Gubernur Ini Menangis di DPRD Karena Ada Rakyatnya yang Miskin

Samarinda — Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak menangis di Gedung Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltim ketika berbicara mengenai
otonomi khusus, kemudian Wakil Gubernur Mukmin Faisyal yang duduk di
sampingnya mengambilkan tisu untuknya.

“Seharusnya Kaltim bisa
menjadi rumah yang nyaman bagi masyarakatnya, seperti infrastruktur yang
memadai, pelayanan listrik 24 jam, tidak ada warga miskin, dan tidak
ada pengangguran,” katanya sambil menangis ketika Sidang Paripurna DPRD
tentang HUT Kaltim di Samarinda, Kamis (7/1).

Alasan gubernur
mengenai warga Kaltim yang seharusnya tidak lagi miskin dan tidak ada
yang menganggur itu, karena Kaltim memiliki banyak sumber daya alam
(SDA) yang bisa dijadikan wahana untuk menciptakan lapangan kerja.

Untuk
itu, masih dalam isak tangisnya, Awang Faroek meminta kepada semua
lapisan masyarakat Kaltim agar terus mendukung tuntutan otsus yang telah
digelorakan sejumlah lapisan masyarakat setempat.

Dia meyakinkan
masyarakat bahwa dirinya akan berdiri paling depan untuk serius
memperjuangkan otsus di Kaltim, karena diyakini otsus akan mampu membawa
perubahan dan keadilan bagi daerah penghasil SDA terbesar di luar Pulau
Jawa.

Awang Faroek mengatakan selama 58 tahun terakhir, Kaltim
sebagai penyumbang SDA yang besar, tidak diberi hak yang adil oleh
pemerintah pusat demi untuk kesejahteraan masyarakatnya.

“Dampak
sosial ekonomi yang tidak memihak pada kesejahteraan rakyat inilah yang
sangat merugikan. Kita kaya tapi tidak sejahtera. Dana bagi hasil kurang
memuaskan. Untuk itu, otonomi khusus harus kita perjuangkan,” ujar
gubernur mulai bersemangat setelah berhasil mengendalikan emosinya.

Sementara
itu, Ketua DPRD Kaltim M Syahrun dalam rapat paripurna tersebut, secara
resmi menyatakan sikap mendukung otsus karena tuntutan tersebut
merupakan tuntutan masyarakat Kaltim.

Namun demikian, dia
mengingatkan kembali kepada semua lapisan masyarakat agar tetap berjuang
di jalur konstitusional, kemudian tidak melakukan aksi-aksi yang
anarkis dan memblokade objek vital, karena hal itu tidak sesuai dengan
komitmen perjuangan Kaltim. (sp/rol)