Alasan Cegah Radikalisme, Menaker Larang Guru Agama Asing


Jakarta – Pemerintah melarang tenaga kerja asing (TKA) yang berprofesi guru agama dan dosen teologi dari semua agama untuk bekerja di Indonesia. Langkah ini sengaja diambil untuk mencegah potensi penyebaran paham-paham radikal yang bisa saja dibawa oleh tenaga kerja asing tersebut.

“Kita  menutup pintu untuk TKA yang berprofesi guru atau dosen agama maupun teologi. Ini sebagai salah satu upaya menghindarkan lembaga agama tidak dijadikan lahan persemaian ide atau kaderisasi yang radikal,” kata Menaker Hanif Dhakiri di Jakarta, lewat siarang pers yang diterima Metrotvnews.com pada Jumat (2/1/2014).

Hanif mengatakan larangan itu sudah berlaku dua bulan terakhir. Pelarangan itu juga sudah masuk dalam regulasi revisi peraturan menteri ketenagakerjaan (permenaker) 40 tahun 2012 tentang jabatan-jabatan yang tertutup bagi TKA.

“Radikalisme agama apapun tidak boleh berkembang di Indonesia. Anak-anak Indonesia harus memperoleh pendidikan agama sesuai dengan kultur Indonesia dan kebhinnekaan,” kata Hanif

Kementerian Ketenagakerjaan akan menggandeng pihak terkait untuk pemberlakukan aturan ini.

Berdasarkan data Ijin Mempekerjakan Tenaga Kerja  Asing (IMTA) yang diterbitkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan per Oktober tahun 2014, tercatat sebanyak 64.604 orang TKA yang bekerja di Indonesia. Jumlah ini terus menurun dibandingkan tahun 2013 sebanyak 68.957 orang dan tahun 2012 sebanyak 72. 427 orang

TKA asal Tiongkok tetap mendominasi dengan jumlah  mencapai 15.341 orang,  Jepang (10.183), dan Korea Selatan (7.678). Sedangkan  TKA dari India (4.680), Malaysia (3.779) dan Amerika Serikat (2.497).

Dilihat dari kategori sektor pekerjaan, sebagian besar TKA di Indonesia bekerja di sektor jasa sebanyak 38. 540 orang, sektor industri sebanyak 23.482 orang dan sisanya sektor pertanian sebanyak 2.582 orang. (mtr/sp)