Ustadz Fahmi Salim : Jangan Paksa Pegawai Muslim Pakai Atribut Natal

Sebentar lagi akan Natal. Banyak perusahaan yang ikut menyemarakkan acara tersebut. Toleransi bukan berarti kita bisa memaksakan sesuatu pada orang lain, meski itu dianggap hal remeh. Salah satunya adalah penggunaan atribut perayaan agama tertentu pada pemeluk agama lain. WAKIL Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Fahmi Salim, berpendapat bahwa menjelang natal nanti, pengusaha dan pengelola pusat perbelanjaan tidak boleh memaksa karyawan yang muslim untuk mengenakan atribut Natal.

“Non Muslim harus toleran dan menghormati keyakinan umat Islam karena tidak merayakan Natal,” ujar anggota MTT PP Muhammadiyah tersebut.

Karena kejadian ini sudah berlarut-larut, Fahmi menghimbau agar elemen masyarakat seperti ormas dan LSM Islam meminta fatwa kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI), terkait perkara ini.

“Apa saja fatwa penjelasan terkait fatwa haram Natal bersama tahun 80-an itu, apakah memakai aksesoris termasuk merayakan, tasyabbuh bil kuffar, atau bagaimana,” ungkapnya.

Permintaan penjelasan fatwa kepada MUI, hemat Fahmi, akan mencerahkan masyarakat, sehingga umat tidak lagi terombang-ambing  dalam keresahan.(sp/mch/ia)