Beragama yang Tak Beragama

oleh : Dani Kurniawan

Judul di atas mesti mengundang berbagai pertanyaan dari pembaca. Minimal mempertanyakan pesan apa yang dimaksud oleh penulis dalam judul artikel tersebut. Penulis sengaja mengetengahkan judul tersebut karena berdasarkan realitas kehidupan masyarakat dalam religiusitas.
Realitas yang terjadi adalah ada orang mengaku mempunyai agama misalkan saja beragama Islam. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari tidak mencerminkan ciri keislamannya. Contoh jarang melakukan sholat, jarang melakukan puasa, jarang melakukan zakat kemudian malas mendalami ajaran agama. Bahkan perilakunya melanggar dari ajaran agama, seperti : melakukan judi, mencuri, minum khamar, berzina, korupsi, mengadudomba, melakukan fitnah dll.
Alhasil mengaku Islam akan tetapi perilakukanya bertolak belakang dengan ajaran Islam, atau orang beragama namun dalam kehidupan jauh dari nilai-nilai ajaran agama. Fenomena ini sekarang banyak dijumpai di mana-mana sehingga sampai muncul istilah Islam abangan atau Islam KTP. Gejala ini memang memprihatinkan yang kemudian mengundang banyak pertanyaan. Munculnya fenomena ini pasti ada yang salah baik yang sifatnya internal maupun ekternal dan hal itu saling berkaitan satu sama lain.
Apabila diamati secara seksama agama dalam hal ini dipandang sebagai merk, sebuah identitas formal yang sifatnya lahiriah. Kecenderungan ini banyak dimaknai oleh kaum modern sebab agama adalah sebuah itentitas hubungan antara hamba dengan tuhan yang sifatnya privat tidak perlu diketahui oleh orang lain. Merespon hal ini penulis ingin memetik salah satu ayat dalam Al-Qur’an yaitu surat At-Taubah ayat 122 yang artinya :
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
Dalam ayat ini ada penggalan kalimat yang artinya memperdalam pengetahuan agama. Memahami ayat ini penulis berpendapat setiap individu yang beragama dianjurkan untuk memperdalam agamanya. Karena dalam ajaran agama itu ada banyak pengetahuan yang harus difahami misalkan pengetahuan dalam perintah-perintah agama, larangan-larangan agama.
Selanjutnya pengetahuan tentang akhlaq (moral) dalam kehidupan sehari-hari, pengetahuan tentang adab misalkan adab makan, tidur. Kemudian ilmu dalam beribadah, pengetahuan dibidang ekomomi, politik dll. Bila tidak mau mempelajari agama maka agama yang kita peluk hanya agama merk. Sebuah ajaran kebajikan, tidak sampai dihayati dalam hati pikiran dan perbuatan.
Bila diri kita merasa agama merk maka sesungguhnya kita beragama tetapi tidak beragama. Padahal agama adalah way of life (pandangan atau jalan hidup) dan apabila hidup kita jauh dari agama maka akan rugi dan mudah melakukan tidakan negatif baik bagi diri sendiri maupun lingkungan.
Memperdalam agama menurut Ustadz Ali Yusuf, M,Hum Pengasuh Pondok Pesantren Fauzul Musliminm Yogyakarta cirinya ada tiga yaitu :pertama, mempelajari agama Islam harus berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadist. Artinya umat lslam dianjurkan untuk mempelajari agama lslam berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadist karena dua sumber inilah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.
Apabila kita belajar agama tidak berdasarkan qur’an dan hadist maka yang didapatkan adalah kesesatan jauh dari kebenaran. Kedua, setelah mengetahui ajaran agama saja tidak cukup, ajaran itu harus diamalkan dalam perbuatan. Sebab bergama tidak diamalkan itu seperti kacang tanpa isi. Inti dari agama adalah membentuk insan yang baik sedang agama adalah sumber kebaikan. Oleh karena itu ajaran agama harus diamalkan.
Ketiga, ajaran agama harus disebarkan dan disyiarkan kepada yang lain. Sholeh itu sifatnya tidak hanya personal tetapi juga sosial maka dari itu dikenal istilah sholeh sosial. Guna membentuk kesholehan sosial maka ajaran agama disebarkan kepada orang lain dengan syarat tanpa pemaksaan. Bila ajaran agama mampu diterima orang maupun kelompok lain maka terbentuk kebaikan yang tercermin dalam masyarakat dan itulah peradaban yang dicita-citakan lslam.
Dari sini dapat disimpulkan agama itu dibutuhkan baik perseorangan dan masyarakat guna membentuk tatanan masyarakat yang baik dan bermartabat. Oleh karena itu jangan ragu untuk sungguh-sungguh mendalami agama mumpung kesempatan masih terbuka lebar.

*) Sekretaris
Bidang Media & Litbang PWPM DIY

sangpencerah.id