkoba ini diharapkan dapat menjadi efek jera dan dapat menurunkan tingkat pengefaran narkoba di Indonesia, tambah Khairul Sakti Lubis Ketua PP IPM yang juga membidangi persoalan advokasi.