Bagaimana Kalau Charlie Hebdo Hanyalah Tumbal?


*) Oleh : Gilig Pradhana

Kita ikut-ikut mengira bahwa mereka adalah kelompok Islam garis keras yang masih muda dan marah karena alasan agamis: Nabinya dihina, tapi renungkan… mungkinkah sebenarnya kita sedang dipermainkan agar percaya hal tersebut?


Begini teorinya. Teroris sama sekali tidak tersinggung oleh kartun, tidak pula kartun yang menghina Nabi Muhammad SAW. Mereka tidak peduli meski kartun-kartun itu menghina siapapun. Bahkan mereka tidak peduli jika kartun itu menghina Nabinya umat Islam. Namun mereka tahu bahwa kartun Nabi adalah api pemantik konflik terhadap umat Islam.


Sebenarnya, para penjagal tersebut hanya berpura-pura beraksi atas ketersinggungan terhadap kartun-kartun penghinaan itu, sekedar untuk menjadi alasan untuk melakukan pembunuhan. Tragedi pembantaian cukup mengerikan sehingga mudah memancing non-Muslim –yang dibutakan oleh kesedihan dan kemarahan- untuk menyalahkan Islam, mengadili kaumnya, membakar kitabnya, menyerang masjidnya, melecehkannya saat bertemu di jalan, bahkan menuntut negara untuk mengusirnya dari negara-negara Barat.
Kondisi ini bisa memaksa kaum Muslimin seolah hanya memiliki dua pilihan, mendukung terorisme dan bahkan menjadi satu bagian dengan mereka, ATAU menolak terorisme dengan bergabung bersama negara Barat memerangi terorisme yang, tentu saja, sudah dikerangkeng dalam cara berpikir Barat.


Dalam kemarahan yang lugu, kita ngeyel menganggap tragedi ini dipicu oleh kartun dan berkaitan dengan kartun. Kita mengira bahwa terorisnya telah merasa puas setelah para kartunis penghina itu mati, dan tidak ada lagi orang yang akan berani menggoreskan penanya lagi untuk menghina Islam. Dengan demikian kita telah membenarkan tuduhan bahwa terorisme dimainkan secara dominan oleh kelompok radikal Islam, meskipun sebagian dari kita tidak setuju, dan sebagiannya “merayakan” kematian para kartunis tersebut. Kenapa demikian? Majalah Charlie Hebdo tidak hanya menyudutkan Islam, namun juga agama-agama lain, termasuk para politikus dunia. Majalah itu menuai kecaman dari berbagai penjuru, maka ketika sesuatu terjadi padanya, siapapun “berpotensi” untuk menjadi pelakunya, tidak hanya Muslim.


Nah, cerobohnya kita, adalah terburu-buru! Yang satu terburu-buru menasehati kaum Muslimin, bahwa itu bukan tindakan yang dibenarkan dalam Islam. Pertanyaannya itu, kenapa dikaitkan dengan Islam? Seolah kita harus buru-buru berapologi bahwa pelakunya adalah Muslim yang tidak benar, bahkan jauh sebelum pihak berwenang menguak identitas pelakunya.


Yang lain termakan emosi, setelah dibully berulang-ulang oleh media massa islamophobis, tanpa pembelaan yang memadai dari pemimpin mereka, akhirnya menyukurkan kematian tragis para kartunis tersebut.



Dunia sedang diprovokasi untuk bereaksi keras kepada Muslim, dan Kita dialihkan dari jalan lain menuju tegaknya Islam yang damai: dakwah bil hikmah. Mari kita perhatikan berita, jika masjid-masjid mulai dinistakan, Muslim semakin dibenci, sementara kita menjauh dari dakwah untuk mengajak mereka kepada Islam, malah beralih mencari-cari kambing hitam dalam kelompok-kelompok Islam, itu tandanya kita semua telah terpancing ke dalam perang, dimana terorisnya sedang menghitung pundi-pundi pemasukannya.