10 Wanita Pendamping Setia Rasulullah

1. Khadijah Binti Khuwailid
Putri Khuwailid bin Abdul Uzza ini lahir dari keluarga terhormat. Beliau seorang wanita cerdas, berparas cantik, kaya dan memiliki perangai mulia. Maka tak heran, setelah kedua suaminya wafat, banyak para pembesar Ouraisy ingin melamarnya. Namun Allah mempertemukannya dengan seorang laki-laki jujur, amanah dan berakhlak mulia yang kelak di kemudian hari menjadi seorang Rasul. Laki-laki itu tak lain adalah Muhammad al-Amin.
Pertemuannya dengan Muhammad, berawal dari kerjasama bisnis mereka berdua. Khadijah sangat terkagum dengan kepribadian pemuda yang amat mulia ini, yang berbeda dari kebanyakan pemuda lain. Muhammad menikahinya saat usia Khadijah mencapai 40 tahun dan usia beliau 20 tahun.
Dari keluarga yang mulia ini, Allah mengkaruniai dua orang putra, yaitu; Al- Oasim dan Abdullah, serta empat orang putri, yaitu; Zainab, Ruqayyah, Ummi Kultsum dan Fathimah. Abdullah dan Al- Oasim dipanggil Allah saat masih kanak- kanak. Begitu juga Sumayyah menghadap
semua orang mengingkarinya. Khadijah wafat pada usia 65 tahun, setelah beliau berhasil menjadi teladan terbaik dan paling tulus dalam berdakwah di jalan Allah dan berjihad di jalanNya.
2. Saudah Binti Zam’ah
Setelah kepergian Khadijah, Rasulullah menikah dengan seorang wanita mulia yang bernama, Saudah Binti Zam’ah Bin Qais. Beliau telah kehilangan suami tercintanya ketika berhijrah ke negeri Habasyah untuk menyelamatkan akidah Islam dari ancaman orang kafir Ouraisy. Berbagai ujian dihadapinya dari intimidasi orang-orang kafir. Begitulah
Allah menjadi seorang syahi putrinya yang lain, Ruqayyah Kultsum di kemudian hari di Usman Bin Affan.
Khadijah menjadi istri yan§p mendampingi suami tercinta, la korbankan apapun yang dimiliki demi kepentingan suaminya, la mampu menenangkan hati suaminya saat kegelisahan menyelimuti dirinya setelah pertemuannya dengan malaikat Jibril di gua Hira. Dialah orang pertama yang menerima dakwah Rasulullah ketika Saudah menghadapi ujian yang berat, berada di negeri asing sebagai janda, apalagi diusianya yang telah lanjut.
Meski beliau wanita janda yang telah lanjut usia, namun Rasulullah menaruh perhatian kepadanya. Karena ia seorang muhajirah yang telah beriman kepada dien Allah. Orang-orang di Mekah merasa heran terhadap pernikahan ini. Meraka seolah tidak percaya dengan kejadian tersebut, seorang janda yang telah lanjut usia dan tidak terlalu cantik menggantikan posisi Kahdijah, seorang wanita pembesar Ouraiys. Saudah mampu menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik dan mengurus putri-putri beliau.
Sebagai istri yang setia, ia memberi­kan gilirannya kepada Aisyah, hingga Aisyah senantiasa mengenangnya di kemudian hari atas kesetiaannya itu. Aisyah berkata: “Tiada seorang wanitapun yang paling aku sukai agar aku memiliki sifat sepertinya melebihi Saudah Binti Zam’ah tatkala berusia senja yang berkata: “Ya Rasulullah, aku hadiahkan kunjungan anda untuk Aisyah” hanya saja dia berwatak keras”
3. Aisyah Binti Abi Bakar
Setelah tiga tahun hidup bersama Saudah, Rasulullah menikah dengan Aisyah, putri Abu Bakar Siddiq yang saat itu masih berusia tujuh tahun. Pernikahannya dengan Aisyah atas perintah Allah, sebagai penghibur atas kepergian Khadijah. Beliau adalah istri yang paling dicintai Nabi dan satu-satunya wanita gadis yang dinikahinya. Beliau hidup bersama Rasulullah dalam suka dan duka. Di rumah mereka, kadang hanya ada kurma dan air, bahkan kadang tidak ada sesuatupun yang dapat dimakan.
Aisyah seorang wanita cerdas dan memiliki keluasan ilmu pengetahuan, hingga menjadi rujukan umat dalam bidang hadis dan fiqh. Az-Zuhri berkata: “Seandainya ilmu Aisyah dibandingkan dengan ilmu seluruh wanita, niscaya ilmu Aisyah lebih unggul”. Banyak para ulama yang menyerap ilmu darinya. Keluasan ilmu Aisyah tidak saja pada ilmu-ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum. Seperti; syair, sastra, sejarah, kedokteran dan ilmu yang lainnya.
Rumah tangga Rasulullah bersama Aisyah pernah diguncang fitnah, berupa tuduhan palsu yang disebarkan orang- orang munafik. Tuduhan keji yang tidak layak ditimpakan kepada seorang wanita seperti Aisyah. Namun akhirnya Allah menurunkan ayat yang menjelaskan bahwa Aisyah terlepas dari tuduhan itu.
Ketika Rasulullah wafat di rumah Aisyah, kepala beliau berada dipangkuannya. Setelah kepergian Rasulullah, Aisyah menghabiskan sisa usianya untuk mengajar dan berdakwah hingga beliau wafat diusia yang ke 66 tahun, setelah menggoreskan teladan keilmuan bagi generasi muslimah setelahnya
4. Hafshah Binti Umar
Wanita muda berparas cantik, bertakwa dan disegani ini adalah putri Umar Bin Khaththab. la menjanda dalam usia muda, yaitu 18 tahun, setelah suaminya meninggal akibat penyakit ya ‘g diderita pada perang Uhud. Ujian berat yang dialami Hafshah membuat ayahnya merasa kasihan kepadanya.
Rasulullah sangat memahami kesedihan yang dirasakan oleh Umar, apalagi setelah Abu Bakar dan Usman tidak bersedia menikahi putrinya. Beliau berkata kepadanya: “Hafshah akan dinikahi oleh orang yang lebih baik dari Abu Bakar dan Usman.” Begitulah Rasulullah menghibur kesedihan temannya Umar Bin Khaththab.
Hafshah bergabung ke dalam keluarga Rasulullah sebagai istri ketiga setelah Saudah dan Aisyah pada tahun ketiga hijriyah. Kehidupan rumah tangga Rasulullah bersama Hafshah berjalan dengan harmonis. Meski kadang ada sedikit masalah yang timbul, layaknya hubungan suami-istri. Misalnya, suatu kali Rasulullah pernah mentalak Hafsah karena dianggap menyusahkan beliau, namun beliau merujuk kembali atas perintah yang disampaikan oleh Jibril yang berkata: “Dia adalah seorang wanita yang rajin puasa, rajin shalat dan istrimu di surga” (HR. Abu Daud 2283).
Setelah Rasulullah wafat dan kepimimpinan umat Islam beralih ke tangan Abu Bakar, hafshah termasuk orang yang dipercaya memelihara al- Quran pertama, sebelum dibukukan. Hidupnya ia isi dengan ibadah kepada Allah. Beliau wafat pada masa Mu’awiyah Bin Abi Sufyan. Begitulah Hafshah menjaga al-Quran dari penyia-nyian hingga sampai ke tangan kita dengan terjaga keasliannya.
5. Ummu Salamah
Wanita cerdas, berparas cantik dan terhormat ini nama lengkapnya adalah Hindun Binti Abi Umayah Bin MughTrah. Sebelum menikah dengan Rasulullah, beliau adalah istri dari Abu Salamah, seorang sahabat mulia yang ikut hijrah ke Habasyah dan Madinah serta terlibat dalam beberapa peperangan, seperti perang Badar dan perang Uhud. Pada perang terakhir inilah, ia mengalami luka cukup parah di bagian lengannya. Lukanya terus bertambah, hingga ia harus berbaring di rumahnya, apalagi setelah ia ikut lagi dalam perang lain setelah perang Uhud.
Ketika Abu Salamah sakit menjelang wafatnya, ia berpesan kepada istrinya, mengutip apa yang dikatakan oleh Nabi bahwa: “Tidaklah seseorang ditimpa suatu musibah, kemudian ia mengucapkan “Innaalillahi wainnaa ilahi raaji’uun”dan memohon agar Allah memberikan kepadanya pahala dari musibah ini serta mengganti dengan yang lebih baik darinya, melainkan Allah akan mengabulkannya”. Setelah itu Abu Salamah wafat.
Begitulah Ummu Salamah menghadapi ujian yang berat, namun hatinya tetap tabah dan sabar, ia pasrah dengan ketetapan Allah, la selalu berdoa dengan doa yang diajarkan suaminya tadi. Setiap kali membaca doa “Ya Allah, gantilah aku dengan yang lebih baik darinya” ia bertanya-tanya, siapakah gerangan yang lebih baik dari Abu Salamah?. Rupanya Allah mengabulkan doa wanita shalihah ini. Setelah habis masa iddahnya ia dilamar oleh Rasulullah. Ummu Salamah benar-benar tidak percaya Rasulullah mau memperistrinya. Kemudian ia teringat dengan doanya tadi.
Ummu Salamah menjadi istri yang baik kepada suaminya dan selalu berusaha menjaga kesatuan hati dengan istri-istri Rasulullah yang lain. Pada tahun 59 hijriyah, diusianya yang ke 84, ruhnya menghadap Allah.
  1. Habibah, Ramlah Binti Abi Sufyan
Wanita yang satu ini adalah putri Abu Sufyan, pemimpin kaum musyrikin yang masih tetap kafir sampai penaklukan kota Mekah. Berbeda dengan ayahnya yang masih kafir, Ramlah telah beriman sejak awal dan tetap memegang teguh
keimanannya, meski ayahnya memaksanya kembali kepada kemusyrikan.
Ramlah ikut hijrah ke Habasyah bersama suaminya, Ubaidillah Bin Jahsy, meninggalkan keluarga dan kerabat demi menjaga keimanan. Namun sayang suaminya ternyata murtad dan memilih menjadi Nasrani, meski ia telah disadarkan oleh istrinya. Ummu Habibah menjalani hari-harinya dengan ujian berat; menjanda tanpa suami yang mendampingi dan jauh dari kampung halaman serta keluarga. Namun ia tetap bersabar. Disaat seperti itu, ia mendengar dalam mimpinya panggilan yang menyeru: “Wahai ummul mukminin!”
Di kemudian hari mimpinya membuahkan kenyataan yang baik. Setelah masa iddahnya ia dilamar oleh Rasulullah. Akhirnya jadilah Ummu Habibah salah seorang istri Rasulullah yang lain.
Ummu Habibah menjadikan loyalitasnya kepada Allah dan Rasul-Nya di atas keluarga dan keturunan. Ini dibuktikannya, ketika ayahnya Abu Sufyan yang masih kafir datang menemui Rasulullah, ia menggulung tikar tempat duduk Rasulullah agar tidak diduduki oleh ayahnya. Sang ayah heran, mengapa anaknya melakukan itu? Sang anak menjawab: “Ini adalah tikar Rasulullah, sedangkan enkau orang musyrik yang najis, aku tidak ingin engkau duduk di atas tikar Rasulullah”
Setelah wafatnya Rasulullah, Ummu Habibah tidak keluar dari rumahnya kecuali untuk shalat dan tidak meninggalkan Madinah kecuali untuk haji hingga ia wafat pada usia tujuh puluh tahun.
  1. Binti Jahsy
Sebelum menjadi istri Rasulullah, Zainab yang lahir dari keturunan terhormat adalah istri Zaid Bin Haritsah, anak angkat Nabi. Pada mulanya Zainab menolak dinikahkan kepada Zaid. Sebab ia berasal dari keturunan terpandang, sedangkan Zaid hanya seorang bekas budak. Namun akhirnya Zainab menerima, karena taat atas perintah Allah dan Rasul-Nya yang ingin merombak tradisi jahiliyah yang membedakan keturunan dalam perkawinan.
Dalam perjalanannya kemudian, rumah tangga Zaid dan Zainab berlangsung tidak harmonis, karena perbedaan status sosial. Akhirnya Zaid memohon kepada Rasulullah untuk menceraikan istrinya. Tetapi Rasulullah tidak mengizinkannya.
Perkawinan Zaid dan Zainab memang sudah tidak dapat diselamatkan dan berakhir dengan perceraian. Setelah Zainab dicerai, Rasulullah menikahinya atas perintah Allah untuk menjelaskan kepada kaum mukminin bahwa menikah dengan wanita bekas istri anak angkat tidak diharamkan. (Al-Ahzab : 37). Begitulah, pernikahan Rasulullah dengan Zainab yang berlangsung atas perintah Allah, tanpa wali dan saksi, hingga menjadi kebanggaan Zainab di hadapan ummahatulmukminin.
8.Shafiyah Binti Huyai
Wanita keturunan Yahudi ini berkedudukan mulia, cerdas, berparas cantik dan baik agamanya, la ditawan oleh kaum mukminin pada perang Khaibar yang mana suaminya terbunuh pada perang ini. Ketika Rasulullah berkata kepadanya: “Maukah engkau menjadi istriku?” la menjawab: “Ya Rasulullah, sungguh aku telah berangan-angan untuk itu ketika masih musyrik, maka bagaimana mungkin aku tidak mengingikannya setelah aku muslim”.
Mas kawin yang diberikan kepadanya adalah memerdekakannya dari menjadi budak tawanan. Setelah bergabung ke dalam keluarga Nabi, istri-istri beliau merasa cemburu karena kecantikannya. Bahkan dengan nada mengejek, mereka mengatakan bahwa mereka adalah wanita-wanita Ouraisy dan Arab, sedangakan Shafiyah adalah wanita asing. Shafiyah wafat pada usia 50 tahun.
9. Juwairiyah Binti Al-Harits
Juwairiyah, itulah nama yang diberikan Rasulullah setelah beliau menikahinya. Sebelumnya ia bernama Burrah. Rasulul­lah mengawininya, karena rasa iba melihat seorang wanita yang sebelumnya terpandang di kaumnya, kini menjadi budak tawanan perang. Akhirnya, beliau memerdekakannya lalu menikahinya. Aisyah berkata: “Juwairiyah adalah seorang wanita yang manis, tidak ada seorangpun yang memandangnya, melainkan akan jatuh hati kepadanya. Ketika aku melihat dari pintu rumahku, kedatangannya menemui Rasulullah untuk meminta kepada beliau memerdekakan dirinya, sungguh aku merasa cemburu, karena beliau pasti melihat pada diri Juwairiyah seperti yang aku lihat”
Pernikahan Juwairiyah dengan Rasulullah membawa berkah bagi kaumnya. Ketika orang-orang mendengar berita pernikahan ini, semua tawanan dari Bani Mushthaliq dibebaskan dan mereka masuk Islam.
Juwairiyah seorang wanita yang kuat keimanannya, terbukti ketika ayahnya menyuruhnya memilih antara dirinya dengan Rasulullah, ia lebih memilih Allah dan Rasul-Nya. Juwairiyah wafat pada tahun 50 Hijriyah.
10. Maimunah Binti Harits
Maimunah telah lama mendengar dakwah Islam dan ingin sekali memeluk agama ini. Namun cita-citanya baru terwujud setelah ia menyaksikan kedatangan Rasulullah bersama kaum muslimin ke kota Mekah dengan penuh wibawa dan keagungan. Peristiwa ini terjadi satu tahun setelah perjanjian Hudaibiyah. Maimunah bukan saja ingin memeluk Islam, tetapi lebih dari itu, ia ingin menjadi salah seorang istri Rasulullah, agar kelak ia bisa meraih kemulian dari rumah tangga beliau. Akhirnya ia sampaikan keinginannya ini kepada saudara kandungnya, Ummu Fadhl, istri Abbas yang telah memeluk Islam lebih dahulu bersama suaminya. Ummu Fadhl menyampaikan hal ini kepada suaminya, lalu suaminya mendatangi Rasulullah agar beliau mau menerima Maimunah. Rasulullahpun menerimanya dan memberikan mas kawin sebesar 400 dirham.
Karena kaum muslimin hanya diizinkan tiga hari tinggal di Mekah oleh orang-orang Ouraisy, maka mereka diminta keluar setelah habis masanya. Nabi meminta kepada mereka untuk mengizinkanya melangsungkan walimatul’ursy di Mekah, tetapi mereka menolaknya. Akhirnya Rasulullah melangsungkan walimahnya di sebuah tempat bernama “Sarfan” berjarak 10 mil dari Mekah.
Begitulah cita-cita Maimunah menjadi ummahatulmukminin, istri yang setia, taat dan ikhlas terwujud. Beliau berwasiat agar kelak jika wafat, dimakamkan di tempat dilangsungkannya walimah dirinya dengan Rasulullah sebagai bukti kesetiannya kepada suaminya.
 sumber : mentarimu.com