Adakah Diri ini Dicintai & Dibersamai Allah Ta’ala ?

oleh : Fathurrahman Kamal, Lc, M.SI
Pertanyaan tersebut terus menerus menggoda dan mengganggu pikiran ini.
Ku-buka lembaran-lembaran Qur’an-ku, ku-dapatkan bahwa cinta dan kebersamaan Allah itu “bersyarat”; hanya bagi orang-orang dengan kriteria tertentu !. Berkali-kali lembaran-lembaran suci itu ku-baca, ku-cermati dan ku-renungkan tuk sekedar mendapatk jawaban yang memuaskan hati yang gelisah : pantaskah diri ini dicintai dan dibersamai-Nya???
Kudapat dalam Al-Qur’an, Allah mencintai para “muhsinin” (QS Al-Baqarah : 195; Al-Maidah : 109), yaitu orang-orang yang gemar berbuat kebaikan kepada apa dan siapapun tanpa syarat. Namun kusadari bahwa diri ini terlalu sering berharap imbalan, pujian dan sanjungan dalam melakukan sedikit kebaikan kepada segelintir orang sekalipun. Sungguh diri ini jauh dari karakter para “muhsinin”.
Kudapat Allah mencintai orang-orang yang selalu mensucikan diri , menjauhi dosa dan nista, “mutathahhirin” (QS Al-Baqarah : 222). Ah, akupun teramat jauh dari sifat-sifat mulia ini. Aku tak pantas meraih cintaNya!
Kudapat Allah mencintai para “muttaqin” (QS Alu Imran:76; Al-Taubah : 4, 7), orang-orang yang selalu berupaya membentengi diri mereka dari siksa pedihNya di akherat kelak. Ku rasa, keseharianku masih sangat gemar mengundang murka dan siksa pedih itu. Bagaimana pula aku dicintaiNya???
Kudapat pula, para “mutawakkilun” (QS Alu Imran: 159) yaitu orang-orang yang selalu berikhtiar sepenuh hati dan upaya, lalu bersandar total pada perkenan dan ridlo-Nya. Hidupku sebaliknya : aku yakini segala kesuksesan hidupku sepenuhnya karena upayaku, rasa-rasanya aku tak perlu kehadiran Allah dalam hidup ini. Harta, jabatan, status sosial, penghormatan orang kepadaku, telah ku-raih. Tak cukup alasan untuk bersandar kepada-Nya…Lalu, apakah pantas diri ini dicintai Allah???
Terus lembaran-lembaran suci itu ku bolak-balik, adakah diri ini dicintaiNya. Para “muqsithin” (QS Al-Maidah:42) yaitu orang-orang yang hidupnya lurus, proporsional dan menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Ah, lagi-lagi terlalu banyak orang yang telah kuzalimi. Anak dan isteri, tetangga, kolega, pimpinan dan bawahanku, semua mereka itu merasakan keburukan sikap dan prilaku hidupku. Bahkan orang yang teramat mulia sekalipun, yang dari sperma dan sel telurnya aku diciptakan Allah dengan qudrat dan iradatNya, juga tak aman dari kezalimanku. Lidah ini terlalu kaku untuk sekedar mengatakan, “ya Allah ampuni mereka”….bagaimana pula Allah mencintaiku???
Dalam QS Al-Shaff ayat ke-4, kutemukan Allah mencintai para “mujahid”, mereka adalah barisan tegak lurus para pemburu Firdaus-Nya; merelakan waktu, harta, jiwa bahkan nyawa sekalipun dalam menegakkan kebenaran di muka bumi ini…Ah, diri ini terlalu jauh terjerumus di jurang permisifisme dan hedonisme. Melawan diri dalam sekejap pun tak kuasa !…jauh…jauh…dan jauuuuuh sekali…..tak pantas lah diri ini dicintai-Nya!
Aku tak berputus asa, akhirnya kutemukan ayat yang bertutur (إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ), “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat” (QS Al-Baqarah:222) Aku yakin Ayat mulia ini sedang bertutur kepada diri yang kotor ini…yang penuh dosa dan kemaksiatan….segera kulantunkan :
أستغفر الله وأتوب إليه … أستغفر الله وأتوب إليه … أستغفر الله وأتوب إليه
Ya Robb, ternyata masih terbuka peluang tuk meraih Cinta-Mu !
*Terinspirasi dari renungan spiritual Syaikh Ali Al-Thanthawi (رحمه الله تعالى)