Fanatisme Madzhab ; Inkonsistensi Pengikut Madzhab

Fajar Rachmadhani, Lc
(Mudir Mahad Ali Bin Abi Thalib UMY, Dosen Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Yogyakarta)
Memang tidak ada dalil yang secara eksplisit baik dari Al Quran maupun Sunnah yang memerintahkan kita untuk bermadzhab atau berafiliasi kepada salah satu madzhab tertentu dari madzhab-madzab imam yang empat. Namun demikian, bermadzhab menjadi sebuah jalan dalam rangka memahami nash-nash yang ada baik di dalam Al Quran maupun As Sunnah, lantaran tidak semua orang mampu memahami dan menginterpretasikan firman Allah di dalam Al Quran serta sunnah Rasulullah SAW. Hanya sebagian orang yang telah memenuhi kualifikasi sebagai seorang Mujtahid lah, yang mampu memberikan penjelasan serta istinbath (kesimpulan) hukum dalam suatu persmasalahan. Sehingga pada intinya, bermadzhab adalah sebuah wasilah (sarana) bukan ghayah (tujuan).
Jika memang bermadzhab adalah sebagai wasilah (sarana) dalam memahami nash Al Quran dan Sunnah, maka dalam bermadzhab pun tentu ada rambu-rambu yang harus diperhatikan, diantaranya adalah fanatisme madzhab. Kecenderungan bagi setiap penganut madzhab tertentu adalah fanatik terhadap pendapat madzhab yang ia ikuti, membela mati-matian, mencari pembenaran, bahkan sampai mengklaim bahwa pendapat madzhabnya lah yang paling benar dan menganggap pendapat yang lain salah, walaupun pada dasarnya seseorang tidak akan bisa terlepas dari subyektifitas masing-masing. Namun demikian tradisi fanatisme madzhab inilah yang bisa bepotensi memecah belah persautuan umat Islam.
Jika kita menengok kembali sejarah perjalanan keilmuan Islam, fiqih Islam pernah mengalami masa keemasan dan kejayaan lantaran sikap sportivitas para mujtahid begitu tinggi, juga sikap para penganut madzhab yang cenderung obyektif tanpa mengabaikan kelemahan serta kekurangan yang ada. Masing-masing mujtahid tetap mengakui kelebihan satu dengan yang lain serta menyadari kekurangan masing-masing. Adanya perbedaan pendapat diantara mereka tidak lantas membuat mereka saling merendahkan antara yang satu dengan yang lain, saling menyalahkan, ataupun mengklaim bahwa pendapat merekalah yang paling mendekati kebenaran. Justru adanya perbedaan yang ada di tengah-tengah mereka menjadi sarana untuk saling menghargai bahkan memuji antara mereka. Namun, masa itu tidak berlangsung lama, pada abad ke IV Hijriyah bahkan mungkin samapi saat ini, munculnya tradisi fanatisme madzhab telah mengakar sehingga fiqih pun mengalami stagnasi serta kejumudan.
Pada dasarnya, bagi penganut madzhab tertentu, jika ia benar –benar konsisten serta berpegang teguh kepada madzab yang ia ikuti, maka fanatisme madzhab ini tidak akan pernah terjadi, lantaran ia benar-benar telah mengamalkan pesan-pesan serta ajaran Imam-imam madzhab mereka. Imam Abu Hanifah contohnya, beliau pernah berpesan;
إذا قلت قولا يخالف كتاب الله تعالى وخبر الرسول صلى الله عليه وسلم فاتركوا قولي
“ apabila aku mengatakan seseuatu perkataan (pendapat) yang menyelisihi Al Quran dan Sunnah Rasulullah maka tinggalkanlah perkataanku tersebut”.
Imam Malik bin Anas pun pernah mengatakan hal yang sama yang dikutip oleh Ibnu Abdil Barr;
إنما أنا بشر أخطئ وأصيب فانظروا في رأيي فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه
“Aku ini hanyalah manusia yang terkadang salah terkadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku, setiap pendapat yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, maka ambillah. Dan yang tidak sesuai maka tinggalkanlah” [Ibnu Abdil-Barr dalam Al-Jami’ 2/32].
Begitu pula Al Imam As Syafi’i pernah mengatakan hal yang serupa;
إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ما قلت
“Jika kalian menemukan dalam kitabku ada pendapat yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berkatalah sesuai sunnah tersebut, dan tinggalkanlah perkataanku.(Imam An Nawawi dalam Al Majmu’ 1/63)
Imam Ahmad bin Hanbal juga mengatakan;
لا وتقلدني، ولا تقلد مالكاً ولا الشافعي ولا الأوزاعي، ولا الثوري، وخذ من حيث أخذوا 
“Jangan engkau taqlid kepadaku, dan jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, dan Ats-Tsauri. Tetapi ambillah darimana mereka mengambil” [Ibnul-Qayyim dalam I’lamul-Muwaqqi’in 2/302].
Memperhatikan penyataan-pernyataan imam-imam madzhab di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa imam-imam pendiri madzhab fiqih pun tidak mengajarkan ataupun menganjurkan fanatisme madzhab kepada para pengikutnya. Sehingga barangsiapa yang mengaku menganut dan berafiliasai kepada salah satu madzhab dari madzhab-madzhab imam empat yang ada, lantas kemudian ia bersikap fanatik terhadap madzhab yang ia anut, maka sejatinya ia tidak mampu untuk bersikap konsisten terhadap madzhabnya.
Wallahu a’lam bis showab

sangpencerah.id