Urgensi Majelis Pendidikan Kader dalam Perkaderan Muhammadiyah


Oleh IMMawan Rahman Putra[1]



Muhammadiyah
telah berusia lebih dari 100 tahun. Banyak karya dan peran besar yang telah
dimainkannya. Darinya juga telah lahir tokoh-tokoh besar yang mengubah bangsa
bahkan dunia. Peran-peran ini mendapat sanjungan riuh rendah dari penjuru tanah
air hingga dunia. Muhammadiyah dianggap telah berhasil menjadi organisasi besar
yang tiada duanya. Asetnya melimpah. Cabang dan ranting telah berdiri di hampir
seluruh benua di dunia. Muhammadiyah juga telah menjadi pusat studi berbagai
ilmuwan barat maupun timur. Dimana ketahanannya sebagai organisasi Islam
menjadi kajian yang menarik untuk ditelaah secara mendalam.
Penghargaan
yang diterima silih berganti ini perlu diapresiasi. Karena memang tak mudah
untuk mewujudkannya. Banyak halangan dan rintangan yang telah dilewati selama
seabad ini. Muhammadiyah berhak diperhitungkan sebagai organisasi yang banyak “makan
garam” dan berperan besar terhadap bangsa Indonesia. Bukan untuk riya, tetapi untuk ditarik hikmah dari
prosesnya.
Kukuh
dan besarnya pencapaian Muhammadiyah ini tak bisa dilepaskan dari sistem
perkaderannya yang telah tumbuh dan berkembang pesat. Bagaimana kemudian
Muhammadiyah telah menelurkan ortom-ortom yang senantiasa membina dan
meng(k)ader anggotanya. Membina dengan ketulusan jiwa raga. Untuk membentuk
kader-kader yang kuat dan tangguh. Yang mencerminkan cita-cita Muhammadiyah.
Kader-kader
hebat pada fase awal Muhammadiyah menjadi pondasi yang kukuh. Yang telah
meletakkan sendi-sendi yang kuat atas pergerakan Muhammadiyah. Kader-kader ini
tentunya tak lahir begitu saja, tetapi diproses melalui kerja-kerja perkaderan
yang penuh rasa ikhlas dan kesabaran. KH. Ahmad Dahlan punya peran besar
disini. Yang dengan segenap jiwa dan raganya membina dan mendidik kader-kader
muda. Hingga mereka menjadi penerus perjuangan yang luar biasa. Perlu diacungi
jempol atas metode dan strategi perkaderan yang beliau gunakan.
Sebagai
organisasi pergerakan sekaligus organisasi kader, Muhammadiyah mempunyai peran
besar atas penyiapan-penyiapan kader hebat persyarikatan, umat dan bangsa.
Muhammadiyah dituntut untuk terus melakukan evaluasi dan pengembangan atas
sistem perkaderan yang ada. Salah satu majelis yang mengurusi persoalan ini
adalah majelis pendidikan kader (MPK).
Terdapat tiga tugas MPK yang saya anggap
penting dari enam tugas yang dimilikinya, yaitu: Pertama, meningkatkan kualitas perkaderan dalam segala aspek,
meliputi materi, pengelolaan, metode, strategi, dan orientasi perkaderan agar lebih
relevan dan kompatibel dengan kepentingan dan kebutuhan para kader. Kedua, meningkatkan kompetensi kader
yang meliputi kompetensi akademis dan intelektual, kompetensi keberagamaan, dan
kompetensi sosial-kemanusiaan guna menghadapi tantangan organisasi masa depan. Ketiga, melaksanakan transformasi kader
secara terarah dan kontinyu guna memberi peluang bagi kader dalam
mengaktualisasikan potensi dan kompetensinya di Muhammadiyah, serta memperluas
akses ke berbagai bidang dan profesi di luar Persyarikatan.[1]
Ketiga tugas ini merupakan tugas-tugas yang
amat vital bagi saya. MPK dengan segala problematikanya dituntut untuk
menyelesaikan tugas yang tidak ringan. Namun sayangnya, keberadaan MPK mulai
tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Keberadaan ortom membuat MPK begitu
terlena hingga memberikan tugas meng(k)ader pada masing-masing bidang kader di
tiap ortom. Beberapa ortom ditingkatan daerah maupun wilayah ada yang berada
pada posisi mapan. Namun mayoritas ada di ujung tanduk. Salah-salah, bisa
pecah.
Betapa sedih kemudian ketika berkunjung ke
beberapa daerah di Kalimantan. Pengurus-pengurus ortom kemudian bercerita
betapa PDM tidak melakukan proses pembinaan secara non materil. Padahal
pembinaan ini yang kemudian jauh lebih penting dari pembinaan materil. Betapa
kemudian jika ditanya siapa pengurus MPK PDM maupun PWM para pengurus ortom
justru tak mengenalinya. Pada titik ini, peran-peran Muhammadiyah sebagai
organisasi kader mulai tergerus. Tak jarang kemudian ditemukan. Kader-kader
hebat yang lahir dari ortom terusir dari Muhammadiyah. Dan justru berkarir
lebih cemerlang di luar Muhammadiyah. Muhammadiyah malah menafikkan keberadaan
kader-kader potensial yang lahir dari ortom. Yang lahir tanpa sentuhan MPK PDM
maupun PWM. Maka sempat terpikir dibenak saya. Masihkah kita membutuhkan
Majelis Pendidikan Kader?!
Samarinda, 16 Desember 2014

[1] Kader Muhammadiyah Kalimantan Timur sekaligus direktur Pena Merah Institute (Lembaga Pengembangan Intelektual Kader DPD IMM KALTIM-RA)
[1] Majelis di Muhammadiyah diakses pada hari Senin, 15 Desember 2014 dari
http://www.muhammadiyah.or.id/content-46-det-majelis.html